
"Syiera."
"Kakak."
Ucap mereka bersamaan. Lalu dengan cepat Attar dan Dam langsung menuju kamar yang di tempati oleh Syiera.
"Honey ... Kamu kenapa?" tanya Attar setibanya di sana. Syiera yang baru saja selesai mandi, entah kenapa mendadak mual, kepalanya juga pusing.
Sementara Dam, ia masih berdiri di ambang pintu. Ragu untuk masuk karena kakaknya sedang berada di dalam kamar mandi. Tiba-tiba, Aleta datang. Ia pun mendengar kakak iparnya, karena kamar mereka bersebelahan.
Tapi sayang langkah Aleta terhenti oleh Dam, Dam menghalangi jalan, dan itu membuat Aleta tidak masuk. Dam masih belum menyadari adanya Aleta di belakangnya. Ketika Dam membalikkan tubuhnya, ia malah mendapati Aleta. Hampir saja Dam menabrak gadis itu.
Lagi-lagi ... Tak ada jarak diantara mereka, mereka berdua jadi teringat akan kejadian semalam.
"Maaf, Al. Aku gak tahu ada kamu di belakangku," kata Dam.
Sepertinya gadis itu menjadi salah tingkah. Aleta menundukkan wajahnya, ingin masuk malah Dam tidak menggeserkan tubuhnya. Aleta ke kiri, Dam pun ke kiri. Begitu pun sebaliknya.
Membuat mereka saling terkekeh.
"Silahkan," ucap Dam sambil menggeserkan tubuhnya memberi jalan pada gadis itu.
Aleta pun masuk ke dalam sambil berkata. "Terimakasih."
Setibanya di kamar mandi, ia melihat kakaknya sedang memijat tengkuk kakak iparnya.
"Kak, Kak Syiera kenapa? Apa dia sakit?" tanya Aleta.
"Kakak gak apa-apa, Al. Mungkin hanya masuk angin," jawab Syiera setelah membersihkan mulutnya.
"Aku periksa ya? Aku takut kamu kenapa-napa. Soalnya dari semalem kamu ngeluh pusing." Attar memapah tubuh istrinya, dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia mulai mengeluarkan alat medisnya, memeriksa keadaan sang istri.
"Apa perutmu begitu mual?" Perasaan Attar sebelum memeriksanya sedikit cemas, akan tetapi, setelah memeriksanya. Attar terlihat seperti bahagia. Ia belum bisa memastikan dengan benar, ia akan membawa istrinya ke bagian obygin. Semoga saja dugaannya benar.
"Kak Syiera sakit apa, Kak?" tanya Dam.
__ADS_1
"Gak apa-apa. Sepertinya sebentar lagi kalian memiliki keponakan. Dam dan Aleta mencerna ucapan kakaknya. Dan itu berarti ...
"Kak Syiera hamil." Dam dan Aleta serempak, saking senangnya mereka malah berpelukan. Tak lama, mereka pun menyadari akan hal itu. Setelah itu mereka langsung melepaskan diri masing-masing.
"Kakak belum bisa memastikan, kalau dari keluhannya memang mengarah ke sana. Dan semoga saja itu memang benar."
Attar menatap wajah istrinya. Sepertinya Syiera nampak terkejut, cepat sekali dirinya hamil. Bahkan ia merasa belum lama melakukan dengan suaminya. Apa suaminya itu tokcer? Pikir Syiera. Memang waktu dulu, saat melakukan hubungan suami istri, Syiera sedang masa subur. Mungkin itu penyebabnya kenapa ia bisa langsung hamil.
"Kamu kenapa? Kok, cemberut gitu sih. Kamu belum siap, ya?" duga Attar.
"Aku seneng mengangdung anakmu," jawabnya sambil tersenyum. "Jangan sekarang ya ke rumah sakitnya? Besok saja, aku mau istirahat." Attar pun mengangguk.
"Kalau begitu kami permisi," kata Dam sembari menyeret tangan gadis di sebelahnya.
Aleta hanya diam, ia terus melihat ke arah tangan yang di genggam oleh Dam, setelah di luar, baru Dam melepaskannya.
"Sebaiknya biarkan mereka berdua," pinta Dam. Lalu ia melengos pergi meninggal Aleta.
Aleta menyentuh dadanya, getaran dan detak jantung yang dirasakan Aleta tak seperti biasanya. "Perasaan apa ini?" Sebelumnya ia tak pernah merasakan hal seperti ini.
