Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
88


__ADS_3

Akhirnya, masalah bra selesai. Aleta terpaksa meminjam milik kakak iparnya. Aleta sempat terkejut melihat koleksi baju-baju **** milik kakaknya. Membuat otaknya traveling ke mana-mana.


"Kamu kenapa senyum-senyum? Apa branya sudah dapat?" tanya Malik.


"Sudah, ini sudah aku pakai."


Setelah itu, mereka pergi sesuai rencana. Rumah sakit tujuan mereka, namun sebelum pergi, mereka lebih dulu pamit pada bi Ani. Axel pun sempat menangis, balita itu ingin ikut dengan Malik.


Malik mengendara mobil sendiri, ia masih menggunakan mobil kakanya untuk menjemput orang tuanya. Tapi, sebelum mereka menjemput, Aleta meminta kepada suaminya untuk mampir di mal. Ia ingin belanja kebutuhanya seperti bra yang sudah tidak pada muat. Jelas Malik sangat antusias ketika diminta mengantar istrinya belanja pakaian dalam.


Dan mereka pun sampai di mal. Setibanya di sana, Malik senyum-senyum sendiri. Aleta merasa curiga, kali ini apa yang akan direncanakan suaminya itu?


"Awas ya kalau merencanakan yang aneh-aneh!" Malik bersiul seolah tidak mendengar. Tahu suaminya seperti itu, ia langsung saja masuk ke dalam mal.


Aleta langsung ke toko pakaian dalam, ia langsung memilah-milah mana saja yang ia suka. Tanpa sepengetahuan istrinya, Malik memasukkan beberapa baju **** ke dalam keranjang untuk digunakan istrinya nanti. Selesai dengan belajaannya, Aleta langsung membayarnya. Ia sempat berpikir, kenapa ia membayar sedikit mahal, padahal hanya beberapa potong saja yang ia beli. Tanpa rasa curiga ia pun tak memikirkannya lagi.


"Sudah?" tanya Malik. Dan Aleta mengangguk. "Mana sini, belanjaannya?" Malik mengambil beberapa paper bag di tangan istrinya, dan menyimpannya di dalam bagasi mobil.


Setelah dari mal, mereka langsung saja ke rumah sakit. Hanya membutuhkan beberapa menit saja bagi mereka sampai di sana, karena lokasinya memang cukup dekat.


Malik turun lebih dulu, setelah itu ia membuka pintu di sebelah istrinya, dan Aleta pun langsung turun. Mereka berdua berjalan sambil bergandengan.


"Bukannya itu Papi?" kata Aleta pada suaminya.


"Iya itu, Papi. Sedang apa Papi sama Kakakmu?"


"Kakak ku 'kan Dokter, jadi sudah biasa bagi Kakak berbincang dengan keluarga pasien," jelas Aleta, sedangkan Malik hanya manggut-manggut.


"Hai, Kak," sapa Aleta pada Attar. Attar pun tersenyum mendapati adiknya ada di sini.


"Pi, bagaimana keadaan Mama?" tanya Malik pada papinya.


Pertanyaan Malik membuat Attar terperanga. Apa gendang telinganya rusak, sampai ia mendengar adik iparnya menyebut tuan Moreno dengan sebutan papi? Belum kelar dengan pemikirannya, ia semakin terheran saat Moreno menjawab pertanyaan Malik.

__ADS_1


"Apa bisa kalian jelaskan?" tanya Attar.


"Pi, kenalin. Ini Kakak dari istriku. Kakak iparku," ucap Malik.


"Oh ya?" Moreno pun tak menyangka, seringnya bolak-balik rumah sakit membuatnya saling mengenal dengan Attar.


"Ini, Papi aku, Kak," jelas Malik pada kakak iparnya.


Sedikit rasa tak percaya dengan pengakuan Malik, ia kira, Malik sebatang kara. Ternyata dugaannya salah. Attar tahu betul siapa Moreno. Pendatang dari luar, dan usahanya cukup maju di sini. Menjadi suatu kebanggaan bagi Attar menjadi iparnya.


Setelah mengenalkan Moreno pada Attar. Malik pun pamit, ia ingin menemui sang mama. Dan pada akhirnya, Moreno pun undur diri dari hadapan Attar. Mereka berjalan bersamaan menuju ruangan Frita. Ibu paruh baya itu sejak tadi memang menunggu putranya.


"Ma," panggil Malik. Frita mengembangkan bibirnya menjadi sebuah senyuman.


