
Sudah seminggu lebih Attar berada di luar negri, Syiera yang masih setia menunggu tak menimbulkan kecurigaannya, mungkin suaminya memang masih sibuk di sana.
Apa sesibuk itu sampai Attar tak menghubunginya. Syiera sudah beberapa kali mencoba menghubungi Attar, namun ponselnya selalu tidak aktif. Berbagai cara ia mencoba menghubunginya, sampai hatinya begitu lelah.
Syiera ingat akan medsos milik suaminya, ada secerca harapan untuk ia menegtahui kabar suaminya. Jari-jari lentiknya sudah menari-nari di layar ponselnya.
Mulutnya menganga dan mungkin matanya hampir copot setelah ia melihat unggahan milik suaminya. Pantas ponselnya tidak aktif, bahkan suaminya sudah ingkar janji. Bilangnya seminggu ada di Amerika. Ini, hampir dua minggu.
Syiera merasa hatinya sudah dikhianati. Apa mereka akan selalu ada dalam kesalahpahaman? Entahlah ...
Mata Syiera sudah mulai menggenang, baru saja ia menanti kebahagiaan bersama suaminya, tapi apa yang ia dapat? Kekecewaan yang berlapis di hatinya.
Syiera menyapu bersih yang ada di atas meja kerjanya dengan kedua tangannya, bahkan ponsel yang ia pegang tadi mungkin sudah hancur berkeping-keping, karena ia membantingnya cukup keras.
Arin yang mendengar suara dari ruangan atasannya, langsung bergegas menghampirinya. Takut terjadi sesuatu padanya, dan benar saja. Setelah Arin masuk, ruangan itu sudah mirip kapal pecah. Berkas-berkas berhamburan di mana-mana.
Melihat atasannya sedang menangi, Arin langsung menghampirinya. Mereka cukup dekat jika sedang di kantor, bahkan Arin tahu kalau atasananya itu sudah mengakhiri hubungannya dengan Alex. Arin mengira, inibada hubungannya denga lelaki itu.
"Bu, Ibu gak apa-apa 'kan?" tanya Arin
Bukannya menjawab, Syiera malah menangis dengan histeris, pertanyaan Arin membuatnya baper.
"Arin ... Apa semua lelaki itu berengsek!"
Arin yang tak tahu permasalahannya tidak bisa menjawab, karena lelakinya tak seperti apa yang diucapkan atasannya itu.
Arin mencoba menenangkan Syiera, ia memberikan segelas air mineral padanya, sekali tenggak minuman itu habis tak tersisa. Setelah minum, Arin kira tangisannya akan berhenti, tahunya tidak.
Arin benar-benar dibikin pusing. Waktu kemarin gagal nikah dengan Alex tak sepuruk ini, apa yang harus dilakukannya agar atasannya itu menghentikan tangisannya.
Masa iya harus memanggil pak Darren, inikan bukan masalah kantor. Eh, tunggu. Arin baru ingat, merekakan masih keluarga. Cepat-cepat Arin meraih telepon yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Mau telepon siapa?" Aksi Arin langsung terhenti kala mendengar suara dari atasannya. Syiera tak ingin ada yang tahu permasalahannya termasuk orang tuanya.
Arin pun kembali meletakkan telepon itu yang sudah berada dalam genggamannya.
"Saya hanya khawatir, takut Ibu kenapa-kenapa!" terang Arin.
Akhirnya, Syiera pun berhenti menangis. Sebaiknya ia pergi dari kantor sebelum daddy-nya tahu.
"Arin, saya akan pergi. Kamu handle semua kerjaan, jika Daddy ke sini bilang saja saya ada urusan! Jangan katakan apa pun!" Setelah mengatakan itu, Syiera enyah dari tempatnya.
Akan kemana ia pergi? Tak ada tujuannya saat ini. Ia hanya ingin menghilangkan perasaan yang berkecamuk pada suaminya itu. Bahkan ia tak membawa mobilnya, ia terus menelurusi tepi jalan tanpa arah.
Hingga teriknya matahari membakar kulitnya, kini ia baru tersadar, entah ada di mana saat ini ia berada. Sebuah tangan menarik lengannya dengan paksa.