Sementara Dam, setelah ia pergi dari rumah kakaknya, ia kembali pulang. Tapi bukan ke rumah, melainkan pulang ke rumah sang kekasaih. Rencananya, ia akan mengajak Alea jalan-jalan.
***
"Honey ... Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Attar pada istrinya yang kini tertidur di pelukkannya. Entah kenapa Syiera menjadi manja seperti ini. Ia merasa tak ingin jauh-jauh dari sang suami, ia menyukai aroma tubuh suaminya.
Setelah mendengar ucapan Attar, Syiera menggelengkan kepalanya. Tak ada yang diinginkan gadis itu selain bersamanya untuk saat ini.
"Tadi, Dam membawakan sesuatu untukmu. Apa mau aku ambilkan?"
Syiera ingat bahwa ia meminta sang momy untuk di buatkan rujak. Dania pun sempat kaget dengan keinginan putrinya itu, pagi-pagi dah minta rujak. Tapi Dania sepertinya tahu apa yang terjadi pada anak perempuannya itu. Tidak salah lagi, pasti Syiera hamil. Duga Dania.
"Iya, bawa kesini." Syiera pun beranjak dari tempat tidur, lalu ia duduk dan bersandar di sandaran kasur yang berukuran king size itu.
Sementara Attar, ia mengambil titpan dari ibu mertuanya yang masih di ruang tamu. Ketika Attar keluar kamar, ia melihat Aleta yang sudah terlihat cantik dan rapi. Mau kemana adiknya itu?
__ADS_1
"Al ... Kamu mau kemana?"
Aleta pun langsung menoleh. "Mau pergi, Kak. Mau nyari udara segar."
"Kamu 'kan gak hapal daerah sini. Kakak minta Malik buat nemenin kamu ya?" Attar memberi usul, ia takut adiknya kesasar.
"Siapa Malik?" tanya Syiera yang baru saja keluar dari kamar, ia mendengar percakapan antar adik kakak itu. Dan itu membuatnya penasaran. "Malik yang dulu penguntit 'ku?"
Attar neyengir ketika istrinya bilang kalau Malik penguntit, ia jadi teringat akan kekonyolan.
"Kak, aku mau pergi, tapi sepertinya Kakak gak mengijinkanku!" keluh Aleta pada Syiera.
"Bukan tidak mengijinkan, Al ... Kakak hanya menyuruh Malik untuk menemanimu," kata Attar.
"Aku gak mau! Aku ga kenal sama dia!"
"Pergi saja sama, Dam," sahut Syiera.
Mendengar nama, Dam. Mata Aleta langsung berbinar, tanpa ragu Aleta langsung mengangguk. Gadis itu ingin pergi bersama pria yang kini telah mengusik hatinya. Tapi, tiba-tiba ... Aleta teringat bahwa Dam sudah memiliki kekasih, pria itu pasti pergi bersama pacarnya, pikirnya.
"Dam-nya mana? Bukankah tadi dia ada di sini?" tanya Syiera.
"Dam sudah pulang, Kak. Sepertinya dia ada janji. Aku gak yakin kalau dia mau menemaniku menelusuri kota ini," lirih Aleta.
"Dam mau mengajak Alea jalan-jalan, kamu ikut saja dengannya. Mereka baik, kok," jelas Syiera. "Kakak coba hubungi dia dulu." Syiera pun mengambil ponselnya di kamar, lalu ia langsung menelepon adiknya. Setelah menelepon ia pun kembali menemui Aleta.
"Sebentar lagi Dam menjemputmu, kamu tunggu saja dia datang. Dia sama Alea," tutur Syiera.
Aleta senang bukan kepalang, tak apa juga ia pergi bertiga. Asal bersama Dam.
"Kenapa ijinkan Aleta pergi bersama, Dam ... Nanti Aleta mengganggu kebersamaan Dam dan pacarnya," bisik Attar di telinga sang istri.
Syiera langsung mendelikkan matanya, kenapa juga si Dam merasa terganggu. Mereka 'kan bukan pergi bulan madu, pikirnya. Jadi menurutnya sih gak apa-apa pergi bertiga, biar mereka lebih akrab.
Tak lama kemudian, Dam sampai di rumah kakaknya. Tak menunggu lama, mereka langsung berangkat. Entah tujuannya kemana, yang penting mengajak dua gadis itu pergi. Dam tidak keberatan akan hal itu, selama Alea sang kekasih happy-happy saja ia akan melakukannya.
__ADS_1
bersambung.