Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
64


__ADS_3

Hari-hari berlalu, Alea mulai terbiasa dengan keluarga barunya. Khai sang kakak mulai sibuk mempersiapkan pesta pernikahan adiknya.


Dam yang mulai bergelut dengan masalah pekerjaan di kantor sebelum ia menggelar pesta. Undangan sudah ia sebar, undangan itu tersebar luar hingga di internet.


Ketika Aleta melihat media sosialnya ia terkejut bukan main. Melihat akun Dam, ada sebuah unggahan yang membuat dadanya menjadi sesak. Aleta pun mengakhiri untuk melihat media sosialnya. Ia memilih acuh, namun tetap, hatinya tidak bisa dipungkiri itu sangat sakit.


Tak lama, ponsel Aleta berdering. Ia melihat ID pemanggil, Attar yang menghubunginya. Dan Aleta pun menjawabnya.


"Iya, Kak. Ada apa?"


"Minggu sekarang ke Indonesia. Dam akan menggelar pernikahannya dengan Alea, kamu ke sini, ya?" pinta Attar.


"Iya, Kak. Aku sudah tahu dari internet."


Setelah bercakap lewat ponsel, Aleta mengakhirinya. Aleta menghela napas panjang, walau bagaimana pun ia harus bisa menerimanya. Bukankah ini sudah jadi resikonya, menjadi kedua tanpa penjelasan yang pasti.


Aleta membiarkan Dam masuk ke dalam hidupnya. Dan ini hasil dari hubungan yang tak semestinya terjadi. Sakit hati ditinggal nikah sama orang yang kita cintai itu begitu memang menyakitkan.


Karena Aleta juga sudah selesai kuliah, ia masih tinggal di Amerika karena sudah mulai bekerja. Ia menjadi pengacara hebat di sana. Usianya yang masih muda tak menjadi hambatan dalam berkarier sebagai pengacara.


Setelah Attar memberi kabar, ia putuskan ke Indonesia hari ini juga. Aleta sudah menyiapkan hati untuk menerima ini semua. Ia pun langsung mengemas baju-bajunya ke dalam koper.


Selesai itu ia langsung ke Bandara. Dan untungnya ia masih bisa mengejar penerbangan dari Amerika ke Indonesia. Pesawat lepas landas dengan sempurna. Kedatangannya sudah ia beritahu ke sang kakak. Attar menyuruh Malik untuk menjemputnya.


Setibanya di Bandara. Aleta langsung bertemu dengan Malik, gadis itu tak sejutek dulu pada Malik. Ia bersikap biasa saja, tapi tidak dengan Malik. Pria itu selalu mencuri pandang pada Aleta.


"Selamat datang di Indonesia, Nona Aleta," sapa Malik.


Aleta hanya tersenyum menanggapi sapaan dari Malik. Dan mereka langsung menuju mobil, mereka langsung pulang.


"Apa Nona sehat di sana?" tanya Malik basa basi. Pria itu ingin mengetes Aleta, apa Aleta masih acuh seperti dulu.


"Aku sehat, Malik. Jangan panggil aku Nona, panggil saja Aleta," pintanya.

__ADS_1


Malik pun mengangguk, ia tak bisa membantah takut menghilangkan mood dari gadis itu.


Apa lagi Malik tahu kalau Aleta pasti sedang bersedih karena sudah di tinggal oleh Dam, kekasih Aleta menikah. Dan Malik tahu betul perasaan Aleta pada Dam.


Malik terus memperhatikan Aleta dari kaca spion yang menggantung. Gadis itu tengah menatap ke arah jalan, dan tatapannya kosong. Entah apa yang di pikirkan gadis itu. Selama perjalanan tak banyak perbincangan diantara mereka. Hingga sampai di mansion Attar, Aleta masih belum menyadarinya, Gadis itu masih melamun.


"Nona, eh maksudku Aleta. Kita sudah sampai," kata Malik.


Suara Malik membuyarkan lamunan Aleta, hingga gadis itu terkesiap. Ia baru menyadari bahwa ia sudah sampai. Malik keluar lebih dulu, ia membukakan pintu untuk Aleta.


Aleta masuk ke dalam rumah, sementara Malik, pria itu mengambil koper yang ada dalam bagasi. Lalu setelah itu ia menyusul Aleta.


