
Aleta terkesiap dari lamunannya. Pertanyaan dari sang kakak membuatnya tersadar. "Kenapa dia muncul dalam ingatanku?"
"Aku gak apa-apa, Kak. Ingin cepat sampai, pengen cepet tidur lalu mimpi indah."
"Dasar anak muda sekarang!" Attar geleng-geleng kepala.
"Seperti gak pernah muda saja," sahut Syiera, ia terkekeh melihat sang suami.
Tak lama dari situ, mereka pun sampai dikediaman Attar. Saling menggenggam, Attar dan Syiera berjalan berbarengan setelah turun dari mobil. Lalu, Aleta menerobos mendahului. Melepaskan kedua tangan yang saling menempel itu.
"Rese kamu, Al," kesal Attar pada kejahilan adiknya itu. Aleta membalikkan tubuhnya menghadap pada dua insan yang tengah ia bikin rusuh barusan, dengan lidah yang menjulur keluar, Aleta malah tambah membuat kakaknya itu kesal.
"Sudah ... Dia hanya bencanda." Syiera kembali menyatukan jari jemarinya pada tangan sang suami. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua, siapa pun itu. Terkecuali, Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa memisahkan cinta mereka.
Setibanya di dalam, Aleta langsung masuk ke kamarnya, dan merebahkan tubuhnya di kasur. Menatap langit-langit kamar, ia masih teringat akan kejadian tadi bersama Dam.
"Awas ...," Syiera berteriak ketika melihat kucing yang melintas tepat di hadapan motor yang ia tumpangi bersama Dam. Karena kurang hati-hati, membuat mereka terjatuh dari motor. Untung mereka tidak apa-apa, hanya ada goresan sedikit pada lengan Dam, tapi tidak dengan dirinya. Dam lebih dulu terjatuh dari motornya, dan tubuh Aleta menindih tubuh Dam. Dengan posisi, Aleta tepat di atas tubuh pria yang memboncengnya. Tak sengaja pula, bibir mereka malah bersentuhan. Sampai saat ini Aleta masih merasakan hembusan napas Dam. Aleta senyum sendiri di kamar, mungkin itu karena ciuman pertamanya. Sampai Aleta tertidur dengan sendirinya.
Sementara di kamar lain. Attar dan Syiera kembali memadu kasih, kisah malam panjang akan segera dimulai. Deru napas yang tersengal membuat mereka menyudahi ciumannya. Menarik napas dalam-dalam, sebelum melanjutkan ke sesi berikutnya.
Malam panjang mereka berakhir sampai jam dua dini hari, entah berapa kali mereka mencapai puncaknya. Dan sekarang dua insan itu tengah terlelap menuju mimpi indah masing-masing.
Keesokan harinya.
Karena ini hari weekend, Aleta terbangun lebih awal. Ia akan melakukan joging sekeliling komplek. Aleta juga sudah mencoba membangunkan kakaknya, namun sepertinya mereka masih terlelap.
Aleta mendapati bi Ani yang sudah bergelut di dapur. Aleta langsung memeluk tubuh bi Ani dari belakang, sontak membuat bi Ani merasa terkejut.
"Non ... Bibi kangen," ucap bi Ani setelah melihat siapa yang memeluknya. Mereka baru bertemu sekarang, padahal Aleta sudah sampai dari kemarin.
"Bibi kemana saja kemarin?" tanya Aleta.
"Bibi kemarin ke pasar, Non. Bibi pulang dari pasar, katanya Non lagi istirahat. Ya udah, Bibi gak mau ganggu," jelas bi Ani.
__ADS_1
"Gak apa-apa deh, 'kan sekarang udah ketemu." Aleta kembali memeluk tubuh yang subur itu.
"Non, tambah cantik," puji bi Ani.
"Tapi sayang, Bi. Si cantik masih jomblo."
Bi Ani terkekeh melihat gadis cantik itu. "Belum saatnya kali, Non. Non 'kan masih muda, masih banyak waktu mencari jodoh."
Tadinya hanya ingin melepas rindu pada bi Ani, tapi malah keasyikan mengobrol. Niatnya mau joging, alhasil jadi tidak jadi karena sudah kesiangan.
"Non, mau joging?"
