
Ketika Khai masuk ke dalam ruangan Felisia, di sana sudah ada dokter. Dokter sudah memperbolehkan Feli pulang, ditambah lagi Feli memang segera ingin pulang. Gadis itu tak ingin membuat ayahnya khawatir, karena Feli hanya tinggal berdua dengan Jonas sang ayah. Ibunya Feli meninggal disaat melahirkannya.
Dokter pun pergi setelah mengizinkan Feli pulang. Khai mendekat ke arah Feli.
"Khai, terimakasih sudah menemaniku selama di sini. Hari ini aku akan pulang."
"Kamu 'kan temanku, tidak perlu berterimakasih," ujar Khai. Padahal, Khai tulus menemani Feli, apa lagi Khai memiliki rasa pada gadis itu. Tentu Khai tidak akan membiarkan Feli sendirian dalam keterpurukan.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Karena memang masih sedikit sakit pada bagian tubuhnya, Feli tak menolak Khai yang akan mengantarnya pulang. Khai membantu Feli duduk di kursi roda, ia mendorongnya sampai depan rumah sakit.
Khai membantu Feli masuk ke dalam mobil miliknya, setelah itu Khai pun masuk, dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Mobil itu pun melaju ke kediaman Felisia.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai, ayah Feli sudah terlihat sangat cemas, karena anak gadisnya belum pulang. Jonas mondar-mandir tak karuan, hingga pada akhirnya ia mendengar suara deruman mobil di depan rumahnya.
Jonas langsung keluar, ia mendapati anaknya bersama Khai. Jonas sudah kenal dengan Khai, hingga ia berpikir kalau Feli pergi bersama Khai.
Wajah Feli masih terlihat pucat, Jonas merasa khawatir akan hal itu.
"Kalian dari mana saja? Daddy khawatir padamu, kamu tidak memberi kabar pada Daddy," ucap Jonas pada anaknya. "Apa kamu sakit, Feli?"
"Ti-tidak, Dad. Mungkin hanya kurang tidur, semalam aku habis menghadiri pesta teman," jawab Feli bohong. Tanpa curiga Jonas pun tidak bertanya lagi.
"Maaf, Om. Saya telat mengantar Feli pulang," kata Khai.
"Tidak apa-apa, lain kali jika kalian pergi kasih kabar pada Om," ucap Jonas pada Khai. Khai pun mengangguk.
"Ya sudah, Daddy hari ini akan kembali ke Amerika. Di sana Daddy pasti lama, kamu gak apa-apa 'kan sendiri di sini?" ujar Jonas pada putrinya.
Feli sedikit berpikir, namun ia pun mengangguk. Akan lebih baik ayahnya pergi, seenggaknya sampai tidak ada yang terjadi sesuatu padanya. Feli takut dengan kejadian kemarin, ia takut hamil. Setidaknya kalau Jonas tidak ada, ayahnya tidak akan tahu apa yang terjadi padanya.
"Khai, Om titip Feli, ya? Om percaya padamu." Jonas penepuk pundak Khai, setelah itu Jonas pergi menuju kamarnya.
Hanya tinggal Khai dan Feli di ruangan itu.
"Khai, aku minta padamu soal kejadian semalam jangan sampai Daddy ku tahu. Hanya kamu yang tahu masalahku."
"Iya, Fel. Sebisa mungkin aku akan menjaga rahasia ini. Kamu istirahatlah, aku pulang sekarang." Setelah pamit, Khai langsung pulang.
__ADS_1
***
"Siapa yang tega memerkosa Feli?" batin Malik.
"Kamu kenapa? Kok, melamun. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aleta. Mereka menuju pulang ke rumah seusai dari rumah sakit.
"Cuma mikirin si Khai, dia kenal sama Feli. Dan teman Khai yang sakit itu Feli."
"Felisia? Yang dulu pernah kamu kenalkan ke aku waktu di mal, bukan?"
"Iya, kasian dia. Dia korban pemerkosaan." Malik jadi iba pada gadis itu.
"Kasian sekali," kata Aleta.
Perbincangan mereka terhenti kala mobilnya sudah sampai di halaman rumahnya. Malik dan Aleta langsung saja masuk ke dalam rumahnya.
"Hari ini aku ke kantor lagi ya? Ada berkas yang harus aku tanda tangai," ujar Malik. Di angguki oleh Aleta.
Setibanya di dalam, rumah nampak sepi.
