
Pada akhirnya, mereka terlelap bersama. Hingga hampir satu jam mereka tidur. Tak lama Malik pun terbangun karena mendengar pintu kamarnya diketuk. Malik pun beranjak dari tempat tidur tanpa mengusik istrinya yang masih terlelap.
"Maaf, Den. Nyonya sama Tuan sudah menunggu di bawah, mereka mengajak makan malam," kata salah satu asisten di sana.
"Bilang tunggu sebentar," kata Malik. Asisten yang bernama Mira pun mengangguk, lalu undur diri.
Malik kembali masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Aleta sudah terduduk di sandaran ranjang.
"Sudah bangun?" tanya Malik.
"Hmm," jawab Aleta singkat. "Aku mau mandi, bisa tidak kamu ambilkan bajuku yang ada di dalam mobil? Sama belanjaan tadi."
"Ok." Malik langsung saja mengambilkan bajunya, dalam hatinya ia begitu senang. Tentu ia akan meminta istrinya memakai baju pilihannya tadi sewaktu di mal.
Tak lama, Malik sudah kembali ke kamar. Ia menyimpan paper bag di atas kasur, sementara Aleta, wanita itu sudah berada di dalam kamar mandi.
"Sayang? Aku tunggu di ruang makan ya?" Malik sedikit berteriak di depan pintu kamar mandi.
"Iya, tunggu saja di sana," sahut Aleta.
***
"Mana istrimu?" tanya Frita pada Malik.
"Lagi mandi, Ma. Sebentar lagi juga turun," jawab Malik.
"Untuk besok, kamu ikut Papi ke kantor. Papi akan mengenalkanmu pada karyawan sebagai direksi utama," kata Moreno
"Siap, Pi!" jawab Malik dengan semangat empat lima.
"Gitu dong, itu barunya anak, Papi," sahut Moreno lagi.
Sementara Aleta, ia baru selesai mandi. Ia melihat paper bag yang ada di atas kasur, lalu mengambil isinya. Setelah melihat isi paper bag tersebut, matanya terbelalak. Ia tak merasa membeli baju itu, Aleta pun menggelangkan kepalanya. Ini pasti perbuatan suaminya.
Ia pun menyimpan kembali baju itu, dan mengambil baju yang lain. Selesai memakai baju, ia langsung menyusul suaminya.
Tap tap tap
__ADS_1
Suara langkah kaki Aleta menjadi pusat perhatian Malik dan kedua orang tuanya. Aleta pun menghampiri ke arah meja makan, Malik berdiri, lalu menarik kursi untuk istrinya duduk.
"Mau makan sama apa, sayang?" tanya Frita kepada Aleta. "Biar Mama yang ambilkan." Wanita paruh baya itu memberikan perhatiannya pada menantunya. Aleta tersenyum ramah, ia sedikit malu karena belum terbiasa.
"Gak usah, Ma. Aku bisa sendiri," tolak Aleta dengan sopan.
"Gak apa-apa, Mama seneng kok melakukannya. Mau sama apa?" Tanpa mendengar jawaban dari Aleta Frita langsung mengambilkan nasi untuk Aleta.
"Sama ini aja, Ma." Aleta menunjuk capcai serta udang. Frita pun mengambilnya dan memberikannya pada Aleta.
"Terimakasih, Ma." Ucap Aleta seraya tersenyum.
"Kayaknya kasih sayang Mama sudah teralihkan ya sekarang?" sindir Malik.
"Jangan cemburu, dia 'kan istrimu!" cetus Frita.
"Canda, Ma."
Seketika ruang makan itu menjadi hangat kembali setelah beberapa tahun. Frita dan Moreno nampak bahagia ketika melihat Malik sedang menyuapi istrinya. Mereka jadi teringat masa mudanya.
Frita dan Moreno undur lebih dulu dari meja makan, ia membiarkan pasutri itu bermesraan di ruang makan.
"Aku sudah kenyang," tolak Aleta ketika suaminya akan kembali menyuapinya. Malik meletakkan kembali sendok di atas piring. Lalu, mengambilkan air minum untuk istrinya. Selesai dari situ, Aleta beranjak.
"Mau kemana? Aku saja belum selesai makan." Aleta pun kembali terduduk, ia menemani suaminya sampai selesai makan. Ketika suaminya sedang mengunyah, Aleta menanyakan soal baju yang ada di paper bag. Malik langsung tersedak, Aleta mengambilkan minum untuknya.