"Kenapa lama sekali! Mama sudah bosan di sini. Mama ingin pulang," keluh Frita.


"Iya, Ma. Kita pulang sekarang," kata Malik.


"Menantu Mama juga ikut 'kan?"


Aleta tersipu malu, ia belum terbiasa mengumbar kemeseraannya di depan publik. Apa lagi di depan orang yang baru ia kenal.


"Kamu kenapa? Wajahmu merah," bisik Malik di telinga Aleta. Kenapa suaminya malah tambah bikin malu saja dengan pertanyaan seperti itu?


"Aku gak apa-apa," jawabnya dengan pelan.


"Kalian ngomongin apa sih? Kok bisik-bisik!" Mama Frita jadi penasaran.


"Gak ngomongin apa-apa kok, Ma. Hanya bahas sesuatu," jawab Malik.


"Mama mau pulang sekarang, Pi," pinta Frita.


"Iya, Ma. Kita pulang," sahut Malik.

__ADS_1


Mereka pun bersiap-siap untuk pulang. Namun, Aleta meminta pada Malik, sebelum pulang ia ingin pamit pada kakaknya. Malik pun menyetujuinya, bahkan ia pun ikut menemui kakak iparnya.


"Pi, kalian tunggu saja di mobil. Aku dan Aleta akan menemui Kak Attar dulu," ucap Malik.


Orang tua Malik lebih dulu menuju mobil, sedangkan Malik dan Aleta menuju ruangan Syiera. Setelah berpamitan pada Attar dan Syiera, mereka langsung menyusul kedua orang tua Malik.


Malik dan istrinya langsung masuk ke dalam mobil, tanpa ada percakapan lagi diantara mereka. Mobil langsung melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Malik melirik ke arah istrinya.


"Kamu kenapa, sayang?" Malik meraih tangan Aleta, bahkan ia sampai mengecupnya. Aleta menarik tangannya sendiri, ia sedang dilanda kecanggungan. "Rilex, dong. Mereka juga pernah muda, jadi biasa saja ya?" pintanya pada sang istri. Aleta mengangguk pelan.


Tak terasa, mereka sudah sampai di kediaman Moreno. Pagar yang menjulang tinggi menjadi pengokoh rumah itu, Malik sudah sangat rindu dengan rumah ini. Di mana ia di besarkan oleh kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang.


Mobil masuk ke dalam halaman, Aleta melihat kesekeliling halaman itu dari dalam mobil. Ia masih berasa mimpi dengan keadaan Malik, ia bersyukur mendapatkan suami seperti Malik. Baik, sabar, penyayang plus orang kaya. Nilai plus bagi Aleta untuk suaminya.


"Ayo, sayang. Kita turun," ajak Malik. Aleta sampai tak menyadari kalau mertuanya sudah lebih dulu turun dari mobil.


"Iya." Aleta pun turun dari mobil. Malik langsung menggenggam tangan istrinya, berjalan menuju masuk ke dalam rumah. Aleta melihat seisi rumah itu, banyak lukisan-lukisan yang bernilai tinggi. Kini, tatapannya fokus pada sebuah poto, sepasang anak kecil yang begitu tampan dan lucu.


"Apa itu kamu?" Tunjuk Aleta pada sebuah bingkai yang berwarna gol.


"Hmm, itu aku dan Kakakku," jawab Malik.


"Kalian kembar? Di mana sekarang saudaramu?"


"Di surga," jawab Malik simple.


Aleta yang mendengar kata surga, ia pun mengerti. "Maaf, ya. Aku gak bermaksud," ucapnya terputus kala Malik mendahului ucapannya.


"Gak apa-apa. Lagian aku juga tidak sempat mengenalnya lebih lama, jadi tidak terlalu sakit untukku." Malik dan saudaranya terpisah sejak kecil diusia genap tiga tahun, kakaknya lebih dulu menghadap sang pencipta, karena sakit.


Ketika sedang fokus mengobrol, tiba-tiba Frita datang. Ia menyuruh menantunya itu untuk istirahat, Frita tidak ingin Aleta kecapean. Frita orangnya baik, tidak jauh seperti Malik. Pantas sikap Malik begitu baik, ternyata Malik mewarisi sifat seperti Frita.


Aleta dan Malik langsung menuju kamar. Kamarnya begitu nyaman bagi Aleta. Bumil itu langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.

__ADS_1


Malik pun ikut merebahkan tubuhnya di sana. Malik memeluknya dari samping.


Bersambung.


__ADS_2