Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
19


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju Bandara. Attar menghubungi seseorang.


"Saya mau kamu mengawasinya, bila perlu dua puluh empat jam," kata Attar pada seseorang di sebrang sana. Setelah itu, ia pun kembali meletakkan ponselnya di tempat semula.


Senyumnya yang selalu terulas di bibirnya, ia teringat akan perlakuan manis istrinya. Tentu, ia tak percaya begitu saja. Ia menyuruh seseorang untuk mengawasi gerak gerik istrinya.


Attar pun sampai di tempat tujuannya. Yaitu, Bandara. Setelah melewati pemeriksan, Attar segera bergabung dengan dokter yang lain. Yang lebih dulu sudah ada di dalam pesawat.


"Jangan mentang-mentang masih pengantin baru, terus nyuruh kita menunggu," cetus dokter yang sangat dekat dengannya.


Walau Attar pimpinan mereka, tapi jika di luar rumah sakit, Mereka seperti sahabat pada umumnya. Attar tak menjawab, ia langsung saja mendudukkan tubuhnya di kursi pesawat itu.


Pesawat lepas landas dengan sempurna. Aleta sang adik sudah menunggu kedatangan kakak tersayangnya itu. Attar sudah lebih dulu menghubungi adiknya, mereka kini sudah bertemu. Berpelukan melepas rindu yang sudah lama tak berjumpa.


Aleta memperhatikan kakaknya tersebut dengan saksama.


"Kak, kamu terlihat kurus. Apa banyak masalah?" duga Aleta.


Akhir-akhir ini, Attar memang tak berselera makan, ditambah dengan sikap Syiera, yang membuatnya sedikit prustrasi. Syiera seperti menarik ulur perasaannya.


"Kak ..."


"Ah, iya."


"Kakak, sakit!"


Attar menggeleng kepala pelan.


"Kakak baik-baik saja. Hanya sedikit sibuk di rumah sakit." Attar mencoba menyembunyikan tentang sikap istrinya, lagi pula, Aleta belum tahu kalau ia sudah menikah.


"Ayo, Kakak sudah lelah," ajaknya untuk segera ke apartemen milik adiknya.

__ADS_1


Aleta menggelayut manja di tangan kakaknya itu. Hampir satu tahun mereka tak bertemu. Terkahir bertemu disaat Aleta libur dimasa kuliahnya.


Mereka pun sampai di tempat Aleta, Attar terus memperhatikan sekitarnya. Tak ada yang berubah di sana, Aleta orangnya memang tak terlalu suka dengan ruangan yang banyak diubah-ubah posisinya. Bahkan warna cat dindingnya pun masih sama.


"Al, apa kamu tidak bosan dengan situasi kamarmu yang masih seperti ini? Anak muda kok, seleranya monoton sih," cibir Attar.


Aleta mendengus kesal dengan cibiran kakaknya tersebut. Setiap ia mengunjunginya pasti membahas masalah tempat yang kini ditinggalinya.


"Aku tidak suka perubahan, apa lagi dengan terpaksa," cetus Aleta tak mau kalah.


Mendengar jawaban Aleta, Attar jadi teringat akan istrinya 'terpaksa! Apa dia juga terpaksa?' itulah kira-kira yang ada pikiran Attar saat ini. Attar akan memberitahukan pada Aleta bahwa ia sudah menikah, selama ini, tak pernah ada rahasia diantara mereka. Bagi Attar, Aleta segalanya.


Mungkin tidak hari ini ia mengatakannya pada adiknya itu, mengenai pernikahannya dengan keadaan yang memaksa Syiera menikah dengannya.


"Al, Kakak istirahat dulu, ya? Nanti malam, Kakak ada pertemuan dengan para Dokter," jelas Attar. Attar sangat lelah hari ini. Ia pun merebahkan tubuhnya di kasur milik adiknya.


"Ya sudah, Kakak istirahat saja. Aleta ke kampus ya, Kak? Ada pelajaran yang tak bisa ditinggal." Setelah pamit, Aleta langsung bergegas keluar dari kamarnya.