"Pelan-pelan!" kata Aleta pada suaminya.
"Kamu tidak suka ya dengan bajunya?"
"Bukan tidak suka, aku bisa masuk angin jika pakai baju itu. Transparan banget bajunya, seperti gak pakai baju! Mending sekalian saja gak usah pakai."
"Ish ... Biar **** sedikit. Manjain aku kali-kali kenapa?" Malik suka menggoda istrinya, karena Aleta selalu malu-malu. Tapi jika sudah berperang, ia selalu mengambil alih. Keduanya pun terkekeh, tertawa bersama.
"Ka kamar, yuk?" ajak Malik.
"Ngapain buru-buru? Aku mau menikmati suasana di luar," jawab Aleta.
__ADS_1
"Udah malem loh ini. Aku gak mau kamu masuk angin."
Di dalam juga masuk angin kalau lama-lama telanjang, Aleta sudah tau akal bulus suaminya. Mau ngapain ke kamar kalau bukan mengajaknya tempur, pikir Aleta.
"Ayolah ..." Aleta menarik paksa tangan suaminya. Ia ingin menikmati cahaya rembulan di luar sana. Mau tak mau, Malik pun menuruti keinginan istrinya.
Mereka sudah berada di taman, duduk berduaan. Aleta sangat menikmati itu. Pasalnya, ia bisa menikmati indahnya pacaran bersama suaminya.
"Anggap kita sedang pacaran," kata Aleta sambil menyenderkan kepalanya di bahu Malik. Malik mengusap lembut pucuk rambut istrinya.
"Iya, kita 'kan memang gak pacaran. Langsung nikah lebih nikmat." Aleta mencubit paha Malik. "Kenapa? Nikah emang lebih nikmat dari pacaran 'kan? Saking nikmatnya dia sudah tumbuh di rahimmu."
"Mesum mulu," cetus Aleta. Tapi ia pun tersenyum, karena itu memang benar adanya.
Di tempat lain.
"Tumben sudah tidur," kata Dam. Ia melihat istrinya sudah meringkuk di atas kasur, sedangkan Dam, pria itu baru pulang dari kantor. Sebelum pulang, ia mempersiapkan bahan untuk presentasi besok. Rencananya ia akan menggabungkan perusahaannya dengan perusahaan yang cukup dikenal dari kalangan atas.
Sebelum Dam menyusul istrinya, ia membersihkan tubuhnya terlebih dulu. Seusai mandi, ia naik ke atas ranjang. Menghampiri istrinya, ia masih menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Al," bisik Dam. Hembusan napas Dam tercium oleh Alea, napas segar dari pasta gigi sangat menguar di penciumannya.
Alea pun merubahkan posisinya menjadi terlentang, Dam langsung saja menindih istrinya. Tanpa aba-aba, Dam menyesap bibir ranum istrinya. Dan Alea pun membalasnya.
Ciuman itu berubah menjadi panas. Dam sudah di sulut gairah, pasalnya, ia sudah lama tidak menjenguk surga dunia. Alea menikmati sentuhan jari jemari suaminya. Ia pun melenguh ketika Dam berhasil meny*sap gunung kembarnya.
Tangan yang sudah tidak bisa lagi terkontrol, jari-jarinya sudah menari-nari di hutan rimba. Alea semakin tak bisa menahan kendalinya. Ia langsung saja menarik handuk yang digunakan suaminya.
Sedikit mer*m*s kepemilikan suaminya. Dam menikmati itu, hingga lambat laun ia memulai aksinya. Bagai menunggang kuda yang sudah lihai di arena balap, Dam mempercepat pergerakannya. Mereka menikmati surga dunia yang kesekian kalinya.
Dam tidak patah arang, pria itu menginginkan buah cintanya hadir di dalam hidupnya. Hanya saja ia belum tahu kapan waktu itu datang. Tubuh keduanya bergetar, Dam sudah menyemburkan bisanya di dalam rahim istrinya. Ia pun langsung melepaskan diri.
"Cepatlah tumbuh," ucap Dam tepat di perut istrinya bahkan sambil menciumnya
Mendengar kata itu, Alea menitikkan air matanya. Wanita itu merasa berdosa pada suaminya.
bersambung
__ADS_1