Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
25


__ADS_3

Dengan semangat empat lima, bi Ani langsung melaksanakan tugasnya.


"Ah ... Sepertinya akan ada Attar junior," ucap bi Ani.


Sepertinya bi Ani tidak sadar kalau majikannya masih ada di dapur, mendengar ucapan bi Ani membuat sang majikan senyum-senyum sendiri.


Lucu juga kalau ada Attar junior, pikirnya. Sepertinya harus lebih sering melakukannya agar cepat tumbuh. Masih dengan tersenyum, Attar lupa bahwa gelas yang sedang dituang air itu ternyata sudah penuh terisi, sampai luber.


Mendengar kucuran air, membuat bi Ani langsung menoleh ke sumber suara.


"Eh, Tuan. Duh ... Jangan-jangan Tuan denger lagi." Tentang ucapannya tadi buat bi Ani jadi tak enak.


"Denger apa, Bi?" tanya Attar.


"Ti-tidak, Tuan," jawab bi Ani terbata.


"Cepat selesaikan masakannya, saya tunggu satu jam." Setelah mengatakan itu, Attar kembali ke kamar dengan segelas air di tangan.


Setibanya di kamar, ia melihat sang istri masih tertidur dengan pulas. Ia meletakkan gelas di atas nakas, lalu menghampiri bidadari tak bersayap itu.


Dibelainya pipi mulus istrinya, andai dari dulu seperti ini, mungkin Attar junior sudah lahir. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, kembali merengkuh bibir mungil itu.


Syiera merasa tidurnya terganggu langsung saja membuka mata, dilihatnya sang suami tengah memandangnya. Ia langsung beranjak memposisikan tubuhnya untuk duduk.


Masih dengan canggung akan apa yang terjadi hari ini, diingatnya tadi pagi sebelum terjadi sesuatu diantara mereka, bukankah mereka perang mulut yang pada akhirnya berakhir perang di ranjang.


"Ke-kenapa menatapku seperti itu?" Syiera jadi salah tingkah dibuatnya.


"Cantik, aku suka kecantikanmu."


"Gombal ... Berapa gadis yang kamu gombali?" Sepertinya suaminya itu sudah lihai dengan mengambil hati seorang gadis, salah sataunya ia menjadi korbannya.


"Mana ada aku ngegombal? Aku serius! Kamu cantik."


"Sekarang aja bilang cantik. Bahkan tadi bilang, kalau aku murahan." Syiera malah teringat perkataan suaminya yang membuat hatinya merasa teriris.


Attar yang menyesal, langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya. "Maaf, mungkin aku sudah salah, tanpa mengenalmu lebih dalam." Diusapnya lembut pucuk rambut istrinya.


Syiera langsung mendongakkan wajahnya melihat ke arah suaminya. Benarkah dia menyesal? Apa cuma bualan kalau dia sudah medapatkan apa yang diinginkannya? Syiera hanya takut setelah itu suaminya akan mencampakkannya begitu saja.

__ADS_1


Mungkin saat ia bersamanya, suaminya itu akan lupa dengan wanitanya. Begitu pun sebaliknya, pikirnya. Apa Syiera masih meragukan suaminya? Tak percaya begitu saja dengan lelaki hidung belang sepertinya.


Syiera menduga-duga dengan apa yang ia ketahui, bahwa suaminya itu memiliki gadis lain selain dirinya.


"Attar ... Bisakah hanya ada aku dalam hatimu?" celetuk Syiera, entah ada keberanian dari mana Syiera mengucapkan itu. Apa Syiera mulai menetapkan hatinya pada pria yang belum sepenuhnya ia ketahui siapa dirinya.


"Apa kamu meragukanku? Dengan cara apa aku membuktikannya, kalau aku sudah menjatuhkan hatiku hanya untukmu! Aku mencintaimu dari dulu. Apa kamu benar-benar tak ingat padaku?"


Syiera melepaskan diri dari pelukan suaminya, menatap wajahnya dengan intens. Apa iya mereka sudah saling mengenal? Tapi kenapa Syiera tak tahu siapa dirinya.


"Bisa kamu jelaskan dengan ucapanmu barusan?" Syiera benar-benar tak mengerti.


"Aku yang menolongmu sewaktu kamu pingsan, saat pertama kali kamu masuk kuliah. Masih ingat tidak?"


