Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
71


__ADS_3

Melihat Aleta menangis, Malik menyesal. Mungkin ia sudah keterlaluan pada istrinya, amarah yang berkobar membuatnya khilaf bahwa sikapnya akan berdampak buruk pada Aleta.


Aleta meringkuk bagaikan anak kucing yang sedang kedinginan. Malik menyelimuti tubuh istrinya, ia melihat bercak darah di atas kasur. Malik mendekat dan memeluk Aleta.


"Maafkan aku, Al," sesal Malik.


Aleta tak menggubris, ia malah merubahkan posisinya. Ia mencoba melepaskan tangan Malik dari tubuhnya. Malik tak menahan Aleta, ia membiarkan tangannya terlepas dari dekapannya.


Malik membiarkan Aleta beristirahat. Karena hari mulai sore, ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, ia menatap wajahnya di cermin. Ia mengepalkan tangannya, lalu memukul-mukul tubuhnya sendiri. Ia benci pada dirinya, entah ada setan dari mana ia bisa berbuat sekeji itu pada istrinya sendiri.


Menyesal pun percuma, itu tidak akan membuat Aleta kembali seperti dulu, gadis itu sudah terluka karenanya.


Semoga saja suatu hari nanti, Aleta bisa menerima dirinya sebagai suami.


Malik kembali ke kamar, ia melihat Aleta sudah memejamkan matanya. Mungkin sudah tidur, pikirnya. Ia mendekat, melihat wajah istrinya dengan seksama. Ada sisa cairan yang masih basah di pipi mulusnya, ia pun mengusap lembut pipinya. Menghapus cairan itu.


Setelah itu, ia menarik selimut. Hanya ingin memastikan bahwa tubuhnya tertutup dengan sempurna. Teringat kalau Aleta belum makan sejak tadi siang. Ia pun pergi ke dapur, mencari bi Ani.


Malik akan menyuruh bi Ani, untuk membuatkan makanan kesukaan Aleta. Tapi mana bi Ani? Malik terus mencarinya, yang dicari bi Ani, yang muncul malah si Khai.


Khai datang, sengaja ia menghampiri Malik. Khai tersenyum seolah mengejek.


"Suami yang tak diinginkan," celetuk Khai.


Pria itu benar-benar memancing semosi Malik. Ingat kalau Aleta sudah menjadi miliknya, ia pun tak meladeninya. "Dasar pria tidak waras! Ngapain dia masih di sini?" batin Malik


Akhirnya, Malik melihat bi Ani. Ia pun pergi meninggalkan Khai, ketika ia berjalan Malik sengaja menyenggol pundak Khai. Khai langsung meletot ke arah Malik, bahkan tangannya sudah mengepal, siap memberi bogeman pada Malik. Khai seperti itu karena ia tak bisa lagi mendekati Aleta. Dari pertama melihat Aleta, Khai sudah jatuh cinta.


***


"Bi, bisa tolong buatkan makanan kesukaan Aleta," ucapnya pada bi Ani. "Kalau bisa bikin makanan untuk_."


"Untuk apa?" pungkas bi Ani. Karena bi Ani merasa curiga dengan gelagat Malik yang tak seperti biasanya.


"Mengembalikan stamina," bisik Malik.


Bi Ani membulatkan matanya. "Mengembalikan stamina?" Bi Ani mengulangi ucapan Malik.


"Ssttt ... Jangan keras-keras." Kata Malik seraya menempelkan jari telunjuknya di bibir.

__ADS_1


"Makanan seperti apa itu? Bibi baru denger."


Tak ingin membuat bi Ani pusing, Malik pun mengatakan apa yang sudah terjadi pada dirinya juga Aleta. Walau sempat malu, tapi ia mengatakannya.


Bi Ani memukul tangan Malik. Bisa-bisanya pria itu mengatakan pertempurannya dengan istrinya. Bi Ani sudah terbiasa dengan Malik, jadi ia tidak canggung ketika Malik sudah menjadi majikannya sekarang.


"Tunggu saja di sana." Bi Ani menunjuk ke arah meja makan. "Bibi akan siapkan sekarang." Bi Ani langsung bergelut di dapur, membuatkan sop daging untuk sepasang pengantin itu.


Sementara Malik, pria itu duduk manis di kursi. Namun, tiba-tiba, ada yang datang menghampirinya. Orang itu menepuk bahu Malik, sehingga Malik langsung menoleh ke arah orang tersebut.


"Tuan," kata Malik. Malik pun langsung berdiri.


