Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
53


__ADS_3

Senyum itu muncul di bibir Syiera.


"Apa aku mimpi?" Syiera pun berhenti meringis, wanita itu mengabaikan rasa nyeri yang menjalar sampai ke ubun-ubun. Melihat sang suami tengah memandang ke arahnya. Sudah beberapa bulan, ia tak melihat mata itu. Senyum itu membuat Syiera selalu merindukannya.


Suster mendorong branker lebih dekat ke arah istrinya.


"Sayang ... Ini benar kamu 'kan?" Syiera masih tak percaya. Ia takut kalau ini hanya mimpi, atau mungkin ia sudah mati. Pikirnya.


Attar meraih tangan istrinya, lalu mengecupnya. Seketika, Syiera langsung tersenyum lebar. Ini bukan mimpi, ini nyata.


Setelah beberapa menit saling memandang, Syiera kembali meringis, rasa sakit itu semakin kuat dan kuat. Attar tak tega melihat istrinya kesakitan. Tapi ia bisa apa? Jangankan untuk membantu, buat ia berdiri di atas kakinya saja belum bisa.


"Honey ... Kamu pasti bisa! Aku ada di sini bersamamu." Attar kembali menciumi tangan istrinya. "Dok, apa perlu tindakan?" tanya Attar.


Dokter menggeleng. "Tidak. Tidak perlu tindakan, Nyonya Syiere bisa melahirkan dengan normal," jawab dokter.


"Yang kuat, sayang." Attar menyemangati istrinya.


"Aku gak mau disesar. Aku mau melahirkan dengan normal," kata Syiera.


"Iya kalau mau normal, Nyonya harus berjuang. Ikuti arahan dari Dokter," kata suster yang ada di sebelahnya.


Dokter pun mulai memberikan arahan pada Syiera, Syiera terus mengikuti arahan dokter itu.


"Tarik napas! Lalu buang. Pada hitungan ke tiga. Nyonya dorong sekuat tenaga, ya?" pinta dokter.


Syiera pun mengangguk, ia akan mencobanya. Hitungan ke tiga Syiera mulai mengejan, mendorong sekuat mungkin.


"Ayo, ayo cepat. Sedikit lagi, Nyonya. Kepalanya sudah kelihatan." Dokter itu gemas sendiri.


Syiera yang sudah tidak kuat, melepaskan mengejannya. Wanita itu kembali mengambil ancang-ancang. Kali ini ia harus berhasil.


"1, 2, 3." Dokter menghitung memberi aba-aba pada wanita yang hendak melahirkan itu. Tak lama, suaran bayi pun terdengar begitu nyaring. Suasana menjadi gaduh karena tangisan bayi itu begitu kencang.


Attar tersenyum lebar, sebelum ia menoleh ke arah istrinya. Setelah itu, baru ia melihat wajah istrinya. Attar terkejut melihat istrinya memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Dok, istri saya kenapa?" tanya Attar, pria mulai ketakutkan.


"Tidak apa-apa, hanya pingsan," jelas dokter.


Attar pun bernapas lega. Suster yang mengurus bayi ada di sebalah kanan dekat Syiera. Sementara dokter wanita itu tengah melanjutkan untuk mengeluarkan yang terakhirnya. Syiera mulai mengerjapkan kedua matanya, perlahan mata itu terbuka.


"Selamat ya, Tuan, Nyonya. Bayi Anda laki-laki," kata suster sambil meletakkan bayi itu di dada Syiera. Syiera mengusap lembut kepala mungil itu.


"Tampan sekali anak Mama." Syiera menoleh ke arah suaminya, ia tak menyangka bahwa suaminya tengah menangis, tangis bahagia tentunya. Sekarang ia sudah menjadi seorang ayah.


"Terimakasih sudah melahirkan Malaikat mungil ini," kata Attar. Pria itu tengah bangkit dari branker, dengan sekuat tenaga yang ada, akhirnya ia bisa mendudukkan tubuhnya.


Attar langsung menghadiahi beberapa kecupan di wajah istrinya. Ia begitu merindukannya, begitu pun dengan Syiera. Tuhan kembali menyatukan mereka.


Tangis Syiera tumpah, ia tak menyangka bahwa kelahiran anaknya membawa berkah. Suaminya pun kembali tersadar dari koma yang sudah berbulan-bulan.


"Maafkan aku tidak menemanimu selama mengandung," sesal Attar.


