Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
80


__ADS_3

Seusai makan siang, Malik dan yang lainnya kembali ke kantor. Namun tidak dengan Feli, entah gadis itu akan pergi kemana. Feli hanya pamit pada ayahnya tanpa memberitahu tujuannya.


Sedari tadi, Angel terus memperhatikan Malik. Malik tidak suka akan hal itu. Ia merasa risih. Sedangkan Jonas, pria paruh baya itu menyadari bahwa Angel tengah memperhatikan Malik. Ia hanya menggelengkan kepalanya, ia sudah tidak aneh dengan Angel.


Di kantor.


Malik cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Sebentar lagi jam kantor akan usai, ia tak ingin terlambat menjemput istrinya. Setelah beberapa menit kemudian, Malik selesai dengan pekerjaannya. Pekerjaan hari ini cukup menguras otak dan tenaganya. Bagaimana tidak, Jonas memberikan pekerjaan sangat banyak pada Malik.


Dan sekarang, Malik siap-siap akan pulang.


Tok tok tok.


Malik melihat ke arah pintu.


"Masuk," kata Malik.


Ia melihat Jonas datang ke ruangannya. Ada apa pria itu datang ke ruangan Malik? Bukankah jam kantor sudah usai?


"Hari ini lembur, ya?" ujar Jonas.


Duh, bagaimana ini? Malik harus menjemput istrinya. Bisa gawat kalau ia tidak menjemputnya, namun Malik lebih memilih istrinya dari pada harus lembur. Biar disebut karyawan yang membangkang juga, ia tak peduli.


"Maaf, Uncle. Untuk saat ini aku belum bisa," sesal Malik.


Jonas menghela napas, ia sedikit kecewa. Tapi, ia tak bisa memaksa. Karena lembur memang ada aturan, bisa tidaknya tergantung karyawan. Jonas sedikit mengerti.


"Besok saja, Uncle lemburnya. Aku usahakan besok lembur," janji Malik.


"Hmm, ya sudah tidak apa-apa." Bukan masalah pekerjaan memang, ia hanya meminta Malik untuk menemaninya saja di kantor. Pria paruh baya itu sedikit ada masalah dengan istrinya. Ia hanya butuh hiburan.


"Kalau begitu aku permisi pulang sekarang." Malik langsung pergi, ia melihat jam di tangan. Waktunya begitu mepet. Ponsel Malik berdering, ia semakin panik. Istrinya pasti sudah menunggunya.


Malik segera melajukan mobilnya, membelah jalanan yang mulai macet karena waktunya para karyawan pulang. Dengan gesit, Malik mencari cela agar ia bisa terhindar dari macet. Dan akirnya, Malik sampai di tempat kerja Aleta. Malik melihat ke arah istrinya dari dalam mobil.


Istrinya sudah berdiri di depan kantor kejaksaan Amerika. Wanita itu terlihat kesal, kesal menunggu suami yang tak kunjung tiba.


Malik pun turun dari mobil dan menghampiri istrinya. Aleta belum tahu kalau Malik sudah sampai. Malik datang dari arah belakang.


Dan tiba-tiba ... Sebuah tangan melingkar di pinggang Aleta. Sontak membuat Aleta terkejut, hampir saja, Aleta memukulnya dengan tas miliknya. Namun keburu Malik berteriak.


"Ini, aku," kata Malik.

__ADS_1


"Nyebelin." Akhirnya Aleta memukul suaminya juga, namun dengan pelan. "Kemana saja?" Aleta begitu kesal.


"Maaf, jalan macet."


Aleta tak menjawab, bumil itu melengos meninggalkan Malik. Dan Malik pun mengejarnya.


"Kamu marah? Maafin aku." Malik terus mengekor dari belakang.


Aleta mempercepat langkahnya, ia ingin segera pulang. Aleta langsung menuju parkiran, dan langsung masuk ke dalam mobil. Malik pun langsung menyusulnya.


Sudah ada di dalam mobil. Malik meraih tangan istrinya.


"Jangan ngambek terus, apa tidak cape? Kasian dia." Malik menyentuh perut Aleta yang masih rata.


Aleta sebenarnya bukan marah, wanita itu tengah lapar. Jadi bawaannya emosi jika perutnya dalam keadaan kosong.


"Cepat kita pulang!" pinta Aleta.


Malik pun langsung menyalakan mesin mobilnya setelah Aleta miminta pulang. Sesekali Malik melirik istrinya.


