Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
91


__ADS_3

Yang lebih mengejutkan lagi, ketika tamu itu berdiri dan melihat ke arah Malik. Ia terlihat sangat shock.


"Maaf membuat kalian menunggu," ujar Moreno pada kedua tamunya. "Silahkan duduk," ucap Moreno lagi. Dan mereka berempat duduk di kursi masing-masing.


"Ini hasil presentasi kami," ucap tamu itu yang tak lain adalah Darren dan Dam. Darren berbisik pada Dam. "Bukankah itu Malik anak buahnya Attar? Kenapa dia ada di sini?" Dam menggelangkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kami akan pelajari dulu," kata Moreno. "Oh iya, kenalkan, ini Malik. Dia pemimpin baru di sini," jelas Moreno.


Darren dan Dam terperanga, mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.


"Bukankah dia bekerja dengan Attar? Yang sekarang jadi adik iparnya," kata Darren.


"Kalian kenal dengan Dokter Attar?" tanya Moreno, sedangkan Malik dan Dam, mereka masih terdiam. Lebih tepatnya Dam masih tak menyangka bahwa Malik orang kaya.


"Tentu, dia menantuku," jawab Darren.


"Waahh ... Dunia sempit ya?" ujar Moreno. "Kita bisa bekerja sama dengan baik kalau begini," sahut Moreno lagi.


"Tentu," ucap Darren.


"Berarti Dam dan Malik pasti sudah saling mengenalkan? Papi rasa kamu bisa bekerja sama dengan Dam," kata Moreno pada Malik.


Malik dan Dam saling tatap. Malik bukan tak ingin, ia tak kurang begitu suka dengan Dam. Orang itu pernah menjadi dari bagian hidup istrinya.


"Malik bukan hanya orang kaya, ternyata dia anak dari Tuan Moreno," batin Dam. Hidup Malik lebih unggul darinya, apa lagi dengan masalah rumah tangganya. Ada sedikit rasa iri dari hati Dam. Tapi ia mencoba berlapang dada, semoga ia dan Alea segera menyusul mendapatkan buah cintanya.


"Kalian pelajari apa yang akan direncanakan oleh Tuan Darren, Papi percaya padamu," ucap Moreno pada Malik. Karena urusan perusahaan ia percayakan pada anaknya sekarang. Berbagai macam produk yang digeluti oleh Moreno, dari mulai prodak kecantikan sampai alat rumah tangga, semua ia coba. Dan sekarang begelut di bidang properti. Moreno pengusaha yang sangat sukses.


Darren dan Dam, mereka merasa sangat beruntung bisa bekerja sama dengan Moreno. Apa lagi sekarang, mereka ada keterikatan menjadi sebuah keluarga.


"Ok, Malik. Papi serahkan padamu, Papi sekarang ada urusan," ucapnya pada Malik. "Tuan Darren, saya permisi dulu. Malik sudah paham akan perusahaan, saya rasa dia bisa mengatasinya tanpa adanya saya." Setelah mengatakan itu Moreno undur diri. Begitu juga dengan Darren. Ia serahkan semuanya pada Dam. Darren pun berlalu.

__ADS_1


Kini hanya ada Malik dan Dam. Dam merasa canggung pada Malik, karena ternyata Malik bukan orang biasa. Beda dengan Malik yang ia kenal sebelum ia tahu Malik yang sebenarnya.


"Bagaimana, Tuan Malik? Apa Anda setuju dengan produk yang akan dikembang di perusahaan Anda?" tanya Dam mengenai prodak yang ia tawarkan. Perusahaan Dam memakai label perusahaan Malik, agar prodaknya laris manis. Seperti prodak hasil keluaran perusahaan Malik. Keuntungannya akan dibagi dua dengan perusahaan Malik.


"Boleh dicoba. Saya rasa prodak ini akan berkembang pesat." Prodak yang akan diluncurkan adalah baju dalam perempuan. Karena sebagian orang membutuhkannya, apa lagi dengan pasangan suami istri. Tentu itu akan menjadi pemicu keharmonisan di dalam rumah tangga.


"Selamat bergabung dengan perusahaan kami." Malik mengulurkan tangannya ke arah Dam. Mereka pun saling berjabat tangan. "Kata formal hanya berlaku jika kita sedang bekerja. Kalau di luar, kita pakai bahasa seperti biasa," ucap Malik. Dam pun mengangguk. Karena semuanya sudah sepakat, Dam pun undur diri.


