Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
37


__ADS_3

Attar melihat istrinya sedang memakan rujak yang dibawa oleh Dam. Sesekali ia bergidik, melihatnya saja sudah terbayang gimana asemnya dari buah mangga yang sudah diiris tipis-tipis.


"Mau gak? Enak loh." Syiera memeragakan kunyahannya di hadapan suaminya, betapa nikmatnya rujak buatan sang momy.


"Keknya, kamu bener-bener hamil deh. Kita ke Dokter saja habis kamu makan rujak."


"Kamu 'kan Dokter! Ngapain ke Dokter lagi?" Syiera rasa sudah cukup tadi diperiksa oleh suaminya.


Attar menghela napas panjang, lalu menghampiri istrinya yang kini sedang duduk di sofa, dengan mangkuk yang berisikan rujak itu ada di pangkuannya.


Attar mendudukkan tubuhnya tepat di samping istrinya. Matanya terus memandangi rujak yang ada di pangkuan istrinya, ia rasa kalau istrinya hanya makan itu, mana ada gizinya. Bahkan iya tadi mengambilkan makanan yang lain namun tak dilirik sama sekali.


"Aku 'kan bukan Dokter kandungan, aku hanya ingin memastikan saja benar apa gaknya," ucapnya seraya mengambil rujak, lalu ia letakan di atas meja.


Syiera mengerucutkan bibirnya, ia merasa sedih rujaknya diambil. Attar yang melihat langsung bertanya.


"Kenapa bibirmu manyun begitu?" Sepertinya calon bapak itu belum tahu kalau wanita itu lagi sedih. Attar pun kembali meletakkan rujaknya di pangkuan istrinya. Syiera langsung berbinar kembali. "Sepertinya kamu menyukainya?"


Tak terasa rujak segitu banyaknya habis tak tersisa. Karena memang sudah niat membawa istrinya ke dokter, Attar tak lagi menunggu istrinya sampai bilang 'mau ke dokter.'


"Ayo, berangkat sekarang?" ajak Attar. Mau tak mau Syiera pun menuruti apa kata suami.


Di dalam mobil, menuju rumah sakit.


"Kira-kira mereka pergi kemana?" tanya Attar ke istrinya mengenai Aleta yang pergi bersama Dam.


"Gak tahu. Biarin ajalah, mereka 'kan sudah besar. Mereka tahu mana yang buruk dan mana yang tidak!" Syiera tahu betul kalau suaminya begitu menyayangi Aleta. Sedikit berlebihan memang kekhawatiran Attar pada Aleta. Pikir Syiera.


Syiera belum tau apa yang dikhawatirkan suaminya pada adik satu-satunya itu. Aleta memiliki pobia jika melihat mobil truk besar. Karena mobil truk yang sudah menewaskan kedua orang tuanya. Itu sebabnya ia tak mengijinkan Aleta pergi tanpa didampingi olehnya.


Pembicaraan mereka berakhir tepat di depan rumah sakit. Mereka pun langsung turun dari mobil, semua suster dan dokter yang berpapasan dengannya menundukkan wajahnya sebagai hormat pada atasannya.

__ADS_1


Syiera langsung menautkan jari jemarinya di tangan suaminya. Begitu banyak pasang mata yang melihat ke arah Attar, Syiera ingin memperlihatkan kepada orang yang ada di sana, bahwa Attar adalah miliknya.


Dan mereka pun langsung masuk ke ruangan obygin, Attar memang sudah janjian dengan dokter yang akan memeriksa keadaan istrinya. Dokter yang akan menangani Syiera adalah dokter perempuan.


"Siang, Dok?" sapa dokter Lita, dokter spesialis kandung.


"Kenapa Dokternya perempuan? Apa dia sengaja memilih Dokter cantik itu?" Syiera tak menyangka bahwa suaminya demen dokter cantik, apa ia kurang cantik sampai memilih dokter itu? Syiera mulai cemburu pada suaminya.


"Aku gak mau Dokter ini," bisik Syiera.


Attar membulatkan matanya, kenapa istrinya tak mau diperiksa oleh dokter Lita? Apa mereka saling mengenal? duganya.


"Ayo, Bu. Sini?" ajak dokter pada Syiera agar wanita itu mau membaringkan tubuhnya di branker. "Gak apa-apa, Bu. Kita sudah saling mengenal," jelas dokter Lita sambil menoleh ke arah Attar. Sepertinya dokter Lita tahu dengan perasaan wanita itu.


