Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
31


__ADS_3

Syiera langsung menoleh ke belakang setelah ia mendengar ada yang memanggilnya, ia sudah tak asing lagi dengan suara tersebut.


"Dam ... Kamu ngapain di sini?" tanya Attar.


Sementara Dam, ia hanya cengengesan gak jelas, merasa malu karena ia tengah menjemput sesorang di sana.


"Aku jemput Alea, Kak," jawab Dam sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Akhirnya, ketemu juga kamu, Dam. Sama Alea," timpal Syiera.


"Siapa Alea?" tanya Attar.


"Pacarnya," jawab Syiera.


Tak lama dari situ, seorang gadis tengah menyeret koper dengan kaca mata hitam yang melengkapi penampilannya. Wajahnya yang cantik menjadi pusat perhatian banyak orang.


Sementara Attar, ia terus mengarahkan pandangannya kesekeliling. Tengah mencari keberadaan sang adik, karena baru saja ia mendapatkan chat dari Aleta, bahwa ia sudah sampai di Bandara, tapi di mana adiknya itu? Batang hidungnya saja belum kelihatan.


"Kak, aku kesana dulu, ya? Alea sudah sampai." Setelah mendapat anggukkan dari kakaknya, Dam langsung pergi menemui Alea yang sudah menunggu di kursi yang tersedia di Bandara. Dari kejauhan Dam sudah melihat sang kekasih, ia hapal betul dengan lekuk tubuhnya.


Dam berlari ke arah Alea, tapi tiba-tiba, ia tak sengaja menabrak seorang gadis, sampai gadis itu hampir terjatuh karenanya. Dengan sigap, Dam langsung menangkap tubuh itu. Tatapan mereka saling beradu, entah tatapan apa yang mereka rasakan.


"Aleta," panggil Attar, ketika ia sudah melihat sang adik. Namun pas ia lihat, Aleta tengah berada dalam dekapan Dam, sang adik ipar. "Kalian sedang apa?" Sontak mengejutkan keduanya.


Dam langsung melepaskan pegangannya pada tubuh Aleta, hingga Aleta terlepas dan terjatuh.


"Aww ..." pekik Aleta. Aleta langsung menatap tajam ke arah pria yang telah menjatuhkan tubuhnya.


Mendengar gadis itu mengaduh, Dam langsung membantunya untuk berdiri, tapi sayang. Aleta menepis tangan Dam, ia pun berdiri dengan sendirinya.


Seorang gadis, dari kejauhan melihat ke arah mereka, dengan senyum penuh kerinduan. Alea datang menghampiri, dan kini tapat berada di samping Syiera.


"Kak," sapa Alea kepada Syiera.

__ADS_1


"Alea ..." Syiera langsung memeluk gadis itu. "Kamu apa kabar? Makin cantik saja," sambungnya lagi.


"Aku baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana?"


"Seperti yang kamu lihat." Mereka berdua asyik sendiri. Tak menghiraukan orang yang ada di dekatnya.


Dalam hati, Aleta bertanya. "Siapa gadis itu?" Mungkin dengan Syiera, ia sudah tahu kalau itu adalah kakak iparnya.


"Al, kenalin. Ini Attar, suami Kakak."


Alea nampak berpikir, setahunya Syiera menikah bukan dengan orang ini. "Kak, bukankah Kakak menikah dengan Kak Alex? Maaf ya Kak, waktu itu aku gak bisa datang ke acara pernikahan Kakak," sesal Alea.


Syiera tersenyum, menunjukan bahwa itu tidak apa-apa. "Gak papa, Kakak ngerti kok," jawab Syiera. "Ceritanya panjang, kenapa Kakak bisa menikah dengan orang ini," bisiknya ke telinga Alea, agar orang yang ada di sebelahnya tak mendengar apa yang ia bicarakan pada calon adik iparnya itu.


Karena semua sudah berkumpul, Attar mengajak mereka untuk makan siang bersama sebelum pulang ke tempat masing-masing. Sedari tadi, Aleta nampak diam. Apa gadis itu masih membenci kakak iparnya? Entahlah ...


Sementara Dam, ia tak melepaskan genggamannya pada sang kekasih, Alea. Sampai Alea merasa risih dengan kelakuan Dam, apa lagi ia merasa ada yang memperhatikan dirinya. Sorot mata Aleta menunjukkan ketidaksukaannya pada pasangan itu.


"Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Attar.


Setibanya di dekat mobil, Syiera hendak masuk ke dalam di kursi depan. Tapi Aleta langsung menyerobot mendahuluinya. Sampai Syiera terdiam seketika. Attar yang melihat, langsung menegur sang adik.


"Aleta, kamu di belakang. Biar Kak Syiera di depan." Tapi sayang, Aleta tak menghiraukan perkataan kakaknya.


"Gak apa-apa. Biar aku yang di belakang," sahut Syiera. Ia pun langsung duduk di jok belakang.


Attar merasa bersalah pada istrinya itu, ia tak menyangka kalau Aleta akan bersikap tidak sopan pada kakak iparnya.


Di mobil lain, Dam dan Alea melihat kejadian itu.


"Dam, siapa gadis itu?" tanya Alea.


"Katanya sih adik iparnya," jawab Dam.

__ADS_1


"Kok sikapnya gak sopan banget sama Kak Syiera. Coba kamu jelaskan, kenapa Kak Syiera bisa menikah dengan orang itu. Lalu kemana Kak Alex?" Rentatan pertanyaan Alea membuat otak Dam tidak bisa berpikir. Ia juga tidak tahu kenapa kakaknya batal menikah dengan Alex, Dam tidak pernah ikut campur dengan masalah yang menurutnya tidak perlu diketahui olehnya.


"Aku kurang tahu, Al. Daddy yang sudah merencanakan ini. Tapi Kak Syiera bahagia dengan suaminya, dulu sih emang, Kak Syiera membenci Kak Attar. Tapi sekarang tidak," jelas Dam. Dan Alea hanya manggut-manggut seolah mengerti.


"Ayo masuk," ajak Dam ketika mobil yang ditumpangi kakaknya sudah melaju.


Mereka pun sampai di restoran yang cukup terkenal di pusat kota. Restoran itu cukup ramai, sampai mereka harus mencari meja yang kosong untuk mereka tempati.


"Itu mejanya kosong, kita di sana saja," kata Syiera pada suaminya.


Aleta melihat ke arah meja yang di maksud kakak iparnya. Meja itu berada di pojokkan, dan Aleta tidak ingin di sana. Tidak bisa melihat pemandangan ke arah luar.


Hingga Syiera tak lagi bercakap, ia diam karena Aleta sangat menunjukkan ketidaksukaannya pada dirinya.


Attar yang mengerti langsung mengusap punggung istrinya sambil tersenyum. Dan Syiera pun masih bisa membalas senyuaman itu dengan kecut.


Dam tahu akan hal itu. Andai adik ipar kakanya itu laki-laki, mungkin Dam sudah menghajarnya sampai babak belur. Sayangnya dia wanita, dan itu tidak akan pernah terjadi.


"Ayo Kak, kita aja yang di sana, biar mereka cari meja lain." Sampai pegal itu kaki, mereka tidak akan dengan cepat menemukan meja kosong. Pikir Dam. Dam langsung menarik dua tangan wanita yang ada di samping kiri dan kanan, ia tak mungkin membiarkan Aleta bersikap seenaknya pada kakaknya. Karena Dam sangat menyayangi kakaknya itu.


Dan mereka pun berpisah. Dam, Alea, dan Syiera sudah duduk di kursi yang telah ditunjuk oleh Syiera.


Sementara Attar dan Aleta masih berdiri di sana. Kenapa jadi begini? Pikir Attar. Ia pun mencari tempat duduk, tak lama mereka pun menemukan meja kosong.


"Ini baru enak tempatnya, lihat deh, Kak. Indahkan pemandangannya?" Aleta tak memikirkan perasaan kakaknya itu. Batapa galaunya Attar, ia takut kalau istrinya akan marah padanya. Baru saja menikmati indahnya masa pengantin baru, masa sekarang harus jauh-jauhan.


Di meja lain. Syiera terus melihat ke arah meja yang di tempati suaminya, melihatnya dengan nanar. Ia sudah menduga kalau adik iparnya pasti masih marah padanya, mungkin Attar belum menjelaskan perihal kesalahpahaman itu.


"Kak, ayo dimakan makanannya. Nanti keburu dingin 'kan gak enak," kata Alea.


Syiera pun terkesiap akan ucapan Alea.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2