"Tadinya. Dah jam berapa ini? Terlalu siang Bi, buat olah raga."
"Kan bisa di depan saja, Non. Lumayan buat meregangkan otot," usul bi Ani.
Ada baiknya ia olah raga di depan saja. "Oklah, Bi. Aku ke depan dulu," pamit Aleta.
"Pagi, Al ...," sapa pria itu, yang tak lain adalah Dam.
Namun Aleta tak bergeming, ia malah melihati wajah tampan Dam, sampai Dam menjadi bingung. Apa ada yang salah dengan penampilannya? Dam melihat tubuhnya sendiri dari kaca jendela rumah kakaknya, dilihat tubuh itu lekat-lekat. Tidak ada yang aneh pada dirinya. Lalu apa yang membuat gadis itu menatapnya sampai tak mengedipkan matanya?
Tiba-tiba ... Ada orang dari arah pintu menghampiri mereka.
"Dam ... Tumben pagi-pagi sudah di sini?" tanya Attar yang baru saja keluar dalam kondisi rambut yang masih basah. Menunjukkan bahwa ia baru selesai mandi.
"Iya, Kak. Aku disuruh Momy mengantarkan ini buat Kak Syiera," jawab Dam sambil memperlihatkan parer bag yang ada di tangannya, lalu memberikannya pada Attar.
"Apa ini, Dam?"
Dam tidak menjawab, ia malah mengangkat kedua bahunya, momy-nya tidak bilang apa itu isinya, ia hanya disuruh mengantarkannya.
Namun si gadis yang ada di sampingnya masih tak mengeluarkan suaranya, ia masih memandangi Dam. Bibir yang semalam menyentuh bibirnya menjadi pusat tatapan Aleta.
__ADS_1
"Al ... Ada tamu kenapa tak diajak masuk," ucapanya pada Aleta. Aleta mengabaikan ucapan kakaknya. "Ayo, Dam. Masuk! Kakakmu pasti seneng dengan titipan Momy."
Aleta baru tersadar setelah kepergian Dam.
"Apa yang terjadi padaku?" Aleta memukul-mukul kepalanya sendiri. menepis semua bayangannya semalam. "Ingat Al ... Kejadian semalam itu tak sengaja. Pria itu sudah memiliki kekasih." Aleta mencoba membuang perasaan yang mulai tumbuh pada dirinya. Aleta terus mengeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia pun kembali meneruskan olah raganya, bayangan semalam membuat Aleta seperti orang gila.
Bahkan ia belum kenal lebih jauh pada pria itu. Tapi kenapa ia seolah terpikat padanya, apa karena ini ciuman pertamanya? Tubuhnya memang di sini, tapi otaknya ada di sana. Ah ... Aleta bener-bener seperti orang gila!
Akhirnya ia pun memutuskan menyudahi olah raganya, matahari mulai menyinari bumi membuat Aleta kepanasan.
***
Dam mendudukkan tubuhnya di sofa, jemarinya bermain lincah di atas layar ponselnya, disaat Aleta melintas di depannya, pria itu masih tak bergeming. Bahkan sesekali Dam tersenyum. Dan itu membuat pusat penglihatan Aleta. Pasti pria itu sedang menghubungi kekasihnya lewat chat, pikir Aleta.
Sampai Aleta menabrak seseorang karena ia terus memperhatikan Dam.
Bugh
Sontak membuat Dam teralihkan dari ponselnya, ia melihat Aleta menabarak kakaknya sendiri.
"Hat-hati, Al ...," kata Attar.
Aleta merasa malu dengan apa yang terjadi dengannya barusan, wajahnya memerah seketika. Denga cepat, Aleta berlari meninggalkan kakaknya.
"Kenapa anak itu?" batin Attar.
Attar pun, kini mendudukkan tubuhnya di sofa bersama Dam. Mengobrol santai bersamanya, sambil menunggu Syiera yang sedang mandi. Tak lama, bi Ani datang membawakan minuman untuk mereka.
"Silahkan, Den. Diminum tehnya," ucap bi Ani setelah meletakan sebuah cangkir di atas meja.
Belum Dam menjawab, tiba-tiba terdengar sesuatu dari kamar atas. Sontak membuat dua pria itu saling memandang.
bersambung
__ADS_1