Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
58


__ADS_3

Aleta langsung mendorong tubuh Dam sekuat tenaga. Pria itu sampai terjungkal ke bawah lantai, sadar akan aksinya yang sedikit brutal. Aleta langsung melihat ke arah pria yang kini sudah di atas lantai.


Entah lucu atau apa. Aleta sampai tertawa begitu nyaring, namum seketika. Aleta membekap mulutnya sendiri. Takut jika ada yang mendengar, karena ini sudah sangat larut.


Malik yang sedari tadi masih di luar. Pria itu mendengar dari kamar Aleta.


"Belum tidur. Lalu sedang apa dia sampai tertawa seperti itu?" Malik penasaran, ia terus saja menelisik ke arah jendela kamar Aleta. Tiba-tiba, lampu kembali menyala. Sudah dipastikan bahwa wanita itu ternyata belum tidur, pikir Malik.


Sementara di dalam kamar.


Dam langsung bangun, pria itu merasakan sakit di area pinggangnya. Tak percaya pada wanita sekecil itu memiliki tenaga yang cukup kuat.


"Dam, kamu tidak apa-apa 'kan? Maaf, aku terlalu kuat mendorongmu," sesal Aleta.


Dam langsung saja berdiri, sambil memegang pinggangnya yang terasa sakit. Dam pun duduk di tepi ranjang. Ia terus mengusap pinggangnya.


"Maaf, Dam." Setelah minta maaf, gadis itu kembali memakai bajunya yang sempat dibuka oleh Dam. Aleta tidak ingin Dam melihat tubuhnya dalam keadaan terang. Bisa gawat, pikirnya.


"Sebaiknya kamu keluar saja. Kita tidak bisa melakukan itu, Dam. Aku gak mau menjadi pemisah hubunganmu dengan Alea."


Ada rasa kecewa di hatinya Dam. Pria itu pun tak memaksa dengan keinginannya yang ingin memiliki Aleta. Hampir saja ia melakukan sesuatu yang pasti akan menghancurkan keluarganya sendiri.


Karena Aleta menyuruh Dam keluar, pria itu pun pergi dengan sejuta kekesalannya. Kesal pada diri sendiri yang tak bisa mengontrol emosi nafsu bejadnya.


Dam keluar kamar dengan mengendap-ngendap. Takut ada yang melihat, apa lagi kamar Aleta bersebelahan dengan kamar kakaknya. Tapi sayang aksi Dam diketahui oleh Syiera, kakaknya.


"Dam ... Sedang apa kamu di sini? Abis ngapain kamu?" tanya Syiera penuh dengan selidik. Ada yang tidak beres dengan adiknya itu. Tak bisa membiarkan Dam pergi begitu saja, Syiera bertanya kembali.


"Abis ngapain dari kamar Aleta? Kamu tidak melakukan apa-apa 'kan?"


"Ti-tidak, Kak. Aku ... Aku hanya-."


"Hanya apa?" pungkas Syiera, wanita itu tidak sabar dengan jawaban adiknya, apa lagi Dam menjawabnya dengan terbata. "Abis ngapain!" Syiera mencubit pinggang Dam.


Dam semakin meringis, sudah jatuh ketiban tangga.


"Sakit-sakit-sakit," pekik Dam.

__ADS_1


Syiera menghela napas panjang, ia rasa kalau adiknya itu memang memiliki perasaan pada adik iparnya itu. Ada baiknya jika Aleta kembali ke Amerika.


"Sepertinya kamu memang harus segera menikah, Dam," celetuk Syiera.


"Apa hubungannya dengan menikah? Aku ke sini hanya ingin menemui Aleta," jelas Dam. "Apa, Kak Syiera tahu apa yang terjadi barusan?" batin Dam.


"Lalu, ngapain kamu ke kamar Aleta? Jangan berbuat macam-macam, Dam. Nikahi Alea jika kamu sudah ngebet!"


Tidak ingin mendengar ceramah dari kakaknya, Dam pun pergi. Tak ingin yang lain tahu akan kelakuannya barusan.


"Aku pulang, Kak." Dam berlalu.


Setelah Dam pergi, Syiera sedikit menengok ke kamar Aleta. Wanita itu memastikan bahwa tak terjadi apa-apa dengan adiknya itu.


"Sayang ... Kamu ngapain masih di sini? Axel haus tuh." Attar mendekat ke arah istrinya. Tadinya, Syiera berniat ke dapur, ia akan mengmbil botol cadangan buat Axel. Namun harus terhenti karena Dam. Axel sangat kuat ketika menyusui, Syiera tak bisa hanya mengandalkan asi.