"Mama kemana? Kok, sepi banget," ucap Aleta. Malik yang mendengar hanya mengangkat kedua bahunya.
"Anak-anak Daddy, yang anteng ya di perut Mammy. Daddy ke kantor dulu." Malik selalu mengajak interaksi pada kedua anaknya.
"Iya, Daddy." Aleta menyerukan suara anak kecil. Sampai Malik terkekeh karena gemas. Malik mengusap lembut pipi istrinya, karena terbawa suasana, Malik mencium bibir istrinya. Hingga tautan di kedua bibir mereka menjadi memanas.
Aleta membuka kancing kemaja suaminya satu persatu, tapi sayang aktivitas mereka terhenti kala ponsel Malik berdering begitu nyaring.
Aleta menghela napas panjang, kala pertautan mereka terlepas. Malik menerima panggilan itu, telepon itu dari perusahaan. Hanya sebentar sambungan itu terjadi, karena Malik memang harus segera pergi. Kedatangannya sudah ditunggu oleh clain penting.
"Sayang, aku harus ke kantor sekarang."
Aleta mengerucutkan bibirnya, pasalnya ia merasakan sesuatu yang tertunda. Mau tak mau, ia harus mengikhlaskan kepergian suaminya. Aleta harus mengerti akan posisi Malik sebagai pimpinan.
"Jangan gitu dong, aku jadi gak tega ninggalin kamu. Aku janji, aku akan membayar yang tertunda barusan. Nanti malam siap-siap, aku akan membuatmu terbang." Malik mengucapkan itu dengan sebuah bisikan sampai Aleta kembali mendesir. Malik mencium setiap inci wajah istrinya, sampai Aleta kewalahan. Setelah itu Malik pun pergi.
***
Di dalam mobil, Khai niatnya ingin langsung pulang ke rumahnya. Namun ia teringat akan Alea, apa adiknya itu sudah ditemukan? Khai mencoba menghubungi Dam, tapi ponselnya tidak aktif. Khai pun langsung saja menemuinya di rumah Dam.
__ADS_1
Mobil Khai mendarat dengan sempurna di halaman keluarga Narayan. Tanpa permisi, Khai langsung masuk ke dalam rumah. Ia langsung mendapati adik iparnya di sana, Khai pun langsung menyapanya.
"Dam, apa Alea sudah ketemu?" tanya Khai tanpa basa-basi.
Bukannya menjawab, Dam malah mengomel.
"Bisa tidak volumemu itu di kecilkan, sakit kuping dengernya."
Khai mendelikkan matanya, adik iparnya itu memang tidak ada sopan-sopannya.
"Tanyanya apa, jawabnya apa!" Khai jengkel sendiri jadinya, iparnya itu memang menyebalkan.
"Alea ada di kamar dia sedang istirahat."
"Siapa yang istirahat?" tanya Alea tiba-tiba. Wanita itu sedang menuruni anak tangga.
Khai yang melihat adiknya baik-baik saja langsung bernapas lega. "Semalem kemana? Buat repot saja!" celetuk Khai.
Belum Alea menjawab, Dam lebih dulu berucap. "Kalau kedatanganmu hanya untuk memarahi istriku lebih baik kamu pulang saja deh." Dam tidak terima jika istrinya kena marah dari Khai, walau Khai kakaknya Alea tetap saja Dam tidak suka.
"Baper banget jadi laki, Aleanya saja tidak apa-apa," cibir Khai.
Dam hanya memutar bola matanya jengah.
"Sayang, katanya mau istirahat," ujar Dam pada Alea.
"Ada sesuatu yang harus aku ambil di mobilmu," kata Alea. Alea terus saja berjalan, namun langkahnya terhenti kala Khai menawarkan diri untuk mengambil barang yang ada di dalam mobilnya Dam.
"Biar aku saja yang mengambilnya," sahut Khai.
Khai pun bergegas pergi menuju mobil Dam. Dam baru ingat kalau mobilnya belum sempat ia bersihkan, bisa gawat kalau Khai mengetahuinya. Akhirnya Dam menyusul Khai.
Sayang seribu sayang, Dam tidak bisa mencegah itu karena Khai sudah membuka pintu belakang. Khai masih mencari barang apa yang di maksud adiknya itu?
Khai terperanga kala ia melihat sesuatu di kursi bagian belakang. Khai mengecek itu, apa ia tak salah lihat.
Sedangkan Dam, pria itu diam terpaku.
Bersambung.
__ADS_1