Hari ini cukup melelahkan bagi Malik. Semoga kerja sama dengan perusahaan Dam berjalan dengan lancar. Karena hari mulai sore, Malik segera menyelesaikan pekerjaan. Walau masih banyak ia akan menyelesaikannya, karena besok ia izin dari kantor karena akan menemani sang istri.


Beberapa jam kemudian, akhirnya Malik selesai. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, sambil melirik jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul 20.45, tak ingin kemalaman, ia pulang sekarang juga.


Disaat sedang melewati lorong perusahaan, ia berpapasan dengan Jonas.


"Sedang apa Uncle di sini?" tanya Malik.


"Maaf, Malik. Uncle memang sengaja datang ke sini ingin menemuimu. Ada yang perlu Uncle bicarakan padamu."


"Uncle minta maaf soal kejadian kemarin, Uncle tidak bermaksud_," ucapnya terputus karena Malik langsung mendahuluinya.


"Sudahlah, Uncle. Aku tidak mau membahas masalah itu. Aku rasa itu hanya kesalahpahaman." Malik tak ingin membesarkan masalah, yang penting rumah tangganya baik-baik saja. Setelah itu, mereka berpisah.


Malik lebih dulu undur diri, ia ingin cepat-cepat bertemu istri tercintanya. Tak ada yang lain selain istrinya yang ia proiritaskan sekarang. Malik menuju parkiran, setelah sampai cepat-cepat ia masuk ke dalam mobil dan langsung menyalakan mesin mobilnya.


Mobil itu langsung melaju ke kediamannya. Setelah hampir setengh jam, kini mobil itu terparkir dengan sempurna di garasi. Malik turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Tepat pukul sembilan malam ia sampai.


Niatnya ingin langsung ke kamar, namun ia mendengar suara berisik di dapur. Malik pun melihatnya terlebih dulu, siapa tahu itu istrinya. Dan ternyata benar, Aleta tengah mengobrol bersama Mira. Mira melihat kedatangan majikannya, tak lama Mira pun pamit pada Aleta.


"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Malik.


Aleta menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Malik mendekat pria itu meraih pinggang istrinya, bahkan keningnya sudah saling menempel. Tatapan mereka beradu, rasa rindu begitu melanda di diri Malik.

__ADS_1


Ketika Malik akan mencium istrinya, Aleta memalingkan wajahnya. "Kenapa? Aku bau ya?" tanya Malik. Aleta menggeleng, karena ia melihat ibu mertuanya sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Ehem." Deheman Frita terdengar di pendengaran Malik.


"Mama." Malik menggaruk tengkuknya, ia tak enak hati jadinya. Apa lagi dengan Aleta, wajahnya sudah bersemu merah, bumil itu jadi salah tingkah.


"Mandi dulu, biasakan seperti itu! Istrimu lagi hamil. Jangan bawa virus," celetuk Frita.


"Iya, Ma. Bentar! Aku mau buatkan susu dulu untuk istriku." Malik sudah cape seharian di kantor. Namun, ia masih sempat memperhatikan istrinya.


"Kamu mandi saja, biar aku buat sendir," kata Aleta.


"No ... Aku mau, aku yang buat!" Kalau sudah begini, Aleta tak bisa melarangnya.


Frita jadi ingat tingkah suaminya, Moreno juga seperti itu pas waktu ia sedang ngidam. Dan sekarang turun ke anaknya. Keluarga Moreno begitu harmonis, jadi Frita tak heran jika Malik begitu menyayangi istrinya.


Malik pun selesai membuat susu, dan langsung memberikannya pada Aleta. Setelah itu Malik langsung bergegas untuk membersihkan diri. Kini hanya ada Aleta dan ibu mertuanya, mereka sedikit berbincang, duduk di kursi meja makan. Hingga Malik kembali datang, Aleta dan Frita masih berada di sana.


Malik melihat istrinya begitu dengan ibunya, sesekali Aleta tertawa karena ibu mertuanya sedang menceritakan masa kecil Malik.


"Mama jangan bilang gitu dong, aku 'kan jadi malu," sahut Malik yang baru saja tiba.


Aleta menertawakan suaminya. "Kamu cengeng ya ternyata." Aleta semakin terkekeh melihat suaminya yang malu-malu.


"Jangan percaya, sayang. Mana ada aku gagah begini, cengeng." Malik tidak terima akan hal itu. Mereka bertiga jadi tertawa bersama.


"Papi belum pulang, Ma?" tanya Malik.


"Belum, katanya masih di jalan." Dan Malik pun hanya manggut-manggut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2