
Setibanya di dalam, Syiera tak melihat tanda-tanda kehidupan di sana. Celingak-celinguk seperti maling. Syiera bernapas lega, setidaknya ia tak bertemu dengan suaminya.
Syiera langsung saja masuk ke kamarnya, dengan tubuh yang masih terasa hangat. Dilihatnya sang suami ada di tempat tidurnya. Tanpa suara ia langsung saja masuk ke kamar mandi, ia mengganti bajunya di sana.
Sebelum Syiera masuk ke dalam rumah, Attar yang tadinya ada di kamar tamu, ia langsung pindah ke kamar utama. Dengan begini ia bisa mencari tahu kemena istrinya pergi hari tadi. Attar pura-pura tidur.
Tibalah Syiera dari kamar mandi. Ia masih terus bersin-bersin. Kepalanya kenapa mendadak berat lagi, padahal tadi ia sudah agak baikkan.
Ia melihat ke arah kasur, dilihat Attar sepertinya sudah tidur nyenyak.
Gimana? tadinya mau menghindar dari suaminya, tapi suaminya malah tidur sekamar lagi. "Maaf, aku pulang telat lagi," ia berkata seolah suaminya tidak tidur. Syiera sengaja meminta maaf, mungkin dengan begini hatinya bisa lebih tenang.
Attar mendengar apa yang diucapkan istrinya, walau Syiera pelan dengan suaranya, tapi Attar cukup jelas mendengarnya. Syiera terus bersin-bersin, hingga kini ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping suaminya.
Posisi mereka saling berhadapan. Syiera memandangi wajah suaminya. "Aku akan mencoba jadi istri yang baik," bisiknya pada Attar. Attar yang mendengar diam saja.
Tubuh Syiera kembali menggigil, mungkin akibat angin malam, ia menahan getaran pada tubuhnya, tak ingin membangunkan suaminya yang dikira sedang tidur.
Akhirnya ia memilih untuk memejamkan matanya. Getaran semakin kuat, dan Attar merasakan itu. Sontak membuat Attar langsung terbangun.
Ia langsung melihat ke arah istrinya, tak bisa di biarkan, ia pun menyentuh kening istrinya. "Panas." Attar langsung beranjak dari tidurnya. Niat ingin mundur tapi hati berkata tidak.
Ia langsung mengambil alat medisnya, diperiksanya Syiera seperti pasien pada umumnya, disaat sedang memeriksa Syiera, ponsel milik istrinya berbunyi, penasaran siapa yang sudah memberi pesan malam-malam begini, ia pun memberanikan diri membuka pesan itu. Untung ponselnya tidak dikunci, dengan gampang, Attar bisa membaca pesan itu. dilihatnya nama daddy yang masuk dalam pesan itu. Attar pun membacanya.
"Istirahat yang cukup, ingat pesan Daddy, jadilah istri yang baik. Untuk besok tidak usah ke kantor." Itu isi pesan dari orang tuanya.
Lalu Attar membuka pesan yang lain, tanpa nama di sana. dibacanya, ada yang niat menjemput istrinya dan istrinya langsung menolak. Attar berpikir itu pasti nomor Alex. Attar meletakkan ponsel itu kembali ke tempatnya.
Dengan merasa bersalah karena telah menyangka bahwa istrinya itu telat pulang karena ia habis bertemu dengan Alex, padahal nyatanya bukan. Lalu, ia melihat isi tasnya yang tergeletak di samping ponsel.
"Suami macam apa aku ini? Istri sakit sampai gak tahu," Attar merutuk dirinya sendiri setelah mengetahui isi tas itu.
__ADS_1
Ia pun mengompres istrinya, dengan setia ia menunggunya. Kini, Attar beranjak dari posisinya. Tapi, Syiera langsung mencekal lengan Attar.
"Jangan pergi," ucapnya, "Temani aku di sini," pintanya pada Attar.
Attar pun tak jadi pergi, ia duduk kembali di tepi ranjang. Syiera menggenggam tangan itu dengan erat.
"Syiera ... Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa disaat aku akan merelakanmu, kamu malah seperti memberi harapan padaku!"
