Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
24


__ADS_3

"Apa begini kelakuanmu jika suamimu tidak ada! Berapa banyak lelaki yang telah menjamahmu!"


Syiera nampak murka ketika mendengar apa yang diucapakan suaminya barusan, tak terima. Syeira langsung menamparnya. Siapa dia? Berani sekali mulutnya! Pikir Syiera.


Tak terima dengan tamparan yang diberikan oleh istrinya. Attar mencengkram kedua pundak istrinya.


"Kenapa? Apa kamu tidak terima dengan apa yang aku ucapkan? Istri macam apa kamu ini? Sepertinya aku salah menilaimu. Jangan sok suci!"


Sakit ... Sakit yang dirasakan Syiera saat ini. Kapan? Kapan ia menjejakkan tubuhnya pada pria lain? Tak terasa cairan bening terjatuh dari pelupuk matanya.


"Kenapa dia menangis? Apa aku begitu keterlaluan padanya?"


Syiera melepaskan kedua tangan suaminya dari pundaknya. Masih mengenakan jubah handuk, ia meraih koper yang ada di sudut lemari. Ia membuka lemari dan memasukkan semua baju-bajunya ke dalam koper dengan sembarang.


"Apa yang dia lakukan?" Tak ingin istrinya itu pergi. Attar mengambil kopernya lalu membantingnya secara asal.


"Maumu itu apa? Bukankah kamu senang jika aku tak ada! Mungkin jika aku pergi wanita itu bisa menggantikan posisiku!"


Attar tidak mengerti, wanita? Wanita yang mana? Kenapa malah istrinya yang marah? Seharusnya 'kan Attar yang marah, pikirnya


Syiera mencoba keluar dari kamar, namun dengan cepat suaminya itu menghalanginya, ia mendahului dan langsung mengunci pintu. Kuncinya ia buang entah kemana.


Jengkel dangan kelakuan suaminya, ia mendorong tubuh suaminya hingga terkena sudut dinding. Dengan mulut sambil mengoceh tak jelas. Pusing mendengar oceha istrinya, Attar langsung membungkam mulut istrinya dengan mulutnya.


Mereka saling terdiam, kala bibir mereka sudah bersentuhan. Syiera yang menyadari, langsung saja menggigit bibir itu keras-keras. Hingga Attar mengaduh.


"Kau ..." Attar langsung membopong tubuh istrinya, dan menghempaskannya di atas kasur. Dengan cepat ia menindihnya.


Hingga Syiera tak bisa bergerak, tangannya ditekan oleh tangan suaminya, hingga posisi Syiera berada dalam kungkungan suaminya. Dengan emosi yang tersimpan, Attar memajukan wajahnya ke wajah istrinya, nyaris tak ada jarak diantara mereka.


Syiera hanya bisa memejamkan kedua matanya.


Cup


Satu kecupan mendarat di bibirnya, kini Syiera membuka matanya. Mereka saling menatap satu sama lain, entah tatapan apa yang mereka rasakan. Attar dan Syiera menghembuskan napasnya, menahan amarah masing-masing.


Tatapan yang masih tak terlepas dari keduanya, hingga mereka terbawa suasana, hilang sudah rasa benci diatara keduanya. Cinta mereka begitu kuat, dan akhinya, cintalah yang menang.


Pertautan itu kembali terjadi, napas keduanya tersengal. Hingga tautan itu terlepas kala kehabisan oksigen.


"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan." Sepertinya cara ini bisa membuat Attar melepukan perempuan itu, pikirnya. Syiera tak rela jika ada wanita lain di hati suaminya.


Setelah Syiera mengatakan itu, Attar kembali mendaratkan bibirnya. Pertautan itu cukup lama, sampai membangkitkan sesuatu pada diri mereka.


"Aku milikmu, bukan? Lakukanlah." Syiera memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Attar menyibak helaian rambut yang mencoba menghalangi wajah cantiknya, ia daratkan kembali bibirnya di kening, mata, hingga terakhir di benda kenyal kepemilikan istrinya.


Perlahan, Attar membuka jubah handuk yang di kenakan Syiera, perlahan tapi pasti.


Tangannya sibuk memainkan sesuatu di balik jubah itu. "Mendesahlah untukku," bisiknya di telinga Syiera.


Syiera menggelinjang, seperti sesuatu yang ingin keluar, tapi ia tak tahu apa itu. Ini kali pertama baginya merasakannya.