"Iya, gak apa-apa. Dokter Lita sahabatku sejak SMA," jelas Attar.


Syiera pun akhirnya membaringkan tubuhnya, dan dokter mulai memeriksa Syiera.


Kini mereka sudah duduk di kursi tepatnya di hadapan dokter Lita. Penjelasan dokter Lita sangat jelas, ternyata dugaan Attar benar kalau istrinya itu tengah mengandung. Kini usianya sudah memasuki dua minggu. Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter Lita, Attar dan Syiera langsung pulang.


"Sini, Al ...?" ajak Alea pada Aleta. Alea tengah duduk di bangku taman bersama Dam, ia sedang memakan arum manis yang dibelikan oleh Dam. Dan sepertinya Aleta pun menginginkannya. Tapi sayang, Dam hanya membeli satu. Ia tak tahu apa yang disukai Aleta. Sebab, tadi ia pergi membeli arum manis saat Aleta ke toilet.


"Kamu mau? Ini kita bisa makan berdua." Alea hendak membagi arum manis itu. Tapi Aleta keburu mencegahnya, pikirnya ia bisa membeli sendiri.


"Tidak, Al. Aku bisa membelinya," tolak Aleta. "Sebelah mana yang jualan arum manisnya?" tanyanya kemudian.


Dam pun menunjuk arah si penjual arum manis. Aleta pun pergi sesuai arahan Dam, ia kira si penjual arum manis itu di sebuah ruko. Ternyata bukan, ia pun harus mengejar si pedangang yang menggunakan motor. Hingga akhirnya, ia berhasil menghentikannya.


Setelah mendapatkan arum manis, Aleta hendak kembali. Seketika ia menghentikan langkahnya. "Di mana ini?" Aleta tak mengenali tempat ini. Aleta celingak-celinguk mencari keberadaan dua orang yang bersamanya tadi. Sepertinya Aleta nyasar.


Langit yang tadinya cerah, kini mendadak mendung. Sepertinya akan turun hujan, ditambah hari semakin gelap. Tapi gadis itu, ia tak tahu di mana kini ia berada. Aleta meraba-raba kantong celananya, ia mencari benda pipih miliknya.

__ADS_1


Sepertinya ponselnya tertinggal di mobil, lalu apa yang harus Aleta lakukan? Tiba-tiba hujan mulai turun membasahi bumi.


Semetara Alea dan Dam, ia sudah berada di dalam mobil. Mereka menunggu kedatangan Aleta, tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Aleta.


"Dam ... Aleta kemana sih? Kok, dia gak balik-balik." Alea mulai resah.


Dam pun merasakan hal yang sama, di mana wanita itu? Ingin mencari, tapi hujan begitu lebat.


"Coba kamu hubungi Aleta!"


"Aku gak tahu nomornya, Al."


"Isshh," Alea mendesis. "Bagaimana ini?"


"Apa mungkin Aleta sudah pulang," duga Dam


"Aku rasa belum, ayo kita cari," ajak Alea.


"Hujannya deres banget, Al ... Kamu tunggu saja di sini, biar aku yang mencari." Dam pun akhirnya turun mencari Aleta, tak peduli jika ia basah kuyup karena air hujan.


Sementara Aleta, gadis itu tengah berteduh, di sisi ruko yang ia tak tahu di mana letaknya. Aleta benar-benar tak mengenal tempat ini. Ini asing baginya, hujan lebat disertai angin yang begitu kencang, mengakibatkan tubuh Aleta basah karena cipratan air yang turun dari langit.


Tubuhnya mulai mengigil kedinginan.


Dam yang sedari tadi mencari Aleta, ia tak menemukan keberadaan gadis itu. Pada akhirnya, ia pun kembali ke mobil menemui Alea.


"Gimana? Aletanya mana?" Alea menoleh ke luar, siapa tahu Aleta ada di luar, pikirnya.


"Aleta gak ketemu. Kita pulang saja ya? Aku sudah kedinginan." Dam pun menyalakan mesin mobilnya.


"Tapi ..."

__ADS_1


Mobil pun sudah melaju, Alea protes juga percuma, ia juga merasa kasian pada Dam. Tubuhnya basah, benar-benar basah. Karena hujan memang sangat lebat.


bersambung


__ADS_2