Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
93


__ADS_3

Ketika Malik dan Aleta sudah tidak terlihat, Feli kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti. Feli harus mengubur perasaan itu dalam-dalam, karena Feli sangat membenci orang ketiga. Biar ia mengubur persaan yang sudah mulai tumbuh pada Malik.


Kadatangan Feli ke mal, ia ingin menjumpai sahabatnya. Mereka baru menjalin pertemanan lewat media sosial, bahkan mereka belum pernah bertemu dengan orang yang dikenalnya lewat internet itu.


Felisia celingak celinguk mencari ciri-ciri orang yang akan ditemuinya. Feli mencari orang berbaju warna merah, tak lama pandangannya melihat ke titik di mana ada orang yang persis dengan ciri-ciri tersebut.


"Khai," panggil Felisa. Khai pun menoleh ke arah Feli. "Bener ini, Khai?" tanya Feli kembali. Karena ia takut salah orang.


"Iya, namaku, Khai. Apa kamu Felisia Jonas?"


Feli menganggukkan kepalanya, dan Khai langsung mempersilahkan Feli duduk. Di media sosial mereka terlihat begitu akrab. Namun, setelah bertemu, Khai menjadi malu-malu. Sedangkan Feli, gadis itu nampak biasa saja.


Awalnya terjalin pertemanan diantara mereka karena sebuah status. Khai lebih dulu memposting kata-kata yang tengah galau, lalu Feli berkomtar. Dari situ mereka jadi saling curhat dan tukar nomor ponsel. Feli sempat curhat akan kegalaunya, mengenai tentang perasaannya yang belum apa-apa harus ia kubur dalam-dalam.


"Mau pesan apa, Nona Feli?" tanya Khai.


"Green tea saja," jawab Feli singkat.


Khai mengayunkan tangannya memanggil pelayan, dan pelayan pun datang. Setelah memesan minuman untuk Feli, pelayan itu pun undur diri.


"Kenapa masih di sini jika orang yang kamu sukai saja sudah menikah?" tanya Feli tiba-tiba.


"Aku betah saja di sini. Lagian, ada saudaraku yang tinggal di sini. Mungkin hanya beberapa bulan saja aku di sini," jawab Khai panjang lebar. Membuat Feli hanya menganggukkan kepalanya sambil berkata.


"Ooohhh ... Gitu."


"Kamu sendiri bagaimana? Setelah orang yang kamu taksir ternyata sudah menikah, apa begitu sakit rasanya?" tanya Khai balik.


"Tidak, karena aku hanya menyukai, perasaanku belum begitu dalam."


Mereka berbincang begitu lama. Sampai keduanya menjadi lebih akrab, Feli suka berteman dengan Khai. Begitu juga dengan Khai.


Di tempat lain.


Bumil yang sedang asyik menonton sambil menangkup pop corn di tangan. Aleta begitu serius melihat derama yang sedang tayang di layar lebar. Suasana gelap menambah kesyahduan adegan itu. Malik yang tak hobi menonton pun sampai terbawa suasana. Ini perdana bagi Malik, menonton adegan dewasa dengan sang istri.

__ADS_1


Sesekali, Aleta menggigit bibir bawahnya. Dan Malik melihatnya, karena kursi mereka berada di belakang dan ada di pojokkan membuat Malik berani mencium bibir istrinya.


Mata Aleta terbelalak, ia tak percaya akan perlakuan suaminya. Aleta sedikit mendorong tubuh suaminya.


"Tak kenal tempat," omel Aleta setelah Malik sedikit menjauh.


"Gak ada yang lihat ini." Malik kembali mendekatkan wajahnya, tapi sayang, Aleta memalingkan wajahnya.


"Pulang saja kalau begini." Aleta langsung berdiri meninggalkan suaminya yang masih terduduk. Tak lama, Malik pun menyusul istrinya.


"Marah ya?" Duga Malik.


"Gak! Kamu tuh main nyosor aja. 'Kan gak enak kalau dilihat orang," jawab Aleta.


Malik melihat jam yang menempel di tangan, sudah sore juga, ia berniat mengajak pulang istrinya. Dan pada akhirnya mereka putuskan untuk pulang sekarang juga.


***


"Feli, ini sudah sore. Apa kamu masih ingin di sini?" tanya Khai. "Kalau aku harus pulang sekarang, saudaraku menyuruhku untuk pulang," sambungnya lagi.


