
"Ehem."
Aleta dan Dam beringsut ketika orang itu semakin mendekat. Mereka tak menyangka kalau mereka akan ketahuan. Padahal tempat itu begitu gelap. Apa orang itu memang sengaja mengintainya sejak tadi.
Apa jangan-jangan orang itu juga melihat apa yang terjadi diantara mereka barusan? Orang itu, kini sudah ada di hadapan mereka. Aleta mendengus kesal ketika ia tahu siapa orangnya.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Malik. Ya, Malik yang memperegoki mereka. Malik tidak tahan melihat aksi mereka barusan. Hatinya terasa terbakar.
Tapi tunggu, bukankah tidak ada hubungan apa-apa diantara Aleta dan Malik. Tapi kenapa Malik cemburu? Apa pria itu benar-benar menyukai adik dari bosnya itu?
"Bukan urusanmu!" cetus Aleta. Ia tak peduli ketahuan oleh Malik. Siapa dia? Pikirnya.
"Jelas itu urusan saya. Saya disuruh untuk menjaga Anda, Nona."
Aleta mendelik tajam ke arah Malik. Berani sekali pria itu menjawabnya. Lalu, Aleta menatap ke arah Dam.
"Aku masuk dulu. Oh iya, besok aku akan kembali ke Amerika," ucap Aleta pada Dam.
Dam tidak percaya kalau Aleta akan kembali ke Amerika secepat ini. Malik pun sama terkejutnya dengan penuturan Aleta. Tapi, itu lebih baik. Dari pada di sini, itu hanya akan membuat Malik sakit hati karena cintanya secara diam pada gadis itu. Tidak bisa membiarkan Aleta lama-lama berada di sini dengan Dam, ia pun menyuruh Aleta kembali.
"Sudah malam, sebaiknya Nona masuk! Kalau tidak, saya akan laporkan pada Tuan Attar!" ancam Malik. Padahal pria itu tidak suka akan kedekatan Aleta dengan Dam.
Wanita itu pergi seraya menghentakan kakinya. Geram karena Malik sudah mengancamnya, kalau sudah begini. Aleta tak bisa membantah, ia takut kalau keluarganya sampai tahu. Apa lagi dengan ciuman barusan. Semoga saja Malik tidak ember.
Kini hanya ada Malik dan Dam di sana. Dam merasa kalau ancaman Malik hanya gertakan. Dam tidak ingin mempermasalahkan masalah ini, ia juga takut kalau sampai ibunya tahu. Akan marah besar jika Dania tahu akan hal ini.
***
Di dalam rumah.
__ADS_1
"Dad, pulang yuk? Udah malem ini," ajak Dania pada suaminya. "Mungkin Syiera dan suaminya pasti lelah dan ingin beristirahat," bisiknya kembali.
Wanita itu tidak ingin mengganggu anaknya. Apa lagi menantunya, ia rasa masih ada hari esok untuk berkunjung kembali.
"Baiklah kita pulang," jawab Darren. "Tapi, mana Dam?" Darren sejak selesai makan malam tadi, ia tak melihat anaknya. Darren beranjak, melihat ke arah ruangan lain, siapa tahu anaknya itu ada di sana. Tapi yang muncul malah Aleta. Darren pun bertanya pada gadis itu.
"Dam di mana, Al?"
Aleta menghentikan langkahnya. ia sampai terkejut, karena ia berjalan dengan wajah menunduk. Gadis itu masih kesal dengan Malik, sampai ia tak melihat ada ayahnya Dam ada dari arah berlawanan dengannya.
"Dam di luar dengan Malik," jawab Aleta. Setelah mengatakan itu Aleta permisi terlebih dulu untuk melanjutkan perjalanannya. Ia pergi ke kamarnya.
Tak lama dari situ, Dam muncul. Tiba-tiba sang ayah mengajaknya pulang ketika mereka sudah bertemu. Tapi, Dam masih ingin di sini. Apa lagi ia tahu kalau Aleta akan berangkat besok. Tidak ada lagi waktu untuknya, malam ini kesempatan Dam menghabiskan waktunya bersama Aleta.
Ingin menolak ajakan ayahnya. Tapi dengan alasan apa? Pria itu memutar otaknya untuk berpikir."Ayo, Dam. Cari akal." Lalu mata Dam melihat Malik yang sedang berjalan ke arahnya, hingga ide itu muncul seketika dalam benaknya.
