Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
Tumbuh Bersama-sama


__ADS_3

Malik ikut bergabung dengan Aleta, ia ingin tahu apa saja yang mereka bicarakan sampai istrinya terlihat begitu senang. Malik mendudukkan diri di samping istrinya dan tersenyum ke arah Mira.


"Aku sudah mendapatkan pengasuh untuk Saga," ucap Aleta pada Malik.


"Siapa?" tanya Malik penasaran.


"Ibu, ini." Mata Aleta terarah pada Mira.


"Iya, Tuan. Bolehkan saya bekerja di sini? Tidak diberi upah pun tidak apa-apa, cukup berteduh dan bisa makan saja sudah cukup, Tuan," kata Mira.


Mendengar jawaban Mira, Malik menjadi kasihan. Dan sepertinya tidak ada salahnya ia memberi kesempatan pada wanita paruh baya ini, ia juga tidak tega melihat bayi yang ada dalam gendongan wanita itu.


"Saya terserah istri saya saja, Bu," jawab Malik.


"Kamu tunjukkan kamar pada Bu Mira, kasihan anaknya," bisik Malik pada Aleta. Aleta menganggukkan kepala. "Saya tinggal dulu kalau begitu, semoga Ibu betah berada di sini," kata Malik pada Mira.


"Sayang, aku ke ruang kerjaku dulu." Malik pun pergi.


Sementara Aleta, ia mengajak Mira ke kamar yang akan di tempati olehnya.


"Ini kamar, Ibu. Dinda ditidurkan saja, Bu. Kasian dia." Aleta mempersilahkan Mira untuk masuk ke dalam kamar yang terlihat begitu nyaman.


"Terimakasih, Nyonya," kata Mira.


***


Aleta mengajak Mira untuk makan malam bersama, ia tak membedakan Mira sebagai pengasuh Saga.


"Bu, jangan sungkan-sungkan ya? Anggap saja rumah sendiri, saya mau Saga dekat dengan Ibu bukan hanya sekedar pengasuh. Saya mau Ibu mengganggap kami sebagai keluarga." Ucap Aleta sambil tersenyum.


Mira tambah senang mendengar itu, ia tak menduga bahwa mereka begitu baik padanya. Ia tidak akan menyia-nyiakan orang yang sudah baik padanya, ia akan menjaga Saga seperti anaknya sendiri.


Tak lama dari situ, Malik datang membawa Saga. Balita itu terlihat rewel, Mira yang melihat langsung saja mengambil alih Saga dari pangkuan Malik.


"Tuan dan Nyonya makan saja duluan, biar Den Saga saya tenangkan." Setelah mengatakan itu, Mira membawa Saga pergi dari ruang makan. Ia pergi ke dapur untuk membuatkan susu untuk balita itu.

__ADS_1


Dalam sekejap, Saga terhenti dari tangisannya. Malik dan Aleta pun tidak lagi mendengar tangisan anaknya.


"Aku rasa, Saga cocok dengan Bu Mira. Buktinya, Saga tidak rewel lagi," ucap Aleta pada Malik.


"Ya, semoga saja Saga bisa nyaman bersama Bu Mira." Jawab Malik sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Sementara Mira, ia membawa Saga ke kamarnya, dan menidurkannya di samping Dinda anaknya. Ketika sedang menyelimuti kedua balita itu, Aleta datang menghampiri. Ia tersenyum melihat perilaku Mira, ia tidak membedakan kasih sayangnya ke Dinda juga Saga.


"Bu." Suara Aleta mengejutkan Mira, wanita paruh baya itu langsung memutarkan tubuhnya sambil mengelus dada.


"Nyonya, hampir saja jantung saya copot."


"Maaf, Bu." Jawab Aleta sambil tersenyum tanpa dosa. "Ibu makanlah dulu, biar saya yang menemani mereka," sambungnya lagi.


"Iya, Nyonya." Mira pun pergi dari kamar, ia akan makan malam terlebih dulu.


Aleta menatap kedua anak itu secara bergantian, mengelus kepala mereka dengan sangat lembut. Dinda terbangun ketika ia mengusap kepalanya, tidak ingin membuat Saga terbangun, Ia meraih tubuh Dinda menggendongnya dan menimang-nimangnya kembali agar tertidur. Setelah berhasil, ia menidurkan Dinda kembali di samping Saga.


Mira kembali ke kamar, ia melihat Aleta hendak menggendong Saga. Alhasil, Saga terbangun dan merengek.


Aleta menghembuskan napas, sepertinya perkataan Mira benar. Saga merasa nyaman bersama Mira, buktinya anak itu kembali tertidur di pangkuannya.


"Ya sudah kalau begitu, saya titip Saga ya, Bu."


***


Tak terasa, Mira bekerja sudah 5 tahun. Dan sekarang, ia tengah mengantar Saga dan Dinda sekolah. Umur Saga hanya selisih beberapa bulan saja dengan Dinda, hingga mereka tumbuh bersama-sama.


Sedangkan Dewa, ia tidak begitu dekat dengan Mira. Dewa cenderung pendiam, ia hanya dekat dengan orang tuanya. Bahkan tak jarang ia selalu diusilin oleh Saga, kakaknya. Dan Dinda sering melarang Saga untuk melakukan itu.


Dewa sering menangis oleh Saga, dan Dinda selalu menolongnya.


"Terikasih, Dinda," kata Dewa.


"Dasar cengeng, baru segitu saja sudah menangis," cetus Saga pada adiknya.

__ADS_1


"Saga ... Kenapa kamu nakal sekali, dia 'kan adikmu," seru Dinda. Mereka sedang berada di dalam kelas, dan Saga mengambil pensil milik Dewa.


Tak lama, jam pelajaran telah usai. Mira dan Aleta sudah menunggu mereka di depan gerbang.


"Mama ..." Teriak Dewa sambil berlari menghampiri Aleta.


Sedangkan Saga, ia berjalan dengan santai bersama Dinda. Mereka berdua memeluk Mira, Saga mengacuhkan sang mama yang sedang memeluk Dewa.


"Lihatlah, Dinda. Dia manja sekali." Kata Saga sambil menunjuk Dewa.


"Sudah-sudah ... Sebaiknya kita pulang," ajak Mira. Mira sendiri sudah terbiasa akan kelakuan Saga yang selalu meledek adiknya, meski sering ribut, mereka tetap saling menyayangi.


Hingga kebersamaan mereka selalu bertiga, Saga usil bukan hanya kepada Dewa. Ia juga sering usil pada Dinda