"Apa kamu sudah gila! Kamu tidak lihat!" Orang itu terus memakinya, orang itu adalah Alex. "Aku kira, setelah aku merelakanmu kamu akan hidup bahagia!" Setelah melihat keadaan Syiera seperti ini, sepertinya ia tak bisa pergi dari hidupnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan suamimu? Mana Syiera yang aku kenal! Kamu terlihat bodoh, Syiera!" geram Alex. Namun Syiera tak bergeming sama sekali.
Di dalam mobil, tak ada yang bercakap. Sesekali, Alex melihat ke arah gadis yang sedari tadi hanya terdiam. Syiera menatap jalanan dari kaca samping mobil.
Tatapannya kosong, hidupnya begitu hancur. Ini pertama kalinya ia merasakan sakit hati yang begitu dalam.
"Syiera?" Yang dipanggil hanya menoleh sekilas, setelah itu ia kembali ke posisi semula. Alex menepikan kendaraannya. Ia tak bisa melihat sang pujaan hati seperti ini. Diantara mereka memang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sejak Syiera memutuskan hubungannya. Alex mencoba menerima dan mengikhlaskan Syiera bersama suaminya.
Tapi setelah begini keadaannya, ia akan merebut paksa kembali hati Syiera yang mulai tumbuh pada suaminya. Alex bisa merasakan cinta Syiera begitu besar pada suaminya, karena selama mereka pacaran Syiera tak pernah seperti ini.
Apa pun caranya Alex akan merebut Syiera dari Attar. Attar tak pantas mendapatkan wanita seperti Syiera, itu pikir Alex. Tanpa tahu apa permasalahan diantara Syiera dengan suaminya. Alex, so-soan akan menjadi pahlawan bagi Syiera.
Alex kembali melajukan mobilnya, namun disaat Alex akan melewati hotel, Syiera minta diturunkan. Alex hanya menuruti apa yang diingan gadis itu saat ini.
Alex terus mengikuti kemana langkah Syiera. Syiera mulai menyadari bahwa Alex mengikutinya.
__ADS_1
"Pergilah ... Jangan pedulikan aku!" Syiera kembali berjalan, Alex terus mengikutinya.
"Aku bilang pergi!" Akhirnya Syiera membentak Alex.
"Mana Syiera yang aku kenal? Sejak kapan kamu jadi sekasar ini?" Alex tak percaya akan perubahan Syiera, dalam sekejap suaminya itu membuat hancur orang terkasihnya.
"Aku mohon! Jangan seperti ini." sambung Alex lagi.
Syiera tak lagi memepedulikan Alex, ia memeprcepat langkahnya. Ia masuk ke dalam hotel dan memesan kamar, ia putuskan untuk tidak pulang ke rumah suaminya. Setelah mendapatkan kuncinya, Syiera langsung saja menuju kamar yang telah ia pesan. Dan akhirnya Alex berhenti mengejar Syiera.
Syiera langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Matanya sudah sembab, ia begitu lelah, terlalu banyak air mata yang ia keluarkan untuk seorang Attar.
Siapa Attar? Bahkan ia sudah berani berkhianat padanya. Larut dalam pikirannya, Syiera terlelap.
***
"Apa Kakak sudah yakin akan pulang hari ini?" tanya Aleta.
Attar memutuskan pulang hari ini, mungkin jika keadaan tidak mendesak, ia tak akan kembali cepat-cepat ke Indonesia. Namun ini urgen, soal rumah sakit, ia tak bisa melalaikan pekerjaannya. Ia harus propesional.
"Awas ya, kalau Kakak berbaik hati lagi pada wanita pengkhianat itu!" Aleta menjuluki Syiera sebagai wanita pengkhianat.
"Sudah ... Jangan bahas masalah dia. Kakak ada urusan di rumah sakit, kepulangan Kakak tidak ada hubungannya dengannya." Bahkan Attar merasa sudi menyebut nama istrinya.
Aleta melepaskan kakaknya pulang hari ini.
"Hati-hati ya, Kak. Hubungi aku jika ada sesutu," tutur Aleta.
Selama penerbangan, Attar memikirkan akan tidur di mana dirinya. Ia tidak mungkin pulang ke rumah, enggan untuk bertemu dengan wanita yang sudah menipunya mentah-mentah. Akhirnya ia putuskan untuk menginap di hotel.
bersambung.
__ADS_1