
Seorang gadis tengah melamun di sebuah taman, tamannya cukup indah. Sinar sang rembulan menemani kesendiriannya, entah apa penyebabnya sampai gadis itu tengah berada di sana.
Derap langkah yang terdengar menjadi pusat pengalihan tatapannya, yang awalnya tatapan itu kosong memandang lurus ke depan. Dan sekarang teralih pada seseorang yang mendekatinya. Kini, ia tahu siapa yang menghampirinya.
Seorang pria mendudukkan tubuhnya di sebelahnya. Ya, si gadis itu adalah Aleta. Dan si pria yang mendekat padanya adalah Dam. Entah apa yang membuat Dam menemui gadis itu. Bukankah Dam tidak menyukai kedatangannya kemari?
Masih saling terdiam, Aleta tak menegur akan kedatangan Dam di sisinya, begitu pun dengan Dam. Dam tidak sengaja melihat Aleta di taman halaman rumahnya, ia habis mengantar Alea sang kekasih pulang. Rumah Dam dan rumah Alea tidak jauh, karena mereka dulu adalah tetangga sebelum Alea pindah ke luar negri. Dan rumah itu masih berdiri karena ada yang menjaganya, rumah itu menjadi persinggahan Alea jika berkunjung ke Indonesia.
Aleta beranjak, ia merasa tak nyaman akan kehadiran Dam. Tapi sayang, sebelum Aleta melangkah, Dam lebih dulu menarik tangan Aleta, menahan kepergian gadis itu.
"Lepaskan tanganmu dari tanganku!" Aleta tidak suka ada orang yang menyentuhnya, apa lagi orang asing.
Dam pun melepaskan pegangan tangannya dari tangan gadis itu. "Jutek, pantas saja sikapnya begitu. Ini toh aslinya."
"Bisa kita bicara?" ajak Dam pada gadis yang masih berdiri membelakanginya.
"Kamu bicara padaku?"
"Kamu pikir aku bicara sama siapa? Hantu!"
"Duduklah, sepertinya aku harus memeritahukanmu agar kamu bisa sedikit sopan pada Kakakku!"
Mengdengar akan hal itu, Aleta merasa dirinya dipojokkan, ternyata bukan hanya Attar yang tidak suka akan sikapnya pada kakak iparnya. Apa segitu sayangnya mereka pada kakak iparnya itu? Aleta pun menjadi penasaran akan sosok Syiera, padahal ia cukup tahu siapa kakak iparnya itu. Dia orang yang pernah membuat kakaknya terluka.
Aleta pun terduduk kembali di tempat semula. "Apa aku salah jika aku manyayangi Kakakku? Aku tidak suka pada orang yang sudah buat hidup Kak Attar menderita. Aku juga tahu kalau pernikahan mereka karena terpaksa," jelas Aleta, ia mengungkapkan isi hatinya pada pria yang belum ia kenali itu.
Dam menghela napas sebelum menjawab. "Apa kamu pikir aku juga suka dengan sikapmu yang seperti itu? Aku pun akan berbuat sama sepertimu jika ada yang berani melukai Kakakku."
Mereka saling lempar pandang setelah mengeluarkan unek-unek mereka masing-masing.
"Apa tidak bisa, kamu memaafkan kesalahan yang dibuat Kakakku pada Kakakmu? Lagian, mereka sudah saling mencintai. Jadi kamu jangan bikin masalah baru, buat mereka jadi menjauh seperti sekarang."
"Apa iya, aku sudah memisahkan mereka? Apa ini alasan Kak Syiera ikut dengan adiknya. Apa semua ini salahku?"
__ADS_1
Aleta tak bisa menjawab, ia malah menitikkan air matanya, ia merasa pria itu tengah memarahinya. Melihat Aleta menangis, Dam jadi merasa bersalah pada gadis itu. Apa ia sudah keterlaluan padanya?
"Maaf, aku tidak bermaksud memarahimu," sesal Dam.
Aleta mengusap sudut matanya, lalu ia baranjak kembali ingin menemui kakak dan kakak iparnya. Ia tak ingin menjadi dinding pemisah dalam hubungan pasutri itu.
"Hey ... Mau kemana? Mereka belum keluar kamar sejak tadi!"
Perkataan Dam membuat langkah Aleta terhenti. Lalu, apa yang harus ia lakukan? Menunggu pasutri itu keluar dari kamarnya? Ah ... pasti akan membuatnya BT.
Lalu ia pun kembali berjalan, entah tujuannya akan kemana. Hanya ingin menghirup udara segar, ia putuskan pergi tak jauh-jauh, karena tempat ini cukup asing baginya.
