
Attar mendengar suara seperti gelas pecah, ia pun buru-buru keluar dari kamar, ditambah lagi ia tak melihat istrinya di kamar. Otomatis, ia berpikir bahwa yang menimbulkan bunyi itu dari istrinya.
Attar berlari menuruni anak tangga, ia langsung bergegas ke dapur. Dilihatnya, Syiera tengah berjongkok. Attar langsung saja menghampiri istrinya. Ia kaget!
"Syiera, kamu tak apa-apa?" Attar yang belum melihat kaki istrinya hanya sekedar bertanya.
Lalu Syiera mendongak melihat ke arah wajah suaminya. Syiera malah menangis, ia menangis bukan karena rasa sakit yang ia alami. Ia teringat akan kejadian di mana suaminya yang kena air susu waktu itu. Pasti rasanya sama seperti apa yang dirasakannya saat ini.
Syiera seperti mendapat karma, istri durhaka pada suaminya. Kaki yang masih ia tutupi dengan tangannya, perlahan ia membukanya, dilihatnya si kaki itu melepuh.
Attar terkejut, lalu dengan cepat ia membopong tubuh istrinya. Ia mendudukkan tubuh Syiera di kursi meja makan, tanpa berkata, Attar dengan gesitnya mengambil P3K. Ia langsung mengobati lukanya, dengan lihai ia mengobati luka itu.
"Kenapa tak bilang kalau kamu itu seorang Dokter?" ucap Syiera.
"Apa pedulimu tentangku. Tahu atau tidak, itu tak akan merubah apa-apa!" cetus Attar yang masih fokus pada kaki yang ia tengah obati.
Hati Syiera seperti teriris, kenapa begitu sakit mendengar jawaban dari suaminya, ia bahkan mulai peduli padanya. Tapi sepertinya alam berbalik padanya, jadi manusia terlalu sombong. Lupa akan Tuhan yang pintar membalikkan hati seseorang.
Seperti dirinya, yang dulu membenci Attar dan sikap dinginnya pada sang suami, dan sekarang perlahan es itu mulai mencair. Tapi sayangnya, sepertinya Attar mulai tak respack padanya. Itulah pemikiran Syiera saat ini. Ia terus memperhatikan setiap tingkah suaminya, ucapan dan perlakuannya begitu jauh.
Kata-katanya mulai menyayat hati, tapi tidak dengan sikapnya. Lidahnya bisa berbohong, tapi dari gestur tubuhnya berkata lain.
"Maafkan aku Attar, sepertinya aku mulai mencintaimu. Tapi sepertinya kamu menutup hatimu untukku!"
Keduanya sama-sama tersakiti, kesalah pahaman diantara mereka menjadi pemicu utama. Attar mencintai istrinya, tapi Attar merasa menjadi pelampiasan.
Sementara Syiera, ia mulai mencintai. Tapi ia merasa suaminya menutup pintu hati untuknya. Jadi siapa yang salah di sini? Mereka berdua terlalu kuat menahan ego masing-masing.
Luka yang ia rasakan tak sesakit hatinya, Syiera terus meneteskan air matanya.
__ADS_1
Attar menyangka ia menangis karena luka di kakinya. "Ini gak parah kok, aku sudah obati," sahut Attar yang baru selesai menyalepi kakinya.
"Lagian kamu kenapa bisa seceroboh ini! Sepertinya kamu tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan dapur," kata Attar.
"Tadinya itu, teh untukmu," lirih Syiera.
Attar menghela napas panjang. "Tidak usah repot-repot, aku bisa sendiri," ujarnya. "Apa kamu menginginkan sesuatu?" sambungnya lagi.
"Kalau boleh, antarkan aku ke kamar," pintanya.
Tanpa berucap, Attar langsung menggendongnya dan membawanyan ke kamar. Syiera terus saja mengamati wajah suaminya tanpa berkedip, lalu ia menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Tiba di kamar, Attar langsung saja menjatuhkan tubuh itu dengan pelan.
