Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
30


__ADS_3

Di dalam kamar, seorang wanita tengah tertidur dengan pulasnya. Tak lama, wanita itu terbangun karena cacing di dalam perutnya meronta-ronta minta diisi.


Ketika wanita itu sudah terduduk, ia menatap sekeliling kamar. Bukan kamar ini yang ia tempati tadi, karena sudah tak asing lagi dengan tempatnya. Ia pun berpikir, ini pasti kerjaan suaminya.


"Duh ... Tidur kok, gini amat sih!" gerutu gadis itu sambil memukul-mukul kepalanya.


Tanpa ia sadari, ada seorang pria tengah menatapnya. Lucu, dan menggemaskan menurutnya. Siapa lagi kalau bukan Attar, suami dari wanita yang kini tengah terduduk di atas kasur.


"Ehem." Deheman dari seseorang mengalihkan tatapan Syiera. Attar terkekeh ketika sang istri tengah menatapnya dengan tajam. Attar pun menghampirinya, lalu ikut duduk di sampingnya.


Tiba-tiba ... Syiera memukul dada bidang suaminya, ia begitu kesal dengan keluannya. Tanpa sepengetahuan dirinya, suaminya asal memindahkan raganya.


"Usil banget, sih," cetusnya sembari mengerucutkan buah bibirnya yang berwarna merah jambu. Asli tanpa lipstik, dan itu membuat sang suami ingin melahapnya.


Ketika Attar akan menciumnya, Syiera lebih dulu menutup mulutnya dengan tangannya. Menutupnya rapat-rapat, agar sang suami tak bisa menciumnya.


"No ... No ... No!" Ia mengacungkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan. Enak saja main sosor, di dunia ini tidak ada yang gratis, bos. Pikirnya.


"Kenapa?" tanya Attar ketika istrinya tidak membolehkan menciumnya. Bukankah selama ini boleh-boleh saja, lalu kenapa sekarang tidak boleh? Apa istrinya masih marah?


"Ayolah, honey ... Jangan hukum aku. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, asal jangan yang satu ini," ucapnya sambil menyentuh bibir istrinya.


"Bener? Apa saja?"


Attar pun mengangguk.


"Ambilin makan, aku mau makan di sini. Terus, buatin jus mangga."


Dengan sigap, Attar langsung memberi hormat, bak polisi yang menghormati atasannya.


"Beri aku semangat dulu," pinta Attar.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibirnya, Attar lebih semangat dengan apa yang dilakukan istrinya. Bukankah dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika Syiera membalas cintanya, ia akan menjadikan Syiera wanita paling bahagia di muka bumi ini.


Setelah mendapat kiss dari istrinya, Attar langsung ke dapur tepatnya ke ruang makan. Bi Ani sudah menyiapkan makanan untuk mereka, lalu, Attar mengambil makanan itu dan meletakannya di atas piring. Tidak lupa ia membuatkan jus mangga untuk istrinya, sesuai pesanannya.

__ADS_1


"Tuan ... Lagi apa? Sini biar Bibi yang mengerjakannya," kata bi Ani yang baru saja tiba, dengan menjingjing ember yang berisikan baju basah, sepertinya bi Ani hendak menjemur baju.


"Tidak usah, Bi. Ini sudah selesai kok," ucapnya sambil menuangkan jus ke dalam gelas. "Bibi lanjutkan saja pekerjaan Bibi," sambungnya lagi.


Ini yang membuat bi Ani betah bekerja di sini. Attar begitu baik padanya, Attar sudah menganggap bi Ani seperti saudara. Bisa dibilang, bi Ani seperti ibunya. Bi Ani pun melanjutkan pekerjaan.


Selesai membuat jus, Attar kembali ke kamar. Dengan piring dan sebuah gelas yang berisikan jus yang ia bawa.


"Honey ... Ini." Attar meletakkan piring dan gelas di atas nakas. Mendengar gemircik air dari kamar mandi, Attar berpikir mungkin istrinya tengah berada di sana.


Sambil menunggu sang istri selesai mandi, Attar menuju balkon. Menghirup udara segar di sana, tak lama, ponselnya berdering. Attar pun mengangkatnya.


"Ada apa, Malik?"


"Bos ..." Suaranya terdengar ngos-ngosan di telinga Attar.