Berjalan tanpa arah membuatnya bingung juga, lalu, ada sebuah minimarket yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Aleta putuskan untuk pergi kesana berniat untuk membeli minum karena haus. Setibanya di sana, Aleta langsung mengambil air mineral dan langsung meminumnya saat itu juga, rasa haus yang tak bisa ia tahan. Hendak membayar, ia lupa kalau dompetnya ada di dalam tasnya yang tertinggal di kursi meja makan.
"Dengan apa aku membayar? Sudah diminum begini?" Aleta bingung sendiri.
Lalu, tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan selembar kertas berwarna biru padanya. Aleta langsung menoleh kearah orang itu. Siapa yang sudah memberikan uang padanya.
"Kamu ... Ngapain di sini?" tanya Aleta pada seorang pria yang tak lain adalah, Dam. " Kamu mengikutiku?"
Aleta melihat keranjang yang dibawa oleh Dam. Dan sepertinya pria itu memang tidak mengikutinya, bahkan sepertinya ia lebih dulu ada di sini. Terlihat belanjaannya yang penuh dalam keranjang.
"Ini, ambil," kata Dam sambil menyodorkan selembar kertas itu.
"Aku pinjam, nanti setelah pulang dari sini aku balikin."
Dam tidak menjawab, malah ia sudah menghilang dari hadapannya. Pria itu tengah mengantri di depan kasir, pengunjungnya lumayan ramai. mungkin karena ini malam Minggu, pikir Aleta.
Akhirnya mereka pun selesai membayar, Aleta yang baru hendak keluar dari minimarket itu, langsung dipanggil oleh Dam, merasa namanya dipanggil, Aleta pun menghampiri pria itu. Setibanya di sana.
"Ayo naik, ini sudah malam," ajak Dam pada Aleta agar naik ke motor yang ia tumpangi sekarang.
Sedikit ragu, namun akhirnya Aleta pun naik. Ia juga merasa takut pulang sendiri. Ini pertama kalinya, ia dibonceng oleh seorang pria yang baru ia kenal. Tak lama, mereka pun sampai di tempat tujuannya.
__ADS_1
"Kamu dari mana, Al?" tanya Attar pada Aleta yang baru saja turun dari motor Dam. "Kalian habis belanja?" Attar melihat kantung yang tergantung di bagian depan motornya.
"Ini balanjaan Momy, Kak. Dia menyuruhku, lalu gak sengaja bertemu dengannya," jawab Dam seraya melirik ke arah Aleta.
Attar cukup senang dengan kedekatan mereka, dan itu membuatnya berpikir bahwa Aleta bisa menerima Syiera menjadi kakak iparnya.
"Ayo, Al. Kita pulang," ajak Attar.
"Kok, pulang sih? Lalu mana Kak Syiera? Apa Kak Syiera tidak mau pulang karena ada aku?"
"Ayo ... Kenapa malah bengong!"
"Kak Syiera-nya mana? Dia gak ikut pulang?"
"Katanya mau nginap, besok Kakak jemput."
Aleta merasa tidak enak, ia masih berpikir kalau kakaknya itu enggan pulang karena sikapnya yang mungkin berlebihan.
"Ajak pulang saja, Kak. Bila perlu Kakak paksa biar Kak Syiera ikut pulang. Aku jauh-jauh datang ke sini malah ditinggal nginap," cetusnya.
"Bukankah kamu senang jika istri Kakak tidak ada?"
Aleta tak mampu menjawab, ia malah bersikekeh pada kakaknya untuk mengajak kakak iparnya pulang. Dengan sikap Aleta yang seperti ini, apa ia sudah menerima Syiera?
"Ayo, Kak ... Mumpung aku--,"
"Ayo kita pulang," ajak Syiera memotong pembicaraan adiknya. Sedari tadi, ia mendengar paksaan Aleta pada suaminya. Akhirnya Syiera putuskan untuk ikut pulang dan tidak jadi nginap.
Setelah pamitan kepada orang tuanya, mereka pun pulang dengan rasa lega.
Dalam perjalanan pulang, Aleta yang duduk di kursi belakang tengah melamun. Apa yang ada lamunannya sekarang? bahkan ia senyum-senyum sendiri.
"Al ... Kamu kenapa?" tanya Attar, ia melihat adiknya itu senyum-senyum sendiri dari kaca yeng tergantung di tengah.
__ADS_1
Syiera pun ikut menoleh kebelakang, melihat adik iparnya.
bersambung