Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
94


__ADS_3

"Dam ... Bisa kita bicara?"


Dam mengerutkan kedua alisnya, merasa bingung dengan istrinya itu. Biasanya, Alea tak begini. Apa yang ingin dibicarakan Alea?


"Bicara saja, aku akan mendengarkannya."


Dari kejauhan, Khai memperhatikan gelagat adiknya. Khai tidak ingin adiknya menjadi janda, ia akan mencoba menghalanginya. Khai buru-buru menghampiri Dam dan Alea, ia langsung saja duduk di sofa bergabung dengan kedua adiknya itu.


"Dam, boleh Alea menginap di sini?" pinta Khai.


Tumben sekali si Khai meminta itu. Membuat Dam merasa ada yang disembunyikan dari mereka, sikap mereka tak biasanya seperti ini. Khai terbilang cuek, begitu pun dengan Alea. Gadis itu kalau mau bicara langsung bicara, tak pernah meminta izin terlebih dulu.


"Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"


Deg


Khai begitu terkejut dengan pertanyaan dari Dam, apa insting lelaki itu cukup kuat? Sampai Dam bertanya seperti itu.


"Alea, kamu mau bicara apa? Jangan buat aku penasaran?" tanya Dam.


Sementara Khai, pria itu menggelengkan kepalanya kearah Alea. Alea tahu akan kode itu, tapi ini hanya akan membuat masalah semakin runyam jika dibiarkan.


"Aku akan menerima keputusanmu, Dam. Aku serahkan semuanya padamu," lirih Alea.


Dam sekamin penasaran. "Apa maksudmu? Ngomong yang jelas!"


Tanpa menjawab, Alea memberikan hasil pemeriksaan dokter waktu itu. Dan Dam langsung mengambilnya. Tanpa bertanya, Dam membukanya dan langsung membacanya.


"Apa maksudnya ini? Bukankah hasilnya sama dengan hasil punyaku? Bahkan aku sudah membacanya waktu itu. Kamu jangan becanda, Alea!" Dam terlihat emosi, namun detik kemudian, ia meredam emosinya kala ia melihat Alea menangis sampai sesegukkan.


"Carilah wanita yang bisa membuatmu bahagia, Dam. Aku tak bisa memberikan keturunan padamu," ucap Alea dengan deraian air matanya.


Ucapan Alea begitu menusuk jantung Dam. Ia tak pernah berpikir mencari wanita lain, cukup dulu ia berpaling dari Aleta. Bahkan perasaan bersalah pada Alea masih sering ia rasakan. Cinta Alea begitu besar pada suaminya, sampai ia mengorbankan perasaannya.

__ADS_1


"Kamu jangan asal bicara, Alea. Mana mungkin aku mencari wanita lain!"


"Iya, Al. Aku yakin Dam bisa menerima kekuranganmu," timpal Khai. "Iyakan, Dam. Kamu tidak akan meninggalkan Alea 'kan?" tanya Khai pada Dam.


Dam tidak menjawab, pertanyaan Khai masih sulit untuk dijawab. Karena ia tak tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupannya kelak.


"Iyakan, Dam ...," tanya Khai kedua kalinya.


Dan Dam menganggukkan kepalanya sedikit. Walau ia masih merasa kecewa, karena Dam tidak akan mendapatkan keturunan dari istrinya. Sedangkan Dam, pria itu begitu menginginkan anak dari pernikahannya.


"Aku tidak akan memaksamu terus berada di sampingku." Setelah mengatakan itu, Alea beranjak dari sofa meninggalkan suaminya dan juga kakaknya.


Ketika Dam akan menyusul Alea, Khai mencegahnya.


"Biarkan Alea tenang dulu, Dam. Dia masih belum bisa berpikir jernih."


Dam pun tidak jadi menyusul istrinya, ia menerima saran dari iparnya. Lalu, apa yang akan dilakukan Dam setelah ia tahu semuanya? Apa Dam akan setia? Apa malah sebaliknya? Lalu, bagaimana dengan Alea? Apa wanita itu masih tetap meminta cerai dan menyuruh suaminya mencari wanita lain.


Aleta dan Malik baru saja tiba di rumahnya. Aleta cukup terhibur dengan aktivitasnya hari ini. Mereka benar-benar lelah hari ini, namun kelelahan Malik terbayar dengan buah cinta yang kini sedang di kandung istrinya.