"Ada apa? Apa yang terjadi?"


"Dia kabur, Bos. Maaf, saya ceroboh," jelas Malik.


Attar menghela napas. Sebelum Malik mengatakannya, Attar sudah menduga. Mau bagaimana lagi? Attar pun hanya pasrah. Tapi ia harus hati-hati, takut Juan kembali menyerang istrinya.


Wangi sampo mengudara dipenciumannya, mungkin Syiera yang baru saja selesai mandi. Dan itu membuat Attar semakin menggilai istrinya, bayangannya teringat akan pertama kali mereka melakukan sesuatu yang menjadi candu baginya.


Attar pun melepaskan pelukan istrinya, lalu menatap lekat-lekat wajah itu.


Ia tersenyum pada istrinya, istrinya pun tak kalah membalasnya. Mereka kembali berpelukan dengan posisi berbeda dengan yang tadi.


Tak kuat menahan lapar, Syiera pun mengajak suaminya untuk ke dalam.


"Aku sudah laper, masuk yuk?" ajaknya.


Attar mengangguk sebagai jawaban.


Dengan manja, Syiera meminta suaminya untuk menyuapinya, dengan lahapnya ia menghabiskan semua makanannya. Tak lupa, Attar memberikan jus mangga padanya. Syiera benar-benar dibuatnya bahagia.


"Makasih ya, sayang," kata Syiera.

__ADS_1


"Ada lagi yang kamu inginkan? Pijat, mungkin?" Sepertinya, Attar sedang modus. Ia menawarkan pijatan plus-plus pada istrinya. Nyelam sambil minum air, kapan lagi bisa seperti ini? Pikirnya.


Tanpa curiga, Syiera pun mengangguk. Polos ... Atau memang iya merasakan kaku disetiap otonya. Dengan lembut Attar memijatnya, pikirannya sudah menerawang jauh akan sesuatu, sambil senyum-senyum sendiri.


"Honey ... Enak tidak pijatanku?"


Tak mendengar atau respon dari sang istri, sejenak Attar menghentikan pijatannya. Dilihatnya, Syiera malah tertidur kembali, dan itu membuatnya kesal, tadinya mau enak-enak. Eh ... Si pemilik raga malah terlelap.


Attar hanya bisa menghela napas. "Baru juga bangun, kok malah tidur lagi sih," kata Attar sambil memperhatikan wajah istrinya, dengkuran halus pun terdengar. Menandakan bahwa Syiera begitu nyenyak.


Tak bisa berbuat apa-apa, ia pun ikut berbaring di samping istrinya. Masa liburnya habis dengan rebahan di kamar tanpa melakukan apa pun.


Hingga malam pun tiba.


Hari berganti Minggu pun berlalu, tak terasa waktu begitu cepat. Tiba saatnya masa libur Aleta, yang akan berkunjung ke Indonesia.


"Honey, bangun ... Kita kesiangan," kata Attar sambil mengguncangkan tubuh istrinya. "Kita akan jemput Aleta hari ini," sambungnya lagi.


Mendengar nama Aleta, Syiera langsung terbangun. Saking kagetnya. ia langsung berlari ke kamar mandi, ia tak ingin terlambat menjemput adik iparnya itu.


Secepat kilat, Syiera sudah selesai mandi. Attar hanya geleng-geleng kepala, melihat Syiera begitu antusias.


"Cepat mandi! Nanti kita terlambat," cetus Syiera. Attar sedari tadi tak melepaskan pandagannya pada istrinya.


"Tenang sedikit, kita tidak akan terlambat." Setelah mengatakan itu, baru Attar pergi untuk mandi.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, tengah perjalanan menuju Bandara. Sepertinya Syiera nampak gugup, karena Aleta pernah salah paham padanya.


"Bagaimana kalau Aleta masih marah padaku," kata Syiera.


Attar menyatukan kedua alisnya. "Marah kenapa?"


"Bukankah dia juga ikut salah paham, sampai adikmu membalas perlakuanku padamu," jelas Syiera.


"Tidak! Dia tidak akan marah, Aleta bukan tipe pendendam." Attar mencoba meyakinkan hati istrinya.


Setibanya di Bandara.

__ADS_1


"Kakak ...?" panggil seseorang pada Syiera.


bersambung


__ADS_2