Karena sudah izin. Khai pun pulang lebih dulu, ia mendapat pesan dari Alea dan memintanya untuk segera pulang. Khai sedikit khawatir, karena tak biasanya Alea memintanya untuk pulang.


Mobil yang di kendarai Khai langsung melaju dengan kencang, hingga tak membutuhkan waktu lama baginya sampai di rumahnya. Alea sudah berada di rumah yang di tempati Khai, yaitu rumah yang sempat Lisa dan Leo tempati sewaktu masih tinggal di Indonesia. Karena rumah Dam dan rumah Khai berdekatan.


"Ada apa, Al? Kenapa menyuruhku pulang?" tanya Khai setibanya di hadapan Alea.


Tanpa menjawab, Alea memberikan sebuah amplop pada kakaknya tersebut.


"Apa ini?" Karena penasaran, Khai membuka amplop tersebut dan membacanya. Khai begitu terkejut setelah mengetahui hasilnya.


"Apa mkasudnya ini, Alea? Bukankah dulu hasilnya normal. Kenapa sekarang jadi begini, coba kamu jelaskan!"


"Itu hasil yang sebenarnya, Khai. Aku sudah berbohong, dan aku tidak bisa membohongi Dam dan keluarganya lebih lama lagi. Aku akan meminta cerai dari Dam."


"Jangan gila kamu, Alea. Kamu sudah siap menjanda dan mendapat nyinyiran dari orang? Menyandang status janda itu tidak mudah. Pikirkan ini baik-baik. Aku yakin, Dam bisa menerima kekuranganmu. Alea!" Khai tidak setuju dengan keputusan Alea yang ingin bercerai dari Dam.

__ADS_1


Khai yakin kalau Dam akan menerima segala kekurangan Alea karena Dam mencintai Alea.


"Sebaiknya kamu bicarakan ini dari hati ke hati dengan Dam. Aku yakin Dam bisa menerima takdirnya."


"Tidak, Khai! Dam berhak bahagia, aku tidak bisa membahagiakan suamiku." lirih Alea dalam tangisan. "Bantu aku, Khai. Bantu aku menggugat cerai Dam."


Khai menggelengkan kepalanya, ia menolak keinginan adiknya itu. Karena masalah ini bisa diselesaikan tanpa adanya perceraian.


"Jangan sampai kamu menyesal, Alea. Dam begitu mencintaimu, aku yakin Dam bisa menerima kekuranganmu. Bahkan kalian bisa mengadopsi anak!" Khai meyakinkan adiknya bahwa cinta suaminya begitu besar padanya.


Tok tok tok


Obrolan khai dan Alea terhenti kala mereka mendengar suara ketukan pintu.


"Hapus air matamu, aku yakin yang datang itu pasti suamimu." Khai menyuruh Alea menghapus air matanya. Khai akan membantu pernikahan adiknya agar terjauh dari perceraian.


Khai pun membuka pintu, dan ternyata benar. Dam datang, mungkin Dam khawatir karena Alea tak ada di rumahnya.


"Khai, Alea ada di sini 'kan?" tanya Dam pada Khai setelah Khai berhasil membuka pintu.


"Ada, dia ada di dalam. Ayo masuk?" ajak Khai.


Dam pun masuk, ia melihat istrinya tengah terduduk di sofa. Ia pun mendekat dan ikut mendudukkan tubuhnya di samping Alea.


"Aku kira kamu kemana, tahunya di sini." Dam menelisik wajah Alea. "Kenapa matamu sembab? Kamu habis nangis ya?"


"Iya, dia nangis karena nonton TV." Khai mendahului jawaban Alea sehingga Alea tak bisa lagi menjawab.


"Iya, Khai. Dari dulu Alea baperan. Dikit-dikit nangis kalau lihat film yang mengandung bawang." Dam pun tergelak dengan ucapannya sendiri. Alea pun ikut tersenyum, namun senyum apa yang di tunjukkan Alea pada suaminya. Senyum getir itu terlukis di bibir Alea. Dam tidak menyadari akan hal itu, bahkan ia semakin meledek istrinya karena tangisannya.


Alea kembali menangis.


"Aku becanda, sayang. Jangan di masukin ke hati ya?" Karena Dam mengira tangisan Alea itu tangisan biasa. Namun nyatanya bukan, Alea menyembunyikan kemandulannya karena keegoisannya. Dan sekarang ia sadar, ia tak bisa begini terus. Alea tak ingin memberikan harapan palsu pada suaminya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2