Syiera menggelengkan kepalanya. "Kenapa mesti minta maaf. Kamu sudah bertahan saja sudah lebih dari cukup." Syiera kembali menumpahkan air matanya.


Attar sudah tak lagi memakai branker. Pria itu sudah duduk di kursi roda. Suster memindahkan bayi ke ruang bayi terlebih dulu.


Dan untuk Syiera, mereka di bawa ke ruang rawat bersama suaminya. Mereka disatukan di ruangan yang sama, karena Attar yang memintanya.


Setelah di pindahkan, dan keluarga sudah boleh menjenguknya, Aleta yang terlebih dulu menemui kakaknya. Mereka sampai lupa tidak mengabari kedua orang tuanya Syiera.


"Kakak." Aleta memeluk tubuh kakaknya, betapa ia merindukan sang kakak. Setelah itu, baru ia memeluk kakak iparnya.


"Makasih, Kak. Sudah melahirkan keponakan yang sangat tampan." Aleta sempat melihat bayi itu tadi selagi akan di pindahkan.


"Jadi Aunty yang baik, ya?"


"Ah, Kakak. Memangnya selama ini aku tidak baik," cetus Aleta.


Syiera terkekeh melihatnya, kini, Syiera sangat bahagia sekali. "Al, apa kamu sudah mengabari Momy?"

__ADS_1


Aleta menepuk keningnya sendiri. "Maaf, Kak. Aleta lupa." Setelah itu Aleta pun keluar menemui Dam. Ia meminta agar Dam menghubungi orang tuanya, saking paniknya. Dam juga sampai lupa.


Dan kini Dam sudah memberitahukan kabar gembira ini kepada orang tuanya. Tak lama kemudian, Dania dan Darren datang.


Mereka langsung masuk ke ruangan. Dania dan Darren sangat terkejut melihat Attar yang sudah sadar. Pasalnya, Dam tidak memberitahukan akan kondisi Attar. Dam hanya bilang kalau Syiera sudah melahirkan, hanya itu.


Mereka semua sudah kumpul di ruangan Syiera, Malik dan bi Ani pun ikut serta. Dokter datang ke ruangan itu, hendak memeriksa Attar. Dokter masih khawatir akan kondisinya, walau luka jahitan di kepala sudah sembuh. Tapi di dalamnya belum tentu.


Dokter meminta agar semuanya keluar terlebih dulu. Mereka pun keluar satu persatu dari ruangan. Hanya menyisakan Syiera dan Attar.


"Bagaimana kondisi suami saya, Dok?"


"Kondisinya baik, semoga cepat pulih," terang dokter. "Untuk kali ini, harus lebih banyak istirahat." Setelah memeriksa, Dokter keluar meninggalkan pasien.


Syiera dan Attar saling memandang satu sama lain. Attar mencoba bangun dari tempatnya, ia mencoba berjalan menghampiri istrinya. Syiera sempat melarang, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada suaminya.


"Tenang ... Aku hanya mencoba melangkahkan kakiku. Aku takut tidak bisa menggerakkan tubuh dan kakiku." Dengan perlahan Attar berjalan, akhirnya ia sampai di branker istrinya. Walau memakan waktu beberapa menit, tapi ia bisa melakukannya.


Hingga sekarang, posisi Attar, tepat di samping Syiera. Attar mengusap lembut pucuk rambut istrinya. Pria itu sangat merindukan Syiera. Beberapa kali, Attar membenamkan bibirnya di kening istrinya.


Dari kening, kelopak mata, hidung. Hingga yang terakhir, di benda kenyal kepemilikan istrinya. Menyesap dan sedikit bermain lidah di sana. Mereka berdua sangat merindukan momen seperti ini. Delapan bulan lamanya mereka tak bersentuhan dalam gelora yang membuncah.


Hampir saja, Attar kehilangan akal sehatnya. Untung Syiera menahan tangannya yang mulai meraba di gunung kembar miliknya.


"Tidak boleh!" Syiera melarang keras aksi suaminya.


"Aku kangen," bisiknya lembut.


"Kamu harus puasa, hingga waktunya tiba."


Attar langsung lemas, tentu ia tahu arti dari kata puasa. Menunggu habis melahirkan pasti sangat lama, akhirnya ia pun pasrah. Syiera tersenyum melihat ekspresi suaminya.


"Jadi, kamu sadar itu cuma merindukan itu? Mesum!"


"Aku rindu semuanya, sayang." Attar kembali mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2