
Sepulang dari rumah sakit, Syiera langsung ke kamar. Ia benar-benar tak menduga apa yang sudah terjadi pada suaminya, bumil itu terus menangis.
Bi Ani yang tahu akan hal itu, ibu paruh baya itu langsung masuk ke kamar majikannya. Dilihatnya sang majikan tengah meringkuk seperti bayi. Menangis sesegukkan.
Perlahan tapi pasti, bi Ani menghampiri wanita itu. Bi Ani duduk tepat di samping Syiera. Syiera pun langsung melihat ke arah bi Ani, wanita itu langsung merangkul dan mendekap asisten rumah tangganya.
"Yang sabar ya, Non. Semoga Tuan baik-baik saja." Bi Ani mengusap lembut punggung majikannya, tak terasa, bi Ani pun menitikan air matanya. Baru juga menikah sudah mendapat cobaan yang berat.
"Non, sudah makan belum?"
"Aku gak laper, Bi."
"Jangan begitu, Non harus makan! Ingat bayi yang ada dalam kandungam, Non. Tuan pasti marah kalau Non gak mau makan."
Syiera malah tambah nangis, mendengar perkataan bi Ani. Attar yang selama ini perhatian padanya, kini tidak ada lagi. Suaminya terbaring lemas di rumah sakit.
"Non, makan ya? Bibi bawain kesini." Tanpa mendengar jawaban dari majikannya, bi Ani langsung ke dapur mengambilkan makanan untuknya.
Di ruang makan, ternyata ada Aleta. Gadis itu tengah makan. Bi Ani berpikir, itu pasti paksaan dari orang yang ada di sebelahnya. Karena bi Ani sempat mendengar sedikit keributan.
Dan itu pasti Aleta dengan Malik. Malik memaksa Aleta untuk makan, mogok makan pun percuma. Itu tidak akan merubah keadaan. Dua wanita yang kini sedang terpuruk harus tetap melanjutkan hidup.
"Ayo cepat habiskan makanannya." Paksa Malik pada Aleta. Aleta nampak kesal pada Malik, mentang-mentang dapat ijin untuk menjaganya, pria itu seenak jidatnya.
Akhirnya, suapan terakhir sampai juga. Aleta menelan salivanya kuat-kuat. Menelan sisa makanan yang terasa hambar di mulutnya.
Malik tersenyum melihat gadis itu. Malik melakukan itu demi kebaikan Aleta. Aleta pun beranjak dari meja makan, gadis itu hendak ke kembali ke kamarnya. Tapi sayang, Malik dengan cepat menahannya.
"Apa lagi!" cetus Aleta dengan geram.
Malik pun terkekeh, lalu pria itu menyodorkan obat pada Aleta.
"Apa ini?" tanya Aleta sambil meraih botol kecil dari tangan Malik.
__ADS_1
"Hanya vitamin, saya tidak mau Nona sakit," jelasnya.
Kerana tak ingin berdebat lagi, tanpa curiga Aleta langsung meminumnya.
"Sudah, ya. Saya boleh ke kamar sekarang?" ucap gadis itu sambil tersenyum meremeh.
Malik pun mengangguk, mengiyakan sebagai jawabannya. Setelah Aleta benar-benar masuk ke kamar, Malik pun akhirnya selesai dengan tugasnya hari ini. Malik menuju sofa yang ada di ruang tamu, pria itu pun memejamkan kedua matanya. Ia nampak lelah dengan kejadian hari ini.
Sementara di kamar Syiera, gadis itu akhirnya mau makan juga. Dengan bujukan bi Ani. Karena tugas bi Ani sudah selesai, ibu paruh baya itu kembali ke tempatnya. Sudah hampir larut, bi Ani pun istirahat.
Syiera merebahkan tubuhnya di kasur, wanita itu menatap ke arah samping. Di mana biasa Attar tertidur di sana, Syiera mengusap kasur itu dengan lembut. Air matanya pun kembali membasahi kulit pipinya yang mulus.
Tak terasa, ia pun tertidur dengan sendirinya.
Malam pun berganti, cuaca pagi ini nampak mendung. Awan yang menggumpal sudah siap untuk menurunkan air dari atas langit.