"Sedang apa di sini?" tanya Attar. Belum Malik menjawab, Attar sudah kembali berucap. "Jangan panggil Tuan. Panggil saja seperti Aleta memanggilku."


Karena memang sudah kenal lama dengan Attar, Malik langsung mengiyakan tanpa ragu.


Tak lama kemudian, bi Ani datang sambil membawa sop daging yang sudah siap di santap. Tak lupa dengan nasi di piring, isi nampan itu, ada sop serta daging, dan tak lupa dengan minuman kesukaan Aleta.


"Ini," kata bi Ani. Bi Ani menyodorkan nampan pada Malik.


"Ini untuk Aleta," kata Malik pada Attar. Karena Attar sudah siap melayangkan pertanyaan pada Malik, sebelum Attar bertanya, Malik lebih dulu memberitahu Attar.


Bi Ani tak bisa menjawab, karena memang itu benar adanya. Aleta tak pernah makan sop daging. Bi Ani hanya cengengesan tak jelas. Tak mau Attar tahu, Malik memilih untuk segera pergi dari sana.


Attar melihat kepergian Malik begitu saja.


"Saya permisi, Tuan," pamit bi Ani.


Attar pun kembali menemui istri dan anaknya yang sedang berkumpul di ruang tamu.


***


Malik langsung masuk ke kamar, ia melihat Aleta masih tidur.


"Bagaimana ini dengan makanannya? Bisa keburu dingin kalau tidak di makan sekarang," ucap Malik sendiri.


Malik pun meletakan nampanya di atas nakas. Setelah itu, ia beralih menghampiri istrinya. Tak tega membangunkan Aleta yang terlihat begitu nyenyak. Namun, sebelum membangunkan, Malik mengambilkan baju terlebih dulu untuk Aleta.


Malik membuka lemari baju milik istrinya, ia memilih baju yang gampang untuk di gunakan. Yakni sebuah dres cantik bermotif bunga-bunga. Setelah itu, baru ia kembali menghampiri Aleta di kasur.

__ADS_1


Sedikit ragu untuk membangunkannya, takut Aleta makin marah padanya. Perlahan tapi pasti. Malik sudah berada di samping Aleta.


Perlahan, Malik menyentuh tangan istrinya.


Dan Aleta langsung membuka matanya, ia terkejut mendapati wajah Malik yang begitu dengannya.


Aleta langsung mendudukan tubuhnya, tak lupa dengan selimut yang masih menempel di tubuhnya, ia mencekal erat selimut itu.


"Mau apa lagi?" Aleta masih takut dengan Malik, takut kejadian tadi terulang lagi.


"Tenang, Al. Aku hanya ingin memberikan ini." Malik menyodorkan baju yang sempat ia ambil dari lemari Aleta.


"Pakailah," ucapnya kemudian.


Aleta pun langsung mengambil baju itu. "Hanya ini? Masa gak pake daleman," batin Aleta. Tidak mungkin juga menyuruh Malik mengambilkan daleman miliknya. Akhirnya ia memakai baju tanpa daleman.


Malik sadar diri, ia langsung membelaki tubuh Aleta, memberi waktu pada istrinya untuk memakai baju. Beberapa detik kemudian Aleta pun sudah memakai baju, ia langsung beranjak dari tempat tidur.


Namun, ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Bagian intinya sedikit nyeri, tapi ia tak ingin memperlihatkan rasa nyeri itu pada Malik. Sebisa mungkin ia biasa saja.


Ketika Aleta beranjak, Malik pun ikut beranjak. Pria itu langsung mengambilkan makanan yang tadi. Malik memberikannya pada Aleta.


"Makanlah," ucap Malik.


Namun Aleta mengacuhkan perhatian dari suaminya. Malik tak patah arang, ia terus membujuk istrinya untuk makan.


"Makanlah, aku tidak mau kamu sakit."


Aleta tetap tak menggubrisnya, ia malah pergi menuju sofa, dan duduk di sana.


Malik kembali menghampiri, ia tak akan membiarkan perut istrinya kosong. Sedikit paksaan, baru Aleta mau menerima makanan itu.


Setelah itu, Aleta langsung melahapnya. Tidak bisa dipungkiri, tenaganya memang terkuras habis karena pertempuran tadi. Walau ia tak membalas, tetap saja, ia mengeluarkan keringat dingin di sekujur tubuhnya.


Aleta merasa risih dengan tatapan Malik, dengan cepat ia menyelesaikan makannya. Setelah selesai makan, ia langsung membrikan piring itu pada Malik.


Malik menerimanya, dan langsung membawa piring kotor itu ke dapur.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2