"Istirahatlah, tubuhmu juga masih sedikit panas. Aku ke dapur dulu," pamitnya pada Syiera. Syiera pun membiarkan suaminya pergi. Setelah kepergian Attar, ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
Dengan gesit jemarinya berselancar, membuka medsosnya, ia mencari tahu tentang suaminya lewat internet. Ia yakin, jika ia pasti mendapat info tentangnya, dicarinya nama Attar. Ia tak tahu nama panjang suaminya. Dan muncullah nama Austin Attar.
"Siapa dia? Apa wanita ini kekasihnya?" pikirnya. Tak ingin merasakan sakit yang begitu dalam, ia pun menghentikan mencari tahu tentang suaminya.
Tak lama, Attar datang dengan membawa nampan, ia membawakan sarapan untuk istrinya. Sepiring nasi goreng, wanginya membuat Syiera meminta perutnya untuk segera diisi.
"Makanlah dulu," kata Attar sambil meletakkan nampan itu di atas nakas. "Obatnya jangan lupa di minum," sambungnya lagi.
"Kamu tak makan? Sini, kita sarapan bareng," ajaknya pada suaminya.
Attar malah menggeleng, dan itu membuat Syiera menjadi sedih, apa suaminya itu benar-benar akan merelakan dirinya? Ditambah lagi setelah Syiera tahu ada perempuan lain di hati suaminya. Mungkin!
Poto yang ia lihat di medsos milik suaminya sudah menjadi bukti, bahwa ternyata sauminya sudah memiliki kekasih. Ah ... Sepertinya Syiera terlalu menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar adanya.
__ADS_1
Attar pergi, ia pergi menuju ruang kerjanya yang ada di rumah itu, ia hanya akan mengcek laporan mengenai rumah sakit. Seharusnya pagi ini, ia harus ke rumah sakit, tapi apa daya, istrinya yang tengah sakit, tak mungkin ia tinggalkan sendirian di sini. Bagaimana pun ia masih istri sahnya.
Setelah selesai memeriksa laporan mengenai rumah sakit, ia kembali menenmui Syiera. Dilihatnya, Syiera malah terdiam melamun. Attar melirik ke arah piring, makanannya masih utuh.
"Kenapa tak dimakan? Apa kamu tidak suka?"
Syiera yang mendengar langsung menoleh, tapi hanya sekilas. Ia kembali memalingkan wajahnya. Attar mengambil piring itu, berniat untuk menyuapinya, pikirnya Syiera pasti mau makan jika disuapi.
"Ayo makan! Aku tidak mau disebut suami yang tak peduli pada istrinya yang lagi sakit," cetus Attar.
Tapi sepertinya, Syiera enggan. Ia malah teringat akan poto yang bersama suaminya.
"Ayolah, syiera. Jangan seperti ini," keluh Attar yang sedang membujuk istrinya itu.
"Tak ada racun dimakanan ini." Attar malah berpikir kalau Syiera tak mau makan karena dikira ia akan meracuni istrinya. "Lihat! Bahkan aku juga makan," ucapnya sambil mengunyah.
Syiera malah terkekeh, karena Attar mengekspresikannya dengan mimik lucu.
"Ayo makan, aku suapi." Attar pun menyedokkan sendoknya lalu mengarahkannya pada mulut istrinya. Akhirnya Syiera pun membuka mulutnya.
"Manis sekali jika melihatnya nurut seperti ini."
Attar tersenyum tipis, senyum itu diketahui oleh Syiera, Syiera pun tersenyum. Tapi sayang, senyum Syiera senyum kecut.
Ia menertawakan hatinya sendiri yang mulai menyukai suaminya, lalu, bagaimana dengan Alex? Apa ia sudah benar-benar lupa pada sosok yang selama lima tahun ke belakang telah mengisi hari-harinya?
Kesabaran Attar, mampu menggoyahkan batu keras yang ada pada diri Syiera. Ingat betul bagaimana perlakuan Syiera di waktu hari pertama pernikahannya. Ia begitu membencinya, tak pernah terpikirkan sama sekali akan merasakan jatuh cinta padanya.
Yang kini keduanya telah merasakan jatuh cinta, tapi terhalang akan kesalahpahaman yang ada pada diri mereka. Mereka mengira cintanya bertepuk sebelah tangan. Lalu bagaimana ke depannya, akankah kesalahpahaman diantara mereka terkuak?
__ADS_1
bersambung