Attar tak menganggap Malik sebagai babu, pria itu sudah menganggap Malik seperti saudara. Karena Malik tak memiliki sanak saudara, pertemuannya dengan Attar pun tak disengaja.


Dulu ia dipertemukan dengan Attar dalam keadaan nyaris kehilangan nyawanya. Dan Attar menolongnya, hingga sekarang Malik masih bersama Attar. Pria itu membalas budi dengan kesetiaanya pada Attar. Menjaga keluarganya kala Attar sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Setelah menyimpan koper, niat Malik akan kembali ke dalam mobil, tapi keburu di cegah oleh Aleta. Di rumah itu nampak sepi, pada kemana penghuni di sini? Begitupun dengan bi Ani, ibu paruh baya itu pun tidak ada di tempatnya.


"Di rumah orang tuanya, Al. Sudah hampir seminggu Nyonya Syiera di sana, kalau Tuan. Dia di rumah sakit," jelas Malik.


Aleta menghela napas, lalu ia pun pergi ke kamarnya, sebelum Aleta benar-benar menghilang. Malik menawarkan sesuatu pada Aleta.


"Al, apa kamu mau teh?" tawar Malik.


Aleta nampak berpikir, ia menghentikan langkahnya tepat dianak tangga.


"Boleh juga, kamu antarkan saja ke kamar. Aku mau mandi," jawab Aleta. Gadis itu pun berlalu.


Sementara Malik, ia langsung ke dapur membuatkan teh hangat untuk Aleta. Selesai membuat teh, ia langsung mengantarkan teh itu ke kamar Aleta. Pintunya tidak dikunci dan itu membuat Malik dengan mudah bisa masuk ke dalam sana.


Malik mendengar suara gemircik air, bisa dipastikan bahwa Aleta yang berada di dalam kamar mandi.


"Aleta, tehnya sudah aku simpan di atas nakas." Malik berteriak, dan Aleta pun tak menjawab karena pasti tidak mendengar suara Malik. Malik langsung saja keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Selesai mandi, Aleta langsung keluar dari dalam sana. Ia melihat secangkir teh di atas nakas, ia pun langsung menyeruput teh itu. Aleta menikmati teh buatan Malik, rasanya begitu pas. Sehingga Aleta menyeruput untuk yang kedua kalinya.


Lalu ia pun memakai baju, selesai itu. Ia kembali ke bawah, suasana masih sepi. Ia melihat Malik yang ada di taman. Aleta pun ikut bergabung dengan Malik di sana.


Malik terpenjat kaget mendapati Aleta tiba-tiba ikut duduk di sampingnya.


"Kenapa gak istirahat?" tanya Malik. "Apa kamu tidak capek?" sambungnya lagi.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, ia begitu menikmati cuaca sore ini. Sedikit mendung, tapi sedikit ada angin di sana. Aleta meresapi angin yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Sebaiknya kamu masuk, cuacanya sedikit buruk," kata Malik memberi saran.


"Aku masih ingin di sini. Di dalam bikin suntuk, gak ada siapa-siapa," jawab Aleta.


"Hmm, baiklah terserah kamu saja."


Tiba-tiba Aleta menanyakan sesuatu hal pada Malik.


"Apa kamu pernah jatuh cinta?"


Malik langsung menoleh pada Aleta, begitu pun Aleta. Mereka jadi saling menatap satu sama lain.


"Pernah, tapi aku memendamnya. Cukup melihatnya saja aku sudah bahagia," jawab Malik. Bahkan Malik masih melihat wajah Aleta tanpa berkedip.


"Kenapa tidak mengungkapkannya?" Aleta penasaran. Kenapa Malik tidak menyatakan cintanya.


"Karena aku sudah tau jawabannya." Setelah menjawab itu, Malik langsung memalingkan wajahnya dari Aleta. Pria itu melihat lurus ke depan. "Lebih baik aku pendam saja, cukup mencintainya dalam diam."


Jawaban Malik, membuatnya teringat akan hubungannya dengan Dam. Gadis itu menitikkan air matanya, kisah cintanya mungkin sama seperti Malik. Hanya saja, Aleta membiarkan cintanya itu tumbuh pada Dam, sampai ia mengalami sakit yang luar biasa.


Mendengar Aleta terisak, Malik kembali menoleh ke arah Aleta. Dengan berani, Malik menghapus air mata yang membasahi pipi mulus Aleta.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2