"Tetaplah di sampingku," lirih Syiera.
Attar sedari tadi tak menjawab istrinya yang mengajaknya bicara, Attar begitu kelut dengan pemikirannya sendiri.
"Perasaan apa yang ada dalam hatimu untukku? Aku tak ingin menjadi pelampiasanmu!"
Attar melepaskan tangan yang sedari tadi menggenggamnya. Syiera mencoba menahannya, tapi sayang tenaga Attar lebih kuat darinya. Hingga Attar mampu melepaskan genggaman itu.
Syiera pun hanya bisa pasrah, Syiera merubahkan posisinya menjadi meringkuk, tangis yang ia tahan, akhirnya lolos begitu saja.
Attar kembali masuk kamar, dilihatnya, Syiera masih dalam posisi meringkuk. Ia menghampiri istrinya, tak tega karena ia sedang sakit. Ditambah lagi kain yang menempel di keningnya terlepas.
Ia pun kembali mengomprenya, Syiera membuka matanya, dilihatnya, Attar masih peduli padanya. Disaat Attar akan meletakan kain itu di keninganya, tatapan mereka saling beradu.
"Tidurlah, ini sudah malam," ucap Attar setelah meletakan kain basah di kening istrinya.
"Jangan pergi, aku takut jika ditinggal sendirian," Syiera memelas.
"Iya, aku temani kamu tidur."
Syiera menggeserkan tubuhnya, memberi ruang pada Attar agar ia tidur di sampingnya. Attar pun merebahkan tubuhnya di dekat istrinya. Perasaan Attar campur aduk, kecewa, cinta, menjadi satu.
Setelah Attar membaringkan tubuhnya, Syiera malah memeluk tubuhnya dari samping. Sontak membuat Attar langsung menoleh ke arah Syiera.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini untuk malam ini," bisik Syiera.
"Please! Jangan seperti ini, Syiera. Akan sulit bagiku untuk melepasmu."
Akhirnya mereka pun terlelap bersama dengan posisi Syiera yang memeluk suaminya. Entah kenapa, Syiera tak ingin jika suaminya itu mundur dari posisinya yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Untuk Alex, ia akan melepaskannya secara perlahan. Pepatah bilang, pilihan orang tua tidak mungkin salah.
Keesokan harinya
Matahari mulai menampakkan dirinya, sinar mentari masuk ke dalam kamar lewat celah jendela. Dan Attar merasakan kilauan mentari itu tepat di wajahnya. Sedikit demi sedikit, ia membuka matanya.
Pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik istrinya, tak ingin terbuai akan keindahan itu, Attar langsung beranjak. Dengan pelan ia menurunkan tangan yang menindihnya, tak ingin membuat si pemilik itu terbangun.
Attar merasa, ia hanya menjadi pelampiasan istrinya saja, dikala Alex tak ada. Tapi sayang disaat Attar akan beranjak, Syiera pun ikut terbangun.
"Jam berapa ini?" tanya Syiera.
Lagi-lagi, Attar tak bersuara, itu membuat Syiera berpikir kalau suaminya itu memang tak ingin berteman dengannya. Apa yang harus Syiera lakukan dengan sikap suaminya yang menjadi pendiam tak banyak kata?
Kemana Attar yang beberapa hari ini sudah menemaninya? Kemana?
Attar pun beranjak, Syiera hanya bisa menyaksikan itu tanpa bisa berbuat apa-apa. "Apa dia masih marah padaku soal kemarin?" tanyanya pada diri sendiri.
Kepalanya masih sedikit pusing, tapi ia paksakan untuk bangun dari tempat tidur. Kini ia sudah menjadi seorang istri, tidak boleh manja, masa demam sedikit saja jadi melehoy! pikirnya.
Akhirnya ia pun pergi ke dapur meninggalkan suaminya yang saat ini sedang di kamar mandi. Syiera membuatkan teh hangat untuk suaminya. Tapi naasnya, cangkir yang ia pegang malah terlepas dari tangannya. Jadinya air teh itu menyirami kakinya.
Syiera pun langsung mengaduh.
bersambung
__ADS_1