Setelah kepergian Aleta. Attar memeriksa ponselnya, ia menunggu kabar dari orang suruhannya mengenai istrinya. Namun tak kunjung ada kabar, apa memang istrinya itu tak ada aktivitas yang ia kerjakan? Sehingga orang suruhannya itu tak mendapatkan apa yang diinginkannya.


Larut dalam pemikirannya, Attar terlelap. Karena ia harus beristirahat nanti malam ada acara dan mungkin akan menguras tenaga dan pikirannya.


Sedangkan Syiera, hari ini setelah tak adanya sang suami, ia tak pergi kemana-mana. Karena ada Dania yang menemaninya di sana, sehingga Syiera tak kesepian.


"Momy? Momy, masak apa?" tanya Syiera ketika melihat ibunya sudah bergelut di dapur. Karena bi Ani belum datang, jadi Dania pun belum pulang, ia tak ingin meninggalkan putrinya itu seorang diri. Ditambah lagi rumah sebesar ini takut juga jika sendirian.


"Momy masak kesukaanmu. Oh iya, kapan pembantumu pulang dari kampung?" Dania tahu kalau asisten di rumah itu tengah pulang kampung, karena Syiera sudah mengatakannya.


"Seharusnya sih hari ini sudah ada, mungkin masih dijalan, Mom," terangnya.


Setelah selesai memasak dan menatanya di atas meja, kini yang ditunggu-tunggu sudah datang. Bi Ani baru saja tiba di rumah itu. Dania dan Syiera langsung saja mengajaknya makan bersama dengan mereka, tetapi bi Ani menolak, ia tak enak. Datang-datang langsung dijamu oleh majikannya.

__ADS_1


Dania memang tak kenal bulu, ia akan bersikap ramah pada siapa saja. Karena mereka tetap memaksa, akhirnya bi Ani pun ikut makan bersama dengan mereka.


Setelah selesai makan, dan adanya bi Ani. Dania pun pamit.


"Hati-hati di rumah, ingat pesan Momy! Jangan lagi temui Alex!" Pesan pada sang putri, ia tak ingin rumah tangga anaknya berantakan karena ada orang ketiga.


Syiera pun mengangguk patuh, ia memang berniat akan mengakhiri hubungannya dengan Alex. Cukup nama Attar, suaminya yang ada dalam hatinya.


Dania pun pergi dari mansion putrinya, dengan perasaan lega bahwa anaknya itu mulai menerima suaminya.


Karena hari sudah mulai meredup, Syiera pun berniat untuk membersihkan diri. Selasai mandi, tiba-tiba ponselnya berdering, dilihatnya di layar. Nama suaminya yang terpangpang di sana, dengan cepat ia mengangkat panggilan itu. Lewat vidio call Attar menghubunginya.


Ia tak sadar kalau dirinya belum memakai baju, hanya menggunakan handuk, dan disaat ia mengangkatnya. Attar tersenyum melihat pemandangan yang bisa mengusik gairahnya.


"baru selesai mandi?"


Syiera mengangguk, lalu ia merubahkan posisinya menjadi rebahan di kasur dengan ponsel yang terus ia arahkan tepat di wajahnya.


"Aku menghubungimu hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Oh iya, apa Bi Ani sudah datang?" Attar khawatir kalau bi Ani belum datang ia tak ingin istrinya itu sendirian di rumah.


"Sudah, Bi Ani sudah ada. Ada Momy juga tadi yang menemaniku sebelum kedatangan Bi Ani," jawab Syiera pada suaminya yang masih terlihat di layar ponselnya. " Mau kemana?" tanyanya kemudian ia melihat suaminya sudah rapi dengan pakain berwarna putih.


"Pertemuan dengan Dokter diadakan malam ini. Ya sudah, aku berangkat dulu, ya?" Attar pun mengakhiri panggilan vidio call-nya dengan istrinya setelah mendapat persetujuan dari Syiera.


Setelah panggilan terputus, ponsel Syiera kembali berbunyi. Ia pikir suaminya yang meneleponnya kembali, tanpa melihat siapa yang memanggil, ia langsung mengangkatnya.


"Apa lagi, sayang?" jawab Syiera pada panggilan itu.


"Kamu kangen ya? Sudah manggil-manggil sayang."


Syiera langsung tak menjawab lagi, setelah mendengar suara itu. Suara yang tak asing lagi baginya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2