
Kini mereka tengah berkumpul di ruang makan. Tak ada yang bersuara di sana. Mereka menikmati makan malam dengan khidmat.
"Makan ini," kata Dania pada Alea. Ibu paruh baya itu meletakkan beberapa makanan di piring Alea.
Alea mengkerutkan keningnya. "Aku tak makan sebanyak ini, Mom," protes Alea.
Lisa terkekeh melihat aksi sahabatnya itu. Lisa pun kembali makan, tanpa menimpali dua wanita itu. Ia membiarkannya, karena ia tahu apa maksud Dania.
Dam hanya melihat sang Momy yang terus memaksa Alea makan banyak, begitu pun yang lain.
"Dam ... Aku tak makan sebanyak ini," bisiknya pada suaminya.
"Habiskan saja, biar ada tenaga buat nanti malam," bisik Dam kembali.
Alea mengerucutkan bibirnya, ibu sama anak sama saja, pikirnya. Mau tak mau Alea pun menghabiskan makanan itu. Hampir ia mual karena kekenyangan.
Setelah makan, mereka berkumpul di ruang tamu. Menikmati teh hangat bersama. Khai mengajak Dam bermain catur, ia pikir masih sore. Dam pun melayani permainan itu.
Sesekali Dam menguap, padahal itu hanya sandiwara belaka. Kenapa kakak iparnya itu tidak peka? Pikir Dam.
Sedangkan Alea saja sudah masuk kamar.
"Dam, sepertinya kau mengantuk," kata Khai.
"Ah iya, aku sedikit ngantuk, Khai," jawab Dam bohong. Ia bukan mengantuk, ia hanya ingin menyusul istrinya ke kamar.
"Khai ... Kamu ini, kenapa malah mengajak Dam bermain catur?" kata Lisa yang datang menghampiri mereka. "Biarkan Dam ke kamar," sambungnya lagi.
Khai hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pria itu seakan tidak mengerti dengan pasangan baru yang baru menikah.
"Dam, ke kamarlah istirahat. Bukankah besok kalian akan kembali ke Indonesia?" ucap Lisa. "Kamu juga, lebih baik tidur, Khai," sahutnya pada Khai.
Khai dan Dam pun pergi dari sana, menuju kamar masing-masing. Sementara Lisa, ia kembali ke ruang tamu. Mengobrol dengan Dania dan Darren. Leo sudah di kamar, karena pria itu tengah sakit. Lisa tak membiarkan suaminya ikut bergabung dengan mereka.
***
Dam langsung masuk kamar, kamar itu sudah terlihat sangat gelap. Seperti tak berpenghuni.
Perlahan, Dam menyalakan lampu tidur, ia melihat Alea sudah tertidur pulas. Dam menghela napas panjang, sepertinya ini akibat ibunya yang terlalu menyuruh Alea banyak makan. Alhasil Alea lebih cepat tertidur karena kekenyangan.
Dam pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Alea, Dam melihat wajah yang tentram itu. Ketika Dam akan menyentuh wajah Alea, ponselnya berdering. Ia melihat ID pemanggil, dilihatnya nama Aleta yang terpang-pang di layar ponsel itu. Dam tidak menjawab panggilan itu.
Karena terus berbunyi, membuat Alea terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Kenapa gak di angkat?" tanya Alea, gadis itu langsung mendudukkan tubuhnya di sandaran ranjang sambil mengucek kedua matanya.
Dam beringsut, takut Alea mengambil ponselnya. Dengan cepat, Dam mematikan ponsel tersebut.
"Loh, kenapa dimatiin?" tanya Alea lagi.
"Gak penting, temen iseng." Jawab Dam sambil meletakan ponselnya. Dan ponsel itu langsung di non aktifkan.
"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi terbangun?" Padahal Dam senang kalau istrinya terbangun. Tak perlu repot-repot membangunkannya.
Dam pun ikut bersandar di sandaran, ia langsung menarik Alea ke dalam pelukkannya. Jantung Alea mulai berdegub kencang. Apa lagi Dam langsung mencium keningnya.
"Al," panggil Dam.
Alea langsung mendongakkan wajahnya ke arah wajah Dam.
"Apa?"
Dam langsung menarik dagu Alea. Tanpa aba-aba, Dam langsung mengecup bibir ranum istrinya. Alea membelalakkan matanya, mendapat serangan tiba-tiba membuat napasnya langsung tak beraturan.