"Beri tahu aku, jika ada yang kurang," ucap Attar, ia tak begitu pengalaman dengan masalah ini. Karena ini juga pertama kali baginya. Sama-sama belum berpengalaman.


"Sudah ... Aku gak kuat," kata Syiera lirih, ketika jemari Attar mulai menari-nari di hutan rimba.


"Aku akan melakukannya."


"Lakukanlah."


Kini, Attar berada di atasnya.


"Syiera?" Sepertinya Attar kesusahan ketika akan menerobosnya.


Setetes air mata keluar dari mata Syiera, setelah Attar berhasil menjebol gawangnya.


Terjawab sudah tuduhannya pada istrinya.


Dilihatnya bercak darah di atas sprei, itu membuktikan bahwa tidak ada yang pernah menyentuhnya, dirinya yang pertama kali melakukannya.


Ketika kapal sudah menyelam lautan hingga dalam, spertinya deru ombak mulai menghantam bibir pantai. Kedua insan ini begitu terlena akan kenikmatan surga dunia yang kini telah mereka capai bersama.


cucuran keringat membasahi tubuh, kelelahan itu terbayar sudah dengan indah. Sepanjang sejarah, mereka tak akan bisa melupakan kejadian ini.


"Terimakasih sudah menjaganya?" Attar mencabut kapal selamnya dari kedalaman laut yang tak seberapa itu.


"I love you." bisik Attar


"I love you to." jawab Syiera dengan lembut.


Ketika Syiera akan beranjak, Attar langsung bertanya.


"Mau kemana?"


"Kamar mandi." Sepertinya Syiera merasakan sesuatu yang tak begitu nyaman di daerah intinya, sakit, perih menjadi satu.


"Kamu gak apa-apa 'kan? Apa itu sakit." Attar melihat ke arah kasur. "Darahnya banyak, apa perlu aku periksa?"


Syiera menggeleng. "Apa-apaan? Mentang-mentang Dokter, asal periksa saja."

__ADS_1


"Sudah ... Aku tidak apa-apa. Mungkin itu hanya robek sedikit." Syiera mencoba melangkahkan kakinya, tapi tertahan karena sakit.


Melihat itu, Attar berinisiatif membopong tubuhnya ke kamar mandi.


"Sudah, cukup sampai di sini saja," kata Syiera minta di turunkan di depan pintu.


Dengan setia, Attar menunggu istrinya keluar. Setelah istrinya keluar, ia kembali membopongnya, ia merebahkan Syiera di atas sofa.


"Sini aku periksa," pintanya. Namun Syiera tetap tak ingin, lebih tepatnya mungkin ia malu.


"Aku tak terima penolakan." Attar membuka kaki istrinya, dilihatnya hutan rimba itu.


"Ah ... Sudah. Aku tidak apa-apa," tolak Syiera.


Attar menahan kedua kakinya dengan tubuhnya, ia mengusap lembut hutan rimba itu, dioles dengan salep.


Tapi sayang, Syiera malah mendesah ketika jemari suaminya bermain lincah di bawah sana. Mendengar desahan itu, membangkitkan gairahnya, tak bisa menahan gejolak yang membungbung tinggi.


Sepertinya ia akan kembali berselam, berlayar di laut luas akan kenikmatan dan keindahannya.


Tubuh keduanya kembali mengerang, sampai mereka ingin dan ingin lagi. Seperti tak ada kepuasan di dalam sana.


"Ah ... Cukup." Syiera menyerah lebih dulu, tak tahan dengan rasa perihnya.


"Sebentar lagi." Seketika tubuh Attar tumbang, lemas tak berdaya. Entah berapa kali mereka mencapai puncaknya.


Attar beristirahat sejenak, sebelum ia keluar kamar, ia berniat untuk mengmbilkan minum untuk istrinya.


"Ah, sebaiknya aku mandi dulu." Selesai mandi, baru ia pergi ke dapur. "Di mana kuncinya?" kesal sendiri karena ia melemparnya begitu saja. "Akhirnya, dapat juga."


***


Dilihatnya ada bi Ani di dapur sana.


"Bi, buatkan makanan kesukaan Syiera?"


Bi Ani menatap majikannya dengan intens, ada yang beda dari penglihatanya, tapi apa? Bi Ani sibuk dengan pemikirannya.


"Bi, Bibi dengar saya 'kan?" Sepertinya bibi melamun.


Bi Ani langsung terkesiap. "Rambutnya basah," celetuk bi Ani.


Attar mendengar itu jadi malu sendiri.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2