
Sagara dan Sadewa, anak kembar yang begitu lucu dan menggemaskan. Aleta kewalahan saat mengasuh Sagara, kaka dari Sadewa. Saga tidak seperti Dewa.
Saga begitu aktif ketimbang Dewa.
"Malik," panggil Aleta.
"Iya, sayang. Ada apa?" jawab Malik, ia adalah suami siaga. Di mana Aleta memanggilnya, dengan sigap ia menghampirinya. "Ada apa?" jawabnya lagi setibanya di hadapan istrinya.
"Lihat." Tunjuk Aleta pada Saga, balita itu sedang merangkak melewati pintu.
"Ya, ampun, Saga. Mau ke mana sih?" kata Malik sembari menghampiri anaknya yang sedang mencoba keluar dari dalam rumah.
Aleta tidak bisa mencegah Saga, karena ia sedang memberikan asi kepada Dewa. Dewa menyusu pada Aleta, sedangkan Saga, balita itu tidak mau meminum asi darinya. Entah kenapa dia berbeda dari Dewa.
Dewa cenderung tidak bisa meminum susu formula, dan ia juga lebih dekat pada Aleta ketimbang dengan Malik. Sedangkan Saga, balita itu lebih dekat pada Malik. Karena mereka memiliki jatah masing-masing untuk mengurus anaknya.
"Anakmu itu tidak bisa diam, aku sampai pusing," celetuk Aleta.
"Dia anakmu juga," kata Malik.
Entah kenaoa sebabnya, Aleta menjadi berubah. Ia jadi lebih gampang marah setelah melahirkan, dan Malik yang selalu menjadi pelampiasan. Malik sendiri mengerti, mengurus anak dua sekaligus butuh tenaga ekstra dan kesabaran.
__ADS_1
Ini sudah kesepakatan mereka, tidak akan memakai jasa baby siter selagi mereka masih mampu mengurus anaknya. Tapi, semakin hari. Saga begitu aktif, sepertinya Aleta butuh pengasuh untuk anaknya itu.
"Sepertinya aku butuh pengasuh untuk Saga." Kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Aleta. "Aku tidak sanggup, kamu juga tidak mungkin ada di rumah terus 'kan?" tanya Aleta pada Malik.
Sejauh ini, Malik selalu bekerja dari rumah. Ia pergi ke kantor dalam keadaan mendesak, itu pun ia harus menitipkan Saga kepada orang tuanya.
"Aku terserah kamu saja," jawab Malik.
"Ya sudah kalau begitu, kamu cari baby siter yang sudah berpengalaman minimal pengalamannya 5 tahun," pinta Aleta.
"Iya, aku usahakan. Aku coba cari di internet."
Malik menggendong Saga dan membawanya ke ruang kerjanya, mendudukkan balita itu di kursi khusus balita yang tersedia di sana.
Malik hanya menggelengkan kepala ketika melihat anaknya itu, pantas Aleta sampai kewalahan. Saga tidak bisa diam, ia sampai berpikir. Aleta ngidam apa? Kenapa sifat kedua anaknya berbeda?
Malik terus menelusuri dunia internet melalui laptopnya, sampai ia menemukan baby siter berpengalaman seperti yang di inginkan Aleta. Semoga wanita itu bisa mengasuh anaknya yang hiperaktip ini.
Malik begitu terkejut ketika mengetahui umur baby siter itu. Diusianya yang masih mudah sudah mendapat serifikat sebagai pengasuh handal, bahkan wanita itu masih gadis. Bagaimana bisa? Malik begitu kepikiran.
Namun, ia urungkan niatnya. Bisa gawat kalau baby siter-nya seperti dia, Aleta tidak mungkin setuju, bisa-bisa istrinya itu berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Aleta begitu cemburu pada suaminya. Bahkan, Malim masih ingat bagaimana istrinya itu tidak menyukainya.
__ADS_1
Ia jadi tertawa sendiri di ruangan kerjanya. Aleta yang baru saja masuk ke ruangannya sampai terheran, apa yang ditertawakan suaminya?
"Ada yang lucu sampai tertawa begitu?" tanya Aleta.
Malik langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan, tidak mungkin ia berkata jujur bukan? Bisa perang dunia kalau istrinya tahu.
"Tidak ada apa-apa," elak Malik.
"Bagaimana? Apa sudah dapat pengasuhnya?" tanya Aleta lagi.
Malik menggelengkan kepalanya, memberi jawaban bahwa ia belum menemukan pengasuh untuk Saga.
"Cari yang berpengalam lama itu susah, sayang. Cari yang wajar-wajar saja ya?" bujuk Malik.
Aleta menghembuskan napas, ia kecewa karena belum mendapatkan pengasuh untuk Saga, ia melirik ke arah Saga, balita itu sedang bermain dengan mainannya. Balita itu sepertinya akan tumbuh gigi, ia melihat Saga sedang menggigit-gigit mainan itu.
Aleta mengalihkan Dewa dari pangkuannya ke pangkuan Malik, lalu ia menghampiri Saga dan mengambil mainan itu, ia takut kalau mainan itu bisa membuat mulut Saga terluka. Tapi balita itu malah menangis karena mainannya diambil. Aleta menggendong Saga.
"Aku tidurkan Saga dulu, aku titip Dewa," kata Aleta.
Aleta pun pergi ke kamar anaknya dan menidurkan Saga.
__ADS_1
Sementara Malik, ia begitu asyik bermain dengan Dewa. Ini pertama kali Dewa anteng bersamanya.