Dam langsung **********, Alea masih belum bisa membalas ciuman itu. Gadis itu hanya diam, ia malah berpikir, kok Dam ahli banget dengan ciuman itu? Apa jangan-jangan, ini bukan yang pertama kali bagi Dam?
"Kenapa, kok diam?" tanya Dam, pria itu melepaskan ciumannya.
Lalu, Dam kembali mencium bibir Alea, pria itu menuntunnya merebahkan tubuhnya tanpa melepaskan tautan itu.
Posisi Alea berada di atasnya Dam. Pria itu benar-benar mengajarkan Alea. Sedikit menggigit bibir istrinya, pada akhirnya. Alea bisa mengimbangi, walau masih sedikit kaku.
"Boleh aku melakukannya sekarang, Al?" Pria itu meminta ijin terlebih dulu, ia tak ingin Alea menjadi takut.
Perlahan Alea mengangguk. Bukankah sekarang ia miliknya? Tak ada alasan untuk Alea menolak. Gadis itu kini pasrah, terserah Dam mau diapain.
Mendapat lampu hijau, Dam tidak menyia-nyiakan itu. Ia terus melanjutkan aksinya, sampai mereka sudah sama-sama polos. Entah siapa yang membuka lebih dulu.
Lihat, gadis itu menitikkan air matanya. Mungkin Dam sudah berhasil membobol gawang Alea.
"Dam ...," lirih Alea.
"Sakit, ya?" tanya Dam.
Alea mengangguk, tapi Alea sedikit menikmati pergerakan Dam. Lama-lama, rasa sakit itu berganti menjadi nikmat.
Dam mempercepat pergerakannya.
__ADS_1
Alea mencengkram seprai kuat-kuat. Mereka akan mencapai puncaknya bersamaan. Dan akhirnya, Dam pun tumbang. Pria itu langsung menggulingkan tubuhnya di samping Alea. Alea langsung memeluk Dam dari samping.
Dam pun tersenyum ke arah Alea. Masih sama-sama polos, mereka langsung terlelap.
Hanya sekali pertempuran diantara mereka.
Keesokan harinya.
Alea lebih dulu terbangun, ia mendapati tubuhnya yang remuk redam. Cahaya mulai menerobos dari arah jendela, gadis itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. Ia melihat bercak darah di seprai. Tubuhnya benar-benar terasa sakit.
Lalu, tak lama Dam pun terbangun. Ia melihat istrinya yang sudah duduk, ia pun ikut mensejajarkan dengan Alea.
"Kenapa tak langsung mandi?" tanya Dam. Apa pria itu tidak tahu apa yang di rasakan istrinya sekarang?
Alea hanya diam, mana mungkin ia bilang kalau ia mersakan nyeri di **** *************. Malu sekali rasanya, pikir Alea.
Dam melihat ke arah seprai ada bercak darah di sana. Lalu pria itu tersenyum teringat kejadian semalam.
Kini ia tahu kenapa istrinya belum beranjak, Dam langsung memakai celana yang sempat ia buang ke bawah lantai. Setelah memakainya ia langsung berdiri.
Alea tak menyangka kalau Dam akan menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. "Apa Dam tahu kalau aku tengah sakit?" batin Alea.
Dam langsung menurunkan tubuh istrinya dengan pelan. Setelah Alea di turunkan, Alea langsung menutup kedua gundukkannya dengan kedua tangannya, ia malu karena Dam tengah menatapnya.
"Kenapa mesti malu, bukankah aku sudah melihat semuanya?" Dam melepaskan tangan Alea yang sedang menutupi dadanya.
"Apa dia akan melakukannya lagi di sini?" batin Alea.
Gadis itu beringsut mundur, bukannya tak ingin. Ia masih merasakan sakit di bawah sana. Dam terus mendekat.
"Kita mandi bareng aja, biar lebih cepat," bisik Dam.
Dengan polosnya, Alea mengangguk.
Tak lama, Alea memekik. Karena Dam berbohong.
"Katanya tadi bilangnya hanya mandi," protes Alea ketika ia tahu Dam mulai menggerayangi tubuhnya.
Sementara Dam hanya tersenyum penuh arti.
Dan .... Terjadilah sesuatu di sana.
bersambung.
__ADS_1