"Iya bentar, kamu ke kamar lagi sana. Kasian Axel sendiri." Syiera ke dapur, sementara Attar. Pria itu tak langsung ke kamar, ia penasaran dengan istrinya. Kenapa dia ada di depan kamar Aleta? Tak ada apa-apa, pikirnya.


Attar pun kembali ke kamar, ia langsung menggendong Axel.


"Cup-cup. Jangan nangis ya, sayang. Mama lagi buat susu dulu." Attar menimang-nimang anaknya. Pria itu cukup telaten.


Pria itu meletakkan Axel di kasur, ia mulai mengganti popoknya. Tak lama, Syiera datang. Ia membawa botol yang sudah terisi oleh susu hangat. Walau belum terbiasa Syiera nampak cekatan, begitu pun dengan suaminya.


Mereka sengaja tak memakai jasa baby siter. Syiera bener-bener ingin mengurus anaknya sendiri. Mungkin ia juga akan berhenti bekerja, ia akan fokus dengan keluarganya.


"Sini, biar aku yang ganti." Syiera mengambil alih Axel. Setelah selesai mengganti popok, baru Axel menyusu. Dengan lahap, Axel memompa dot-nya.


Sesekali Syiera menguap, ibu baru itu belum terbiasa begadang. Tak tega melihat istrinya, Attar menawarkan diri untuk menggantikan istrinya.


"Tidurlah, biar Axel aku yang gendong."


Syiera pun mendongak ke arah suaminya. Pengertian sekali, pikirnya.


Syiera menyerahkan Axel ke pangkuan Attar. Lantas membiarkan Axel dengan papanya.


"Aku tidur, ya?" Syiera mencium bibir suaminya sekilas. "Biar semangat begadangnya," kata sang istri.

__ADS_1


"Semangat sih semangat, yang bawah juga ikut semangat," kata Attar.


Syiera hanya geleng-geleng kepala menanggapi sikap mesum suaminya. Karena memang mengantuk, Syiera tertidur sangat cepat. Sementara Attar, pria itu masih menunggu anaknya. Bayi itu malah melek.


Attar mulai menguap, merasakan kantuk yang luar biasa. Karena Axel sudah tidur, ia pun meletakkan Axel di ranjang bayinya. Attar ikut merebahkan tubuhnya di samping Syiera. Mereka terlelap, karena memang benar-benar lelah.


Keesokan harinya.


Aleta sudah siap terbang ke Amerika. Aleta diantar oleh Malik. Kini mereka ada di dalam mobil, perjalanan ke Bandara. Attar dan Syiera tak bisa mengantar karena kondisinya yang masih belum memungkinkan.


Akhirnya mereka sampai di Bandara. Setibanya di sana, Aleta tak menyangka sudah ada Dam di sana.


"Ngapain dia sudah di sini? Apa dia sengaja?" batin Aleta.


Malik pun melihat Dam di sana. Pria itu benar-benar mengejar cinta Aleta. "Apa dia sudah tidak waras?" batin Malik.


Aleta pun mendekat ke arah Dam.


"Ngapain kamu di sini, Dam?" tanya Aleta.


Bukannya menjawab, pria itu malah memeluk Aleta. Karena ini tempat umum, Aleta langsung melepaskan pelukkannya. Ada Malik juga yang melihat, gadis itu menajadi tak enak.


"Dam, ini tempat umum," kata Aleta sambil melepaskan pelukkannya


"Aku akan menunggumu kembali, Aleta," ucap Dam. "Aku janji," sambungnya lagi.


Aleta tersenyum lebar. "Aku pasti kembali, Dam."


"Ehem." Malik seperti obat nyamuk. "Kenapa harus ada Dam di sini?" batin Malik.


Aleta dan Dam langsung menoleh ke arah Malik. Seperti ada pengawas yang mengawasi mereka. Aleta pun melangkahkan kakinya, ia harus berangkat sekarang juga. Karena penerbangan akan segera dilaksanakan.


"Al ... Aku akan menunggumu," teriak Dam.


Dari jauh, Aleta mengulum senyum sambil melambaikan tangannya ke arah Dam.


Sementara Malik, pria itu melihat kepergian Aleta. Aleta benar-benar tak menganggap Malik ada di sana. Karena Aleta sudah tak terlihat, Dam dan Malik kembali ke tempat masing-masing.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2