Syiera mencoba memutar memori dalam otaknya di mana waktu pertama kali ia masuk kuliah. Sedikit-sedikit ia teringat.


"Kamu ..."


"Iya, itu aku. Apa kamu sudah ingat siapa aku sekarang?"


"Kenapa tak jujur kalau Attar yang menjadi suamiku itu yang menelongku sewaktu dulu."


"Terus ... Tujuanmu menjadi OB di kantor, apa itu juga bagian dari kebohongan?"


"Itu hanya cara agar aku bisa lebih mengenalmu. Tapi, pernikahan ini murni. Tidak ada unsur kebohongan, bahkan aku tak menyangka bakal menjadi suamimu." Attar mencoba meyakinkan akan ucapannya, ia tak ingin kesalahpahaman terjadi lagi diantara mereka.


Sepertinya hari mulai sore, bahkan langit sudah mendung. Masa iya mereka akan terus seperti ini.


"Sudah sore, sebaiknya kamu mandi," titahnya pada istrinya.


Syiera pun beranjak dengan pelan. Ketika Syiera berjalan, Attar terkekeh. "Kenapa jalannya seperti pinguin? Apa segitu sakitnya?" Apa ia sudah menyakitinya, pikirnya.


Pikirannya berkelana, kalau Syiera seperti itu mana bisa malam ini ia berselam kembali. Ah ... Sial, kenapa otaknya malah traveling.


Disaat Syiera sudah keluar dari kamar mandi, Attar langsung menghampirinya. Syiera duduk di kursi meja rias. Ia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Aku bantu keringkan." Dengan lembut ia melakukannya, takut-takut ia menyakiti istrinya. Disaat sudah kering ia menyisirnya secara perlahan.


Attar benar-benar membuat istrinya itu nyaman bila di dekatnya, ia mengambilkan baju untuk dikenakan oleh istrinya.

__ADS_1


"Pakai ini." Attar memberikan baju untuknya.


Diliriknya baju itu. "Tidak salah dia menyuruhku pakai baju itu?" Entah apa tujuannya suaminya itu memilihkan baju itu padanya. Tapi, ya sudahlah. Ia akan menuruti apa kata suaminya.


"Aku sudah lapar, ayo kita makan?" ajaknya pada istrinya.


Syiera sedikit risih dengan baju itu, karena ia tak terbiasa dengan pakain yang ia kenakan saat ini.


Di ruang makan.


Bi Ani sudah menghidang beberapa lauk pauk santap dihidang. Syiera keheranan begitu banyaknya makanan di sana, siapa yang akan menghabiskan makanannya, pikirnya.


Mereka pun mendudukkan dirinya di kursi masing-masing. Bi Ani menatap heran pada majikan perempuannya, apa majikannya itu sakit? Pikirnya, tidak mau ikut campur. Bi Ani tak menghiraukannya. Sedikit aneh emang, melihat keakaraban mereka membuat bi Ani ikut bahagia. Tidak seperti tadi pagi, menyeramkan!


"Liat apa, Bi?" tanya Attar, asistennya itu sedari tadi memperhatikan istrinya. "Apa Bi Ani


melihatnya. Tapi gak kelihatan, ah." Attar takut kalau bi Ani melihat begitu banyaknya tanda merah di leher istrinya. Ia memang sengaja memilihkan baju itu, dengan model, kerah tinggi agar bisa menutupi leher jenjang istrinya.


Bi Ani menggeleng cepat. "Bibi ke belakang dulu, Tuan." bi Ani pun melipir pergi.


Attar menghembuskan napasnya dengan lega.


"Kamu kenapa?" tanya Syiera.


Sepertinya Syiera belum manyadari kenapa suaminya itu memilihkan baju itu untuknya.


"Kenapa? Apa ada yang lucu!" tanyanya ketika Attar tersenyum ke arahnya.


"Gerah tau pakai baju ini." Syiera mulai kesal dengan bajunya. "Aku ganti dulu, ya?"


Ketika Syiera akan beranjak, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Biar aku yang buka." Attar berdiri hendak melangkah, tapi ia teringat sesuatu. "Jangan ganti baju, ya?" pintanya.


Syiera mendesis. "Ish ... Kenapa gak boleh ganti!"


"Nanti saja gantinya, jangan sekarang. Aku terima tamu dulu, kamu di sini saja jangan kemana-mana!"


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2