Setibanya di rumah, ibu mertua Aleta menyambut kedatangannya dengan hangat. Ibu paruh baya itu begitu antusias, ingin segera tahu akan kandungan menantunya. Apa dugaannya itu benar kalau Aleta hamil anak kembar?


"Bagaimana sayang dengan hasilnya?" tanya Frita, yang ditanya Aleta yang jawab malah Malik.


"Ma, anakku kembar," jawab Malik, pria itu tak kalah senang dari ibunya. Dan tiba-tiba, Moreno pun muncul, pria itu mendengar kegirangan Malik. Moreno juga bahagia mendengar kabar ini.


Untuk mereyakannya, Frita menyuruh Mira masak banyak hari ini. Mereka akan makan malam bersama, tentu Aleta begitu bahagia. Kelahiran anaknya sangat dinantikan oleh kedua mertuanya. Rasa hangat di keluarga Malik begitu terasa di diri Aleta.


"Ma, kami ke atas dulu ya?" pinta Malik, dan di angguki oleh Frita. Malik dan Aleta pun berjalan sambil bergandengan. Frita tersenyum melihat keromantisan anak dan menantunya. Sedangkan ia dan suaminya pun pergi dari situ. Mungkin mereka juga akan ke kamar, karena hari semakin gelap.


Kini tiba saatnya mereka makan malam, Malik melayani istrinya.


"Makan ini." Malik meletakan daging ayam bagian paha di atas piring istrinya.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap Aleta.


Mereka makan malam dengan khidmad. Hingga makam malam pun selesai, setelah makan, Frita menyuruh Aleta dan Malik istirahat. Keduanya pun langsung beranjak meninggalkan ruang makan.


Aleta dan Malik sudah berada di kamar, bumil itu menyalakan televisi. Sedangkan Malik mengambilkan cemilan yang sudah tersedia di kamar mereka. Niatnya mereka akan kembali menonton seperti di bioskop tadi. Malik ketagihan akan tayangan itu, adegan romatisnya membangkit sesuatu pada diri Malik.


TV langsung di nyalakan, Malik memutar film paling romantis. Bahkan sampai ada adegan 21+ nya. Aleta tersenyum sendiri melihat suaminya memutar film tersebut.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu?" tanya Malik seraya mendudukkan tubuhnya di sofa, di samping istrinya. Aleta menggeleng, wanita itu langsung saja melingkarkan tanganya di tubuh suaminya. Mereka nonton bersama.


Sedangkan di tempat lain.


Dam sedari tadi mengetuk pintu kamar, di mana ada Alea di dalam sana.


"Sayang ... Pulang yuk? Aku laper nih." Dam berusaha membujuk istrinya untuk segera keluar dari persembunyiannya. Dam tidak bisa membiarkan Alea terpuruk, bukan salah Alea jika ia tak bisa mengandung. Tuhan sudah menakdirkan garis hidup masing-masing. Mungkin Alea tidak bisa membahagiakan suaminya, namun bagi Dam kehadiran Alea membuatnya sudah merasa bahagia.


"Ayolah, sayang ... Kamu tega membiarkanku kelaparan. Kalau aku sampai sakit bagaimana?"


Alea mendengar apa yang diucapkan suaminya, ia tak bisa jika melihat suaminya sakit. Apa lagi karenanya, Alea pun akhirnya keluar. Wanita itu menunduk, matanya sudah sembab karena terlalu lama menangis.


Dam menangkup kedua pipi istrinya, seraya menggelengkan kepalanya sendiri. Mengisyaratkan bahwa ia bisa menerima keadaan istrinya sekarang.


"Kita pulang ya?" bujuk Dam. Alea pun mengangguk dengan pelan. Sebelum mereka pulang, Dam memeluk istrinya terlebih dulu.


"Kita hadapi ini sama-sama ya? Kamu tidak sendirian, masih ada aku di sampingmu?"


Rumah tangga mereka begitu kebalikannya dengan rumah tangga Aleta dan Malik. Karena kebahagiaan itu tak selalu hadir di setiap insan. Banyak rintangan menuju kebahagian. Aleta dan Malik sudah melewati masa-masa itu, dan saat ini mereka tengah menikmati kebahagiannya sekarang.


Berhasil membujuk istrinya, Dam langsung pamit pada Khai. Dan Khai mengizinkan itu.


"Alea, kamu harus yakin, bahwa kebahagiaan akan datang suatu saat nanti di keluarga kalian," ucap Khai sebelum adik dan iparnya pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2