Syiera menggeliat, gadis itu terbangun. Ia meraba-raba sisi kasur di sebelahnya, sepertinya gadis itu lupa apa yang terjadi pada suaminya. Tak lama, ia pun tersadar. Dengan cepat ia bergegas ke kamar mandi. Syiera tak ingin mengeluarkan air matanya kembali. Ia harus kuat demi janinnya.
Syiera yakin, kalau suaminya akan sembuh seperti semula. Dengan semangat yang ada, ia memulai aktivitasnya kembali. Selesai mandi, Syiera langsung keluar dan menuju meja makan. Apa pun yang terjadi, ia harus menjalani hidup seperti biasa. Ke kantor dan ke rumah sakit tujuannya hari ini.
Bi Ani nampak terkejut melihat wanita itu, namun seketika bi Ani langsung tersenyum ke arahnya. Ini yang mau bi Ani lihat, Syiera yang selalu ceria.
"Pagi juga, Non. Sudah siap ngantor lagi?"
"Hmm, ada yang harus saya kerjakan, Bi."
Beberapa menit kemudian. Malik yang sudah terlihat rapi datang menghampiri Syiera.
"Pagi, Nyonya?" sapa Malik.
Syiera hanya tersenyum menanggapi. Lalu, ia pun mengajaknya untuk sarapan bersama. Malik menolaknya secara halus. Karena Syiera memaksa, mau tak mau, akhirnya Malik pun mendudukkan tubuhnya di kursi. Tepat di hadapan Syiera.
"Ayo sarapan, jangan sungkan-sungkan."
__ADS_1
Malik pun akhirnya sarapan bersama. Pria itu lalu menoleh ke arah wanita yang baru saja duduk di samping Syiera.
"Pagi, Al?" sapa Syiera pada adik iparnya.
"Kakak mau kemana sudah rapih?"
"Kakak ada urusan di kantor, setelah itu, Kakak baru ke rumah sakit." jawab Syiera. "Kamu jangan menangis terus ya, Al? Kakak tahu kamu sedih. Kakak juga sedih, tapi kita gak bisa terus terus menerus dalam keterpurukan." Syiera mengusap lembut punggung Aleta, gadis itu nampak mengeluarkan air matanya, Aleta terharu akan penuturan kakak iparnya.
Syiera bisa tegar. Kenapa ia tidak bisa, pikirnya. Aleta pun mengusap sudut matanya, menahan air mata itu untuk tidak keluar. Gadis itu mengulas senyum, apa yang diucapkan Syiera ada benarnya. Aleta yakin kakaknya pasti sembuh.
"Ayo, sebaiknya kita sarapan?" ajak Syiera pada Aleta.
Sementara Malik, pria itu terus memperhatikan keduanya. Wanita itu sangat kuat, pikirnya.
Mereka pun akhirnya sarapan bersama-sama.
Selesai sarapan, Syiera langsung pergi ditemani oleh Malik. Malik yang menjadi supirnya hari ini, sebelum pergi. Malik berpesan pada Aleta, jangan pergi kemana-mana sebelum ia kembali.
Lagi-lagi, Aleta nurut pada pria itu. Aleta tak ingin berdebat dengannya, bikin malas. Pikirnya. Lagi pula, ia merasa tak enak badan hari ini. Aleta putuskan untuk rebahan saja di kamar.
Mau pergi, pergi kemana? Tidak ada yang menemaninya saat ini.
Di kantor
Syiera nampak sangat sibuk, terlalu lama ia meninggalkan pekerjaannya. Hingga tak terasa, waktu menunjukkan pukul 11. 30. Syiera mengakhiri pekerjaannya hari ini. Ia putuskan akan ke rumah sakit saat ini juga.
Malik dengan setia mungunggu sang majikan sampai selesai. Pria itu menunggu di mobil, tak lama. Syiera datang dan mengetuk jendela mobil. Malik langsung terbangun, pria itu ketiduran di dalam mobil. Ia pun langsung membuka pintu mobil.
"Maaf, saya ketiduran," sesalnya pada majikannya.
"Hmm, gak apa-apa," jawab Syiera.
Malik membukakan pintu untuk Syiera. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Malik langsung menyalakan mesin. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Malik tak bertanya akan pergi kemana, pria itu sudah tahu dengan tujuan Syiera.
__ADS_1
Hingga akhirnya, mereka sampai di rumah sakit. Di mana Attar dirawat di sana.
bersambung