"Aku masih ingin di sini, Dad. Daddy sama Momy duluan saja," kata Dam. Ketika Malik sudah mendekat, Dam pun berucap kembali. "Aku ada urusan dengan Malik. Iyakan, Malik." Dam langsung menghentikan Malik secara mendadak.
"Urusan apa?" tanya Darren.
"Biasalah, Dad. Urusan laki-laki." Dam memberi kode pada Malik, agar pria itu meyakinkan ayahnya.
"Iya, Tuan. Kami sedikit ada urusan." Akhirnya Malik ikut berbohong pada Darren.
"Ya, sudah. Daddy pulang sama Momy." Darren pun percaya saja pada anaknya. Darren kembali masuk untuk menemui istrinya. Setibanya di sana, ia langsung mengajak istrinya pulang.
"Syiera-nya mana?" tanya Darren. Mungkin pria itu akan berpamitan lebih dulu sebelum pulang.
"Syiera sudah ke kamar. Tapi aku sudah pamit, kok." Karena sudah pamit mereka langsung pulang saja. "Dam, mana?" tanya Dania kemudian.
__ADS_1
"Ada urusan dengan Malik katanya. Sudahlah biarkan saja." Darren tidak mempermasalahkan anaknya bergaul dengan siapa saja. Karena sudah begitu, Dania pun membiarkan Dam yang masih ingin di sini. Walau hatinya berkata lain, tapi ya sudahlah. Pikirnya.
Sementara Malik, pria itu berpikir kalau Dam merencanakan sesuatu. Apa pria itu masih akan mengganggu Aleta?
"Terimakasih ya, Malik. Sudah mau membantuku," ucap Dam pada Malik.
Malik tak menjawab, ia malah pergi meninggal Dam. Pria itu merasa kesal dengan Dam. Apa yang diinginkan Dam? Sementara Malik tahu kalau Dam sudah memiliki kekasih. Apa Dam akan menduakan kekasihnya dengan Aleta? Pikir Malik.
Ingin menegur dan menasehati Dam, bahwa apa yang dilakukannya akan bersifat buruk untuk kelanjutan hubungan Dam dengan kekasihnya. Walau bagaimana pun, tidak ada wanita yang mau diduan 'kan. Tapi Malik tidak bisa berbuat apa-apa. Pria itu takut dibilang kurang ajar. Sudah berani ikut campur dalam urusan majikannya. Ingat, bahwa Malik hanya pekerja di rumah ini.
Dam pun meninggalkan Malik, entah si Dam akan kemana malam ini. Karena sudah hampir larut, Malik pun pergi ke kamar yang sudah di siapkan Attar untuknya. Sesekali, Malik menginap di sini. Itu pun kalau dia mau, Attar membebaskan Malik. Asal masih kerja dan setia padanya, Attar tak mempermasalahkan Malik akan tidur di mana pun.
***
"Aleta," panggil Dam. Ternyata pria itu kembali menemui Aleta.
Aleta yang ada di dalam kamar, wanita itu mendengar ada yang memanggil namanya. Namun ia masih setia di tempatnya, takut salah dengar.
"Aleta, ini aku, Dam."
"Ngapain dia kesini?" Aleta pun beranjak dari kasur, ia membuka pintunya. Baru saja pintu itu terbuka sedikit, Dam langsung menerobos masuk.
"Dam ... Apa yang kamu lakukan?" Aleta celingak-celinguk ke arah luar kamar dari balik pintu. Takut ada yang melihat pria itu masuk ke dalam kamarnya.
Ketika Aleta sedang menutup pintu. Dam langsung memeluk tubuhnya dari belakang. Alih-alih, Aleta terkejut dengan aksi pria itu.
Aleta mencoba melepaskan tangan Dam dari pelukkan itu. Mau melupakan Dam bagaimana? Yang ada, Dam malah membuatnya semakin tak bisa melepaskannya. Bingung dengan sikap Dam. Karena Dam belum pernah menyatakan cinta padanya.
Aleta tak bisa melepaskan pelukkan Dam. Dam sangat erat memeluknya, Aleta pun memutarkan tubuhnya. Kini mereka saling berhadapan. Saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
bersambung.