"Fokus saja nyetirnya, gak usah lirik-lirik! Aku tidak akan kemana-mana," cetus Aleta saat ia tahu Malik selalu mencuri pandang padanya.


"Kenapa senyum-senyum? Apa ada yang lucu!"


Glek.


Malik menelan salivanya, kenapa jadi serba salah begini? Pikir Malik. Tak ingin kena omel lagi dari istrinya, Malik fokus saja pada kendaraannya. Setelah menempuh empat puluh lima menit, akhirnya mereka pun sampai di gedung apartemen mereka tinggal.


Malik turun lebih dulu dari mobil, ia membuka pintu untuk istrinya. Ia kira Aleta marah padanya, namun ternyata tidak. Aleta malah langsung menggelayut manja di tangannya setelah turun dari mobil.


"Kamu gak marah 'kan?"


Bugh


Bukannya menjawab, Aleta malah memberi pukulan ringan di tangan suaminya. Malik yang tahu akan arti pukulan itu, ia langsung saja tersenyum.


Dan mereka sudah sampai di depan pintu apartemen, Aleta membuka kunci dan lebih dulu masuk setelah pintu terbuka. Sedangkan Malik, disaat ia akan masuk ke dalam, Malik melihat sebuah kotak di bawah dekat pintu. Dan ia pun langsung mengambilnya.


"Apa ini?" Malik membawa kotak itu ke dalam. Sontak membuat Aleta langsung menyuruh Malik membuangnya.


"Buang kotak itu, jangan bawa masuk!" Aleta nampak ketakutan saat melihat kotak itu.

__ADS_1


"Ada apa dengan kotak ini?" tanya Malik. "Ini hanya sebuah kotak," kata Malik dengan enteng. Karena penasaran, Malik membukanya. Betapa terkejutnya ia setelah melihat isinys. Ia pun melihat ke arah istrinya. Aleta begitu ketakutan.


Buru-buru Malik membuangnya ke tong sampah yang ada di luar. Malik kembali masuk, ia melihat istrinya sudah tergeletak di lantai. Malik panik, ada apa dengan istrinya? Malik langsung membawa Aleta ke kamar, dan setelah itu. ia mencari kontak di ponsel Aleta, siapa tahu ada nomor dokter di sana.


Nomor itu pun ada di ponsel Atela, cepat-cepat Malik menghubunginya, dan menyuruhnya untuk segera datang. Tak lama kemudian, dokternya pun datang. Dokter itu langsung memeriksa Aleta, selesai memeriksanya, Malik langsung menanyakan keadaan istrinya.


"Gimana, Dok?" Malik masih terlihat panik, ia takut terjadi apa-apa pada istri dan calon anaknya.


"Nyonya Aleta sedikit shock. Kalau bisa jangan ada yang membuatnya tertekan, Nyonya Aleta harus selalu happy," jelas Dokter yang bernama Kharisa.


"Apa kotak tadi penyebabnya?" Malik sibuk dengan pemikirannya. Setelah itu, ia melihat ke arah Aleta, wanita itu pun tersadar. Dengan cepat Malik langsung menghampirinya.


"Kamu tidak apa-apa 'kan?" Malik begitu khawatir.


"Ini obat yang harus Anda tebus." Dokter Kharisa memeberikan resep obat pada Malik dan Malik menerimanya.


"Terima kasih, Dok."


"Dijaga istrinya, jangan sampai stres. Selalau happy ya, Nyonya," ucap Dokter itu pada Aleta. Aleta tersenyum tipis, ia masih pusing.


Dokter Kharisa pun pamit.


"Aku antar Dokter dulu ke depan," kata Malik pada Aleta, Aleta mengangguk mengiyakan.


Setelah mengantar dokter, Malik kembali menemui istrinya. Inginnya ia menanyakan tentang kotak itu pada istrinya, namun ia urungkan niatnya. Ingat perkataan dokter, Aleta tidak boleh banyak pikiran.


Sebisa mungkin, Malik menghiburnya dan tidak akan membahas masalah itu terkecuali istrinya sendiri yang membahasnya.


"Aku laper," ujar Aleta.


"Mau makan apa? Aku buatkan sekarang."


"Nasi goreng saja."


"Ya sudah, tunggu di sini."


"Ikut! Gak mau sendirian di sini, aku takut."


Malik pun mengajak istrinya, dengan cara menggendongnya. Malik mendudukan Atela di kursi meja makan, sementara ia, ia langsung membuat nasi goreng spesial untuk istrinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2