Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
60


__ADS_3

Dan kini sekarang mereka sudah kumpul di kamar, di mana Leo terbaring. Leo sudah terbangun dari tidurnya, tahu sahabat yang dari Indonesia sudah datang, ia langsung memintanya untuk berkumpul.


"Dam, kemarilah," titah Leo pada calon menantunya itu.


Dam pun mendekat, kini ia duduk di sebalah Leo.


"Iya, Uncle." Dam memegang tangan calon mertuanya itu. Menggenggamnya dengan erat, seakan memberi kekuatan pada Leo.


"Uncle titip Alea, jaga dia. Cuma padamu Uncle percaya," ucap pria itu pada Dam. "Segeralah menikah, selagi Uncle masih ada di dunia ini. Uncle sudah tidak kuat, Dam."


"Uncle harus sembuh, Dam yakin Uncle bisa." kata Dam. Sejenak Dam terdiam ketika Leo memintanya untuk menikahi Alea. Bukan tidak ingin, Dam itu sedang memikirkan nasib wanita lain. Yaitu, Aleta.


"Sekarang saja, Dam. Biar Uncle bisa tenang," ucap Leo lagi.


Lisa langsung mendekat ke arah suaminya. "Maksudmu apa bicara seperti itu? Jangan tinggalkan kami. Sembuhlah!" Lisa menitikkan air matanya, tak kuasa jika sang suami pergi meninggalkannya.


"Jangan menangis," pinta Leo pada istrinya. "Kalian harus tetap semangat, aku titip anak-anak ya, Lisa."


"Pappy ..." Alea langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Leo. "Jangan pernah bilang itu lagi, Alea yakin Pappy bisa sembuh," lirih Alea.


Kini, Khai pun ikut mendekat. Pria itu pun menangis. Khai belum lama tinggal bersama ayah dan ibunya. Baru saja kumpul, masa Khai harus kembali kehilangan sosok ayah yang selama ini ia rindukan.


"Khai, kemarilah," pinta Leo. Khai mendekat diri. Posisi Khai bersampingan dengan adiknya, Alea, dan juga Dam.


"Jaga adikmu," kata Leo. "Dan untukmu, Dam. Uncle mau, kamu nikahi Alea, Uncle mau menyaksikan hari bahagia putri, Uncle." Leo menyatukan tangan Dam dengan tangan Alea.


Sementara Dania dan Darren, pasutri itu menyaksikan keharuan diantara mereka. Dania menyandarkan kepalanya ke pundak Darren, wanita itu ikut menangis. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Leo, apa ini keinginan terakhirnya? Pikir Dania.


Lalu, Dania pun mendekat ke arah Leo dan berucap. "Dam akan menikahi Alea, iyakan, Dam." kata Dania sambil menyentuh pundak Dam.

__ADS_1


Dam hanya mengangguk, padahal hatinya tengah gundah. Dia tak menyangka akan menikahi Alea secepat ini, bahkan ia belum menjelaskan apapun pada Aleta. Aleta pasti sangat kecewa padanya, karena Dam sudah berjanji akan menunggu Aleta kembali ke Indonesia. Tapi sekarang, Dam malah akan menikah dengan Alea. Bahkan hari esok ia akan mengucapkan janji sucinya pada Alea.


Leo tersenyum ketika melihat Dam mengangguk. "Khai siapkan pernikahan Alea untuk besok. Pastikan semuanya lancar" kata Leo. "Untuk resepsi bisa nanti. Terserah mau resepsi di mana, yang penting kalian nikah saja dulu." Leo benar-benar ingin pernikahan terlaksana sebelum ia pergi dari dunia ini.


Kini, mereka mulai menyiapkan hari pernikahan yang dibuat secara mendadak. Alea yang tak tahu hari pernikahannya akan dilaksanan besok. Ia langsung ke butik bersama Dam.


Sementara Lisa, wanita itu masih setia di sisi suaminya. Lisa terus menangis, takut suaminya akan pergi meninggalkannya.


"Jangan menangis, Lisa. Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat Alea menikah." Leo terus menenangkan Lisa, ia tak ingin melihat istrinya itu terus menangis.


"Tapi kata-katamu itu seakan pergi jauh dari hidupku," lirih Lisa.


"Berdoa saja semoga Leo sembuh setelah Alea menikah nanti," timpal Dania.


"Iya, kamu harus kuat, Leo. Apa kamu tidak ingin melihat cucumu nanti," sahut Darren. "Kamu tahu, Syiera sekarang sudah punya anak. Bahkan ia tengah mengandung lagi," sambungnya lagi.


"Maka dari itu, semangatlah untuk sembuh," kata Darren sambil mengepalkan tangan seraya memberi semangat. "Dan untukmu, Lisa. Berhentilah menangis, jelek kalau nangis seperti itu."


Dari dulu, Darren dan Lisa memang tak bersahabat. Seperti Tom & Jerry. Lisa pun memukul tangan Darren, ia tak menyangka kalau Darren masih menyebalkan.


"Sudah ... Kalian itu, masa udah mau besanan masih seperti itu?" Dania pun teringat akan sahabat dan suaminya waktu dulu.


Di butik.


Alea sedang mencoba baju pengantinnya untuk acara besok. Lalu ia menghampiri Darren.


"Sayang, ini bagus gak?" tanya Alea pada Dam.


Tapi Dam tidak menjawab, pria itu malah melamun. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


"Dam ..." panggil Alea.


Dam langsung menoleh, ia sedikit terkejut karena nada Alea cukup kencang. "Kenapa aku malah memikirkan Aleta?" Dam menggelengkan kepalanya, bukan saatnya Aleta ada dalam benaknya.


"Kamu kenapa malah melamun? Aku tanya, ini bagus gak?" Alea memutarkan tubuhnya, memperlihatkan gaun yang sedang ia kenakan.


Dam melihat itu sampai tak berkedip, Alea bisa secantik ini dengan pakaian yang ia kenakan.


"Kamu cantik, Al. Sangat cantik." Dam pun berdiri menghampiri Alea, Dam menyelipkan rambut Alea ke daun telinganya. Di hati Dam benar-benar ada dua wanita. Lalu bagaimana dengan Aleta nanti? Apa Dam juga akan menikahinya? Tentu tidak! Wanita mana yang mau dimadu. Apa pun yang terjadi nanti semoga Aleta bisa berlapang dada. Karena Alea yang lebih dulu mengenal Dam, memang seharusnya Alea yang menikah dengan Dam. Salahnya di sini, Dam memberi harapan pada gadis itu.


Dam terus memandang calon istrinya itu. Karena terus diperhatikan oleh Dam, wajah Alea jadi merah merona. Gadis itu tersipu malu. Jantungnya pun ikut deg degan.


"Kamu suka 'kan dengan baju ini?" tanya Alea. Gadis itu mengalihkan pandangan Dam. Dam tidak tahu saja, kalau Alea sangat malu dengan jarak mereka yang begitu dekat.


"Aku suka, suka semuanya," jawab Dam.


"Ya udah, aku pilih baju ini." Alea pun perlahan mundur, lalu kembali ke dalam. Melepas baju itu dan berganti dengan pakaian tadi yang ia kenakan. Setelah selesai ia pun kembali dengan baju yang sudah di dalam genggaman sebuah paper bag yang terisi baju di dalamnya.


"Kamu gak pilih baju di sini?" tanya Alea.


"Aku kurang suka, Al. Kita cari di tempat lain aja ya?"


Alea pun mengangguk, ia mulai mencari baju untuk Dam. Kerana mendadak, jadi mereka membeli baju yang tersedia di toko.


Selesai mendapat baju. Mereka kembali pulang ke mansion Alea. Alea menggenggam tangan Dam, gadis itu sangat bahagia. Cinta yang dari dulu sampai saat ini masih terjalin. Alea tidak tahu kalau calon suaminya itu hatinya bercabang. Semoga Dam bisa menetapkan hati pada satu wanita setelah menikah nanti. Alea begitu baik dan setia. Tidak seharusnya Alea tersakiti oleh Dam, semoga saja begitu, ya?


Dam dan Alea sudah sampai di rumah. Karena hari sudah malam, mereka pun istirahat di kamar masing-masing. Menyambut hari esok. Di mana Dam dan Alea akan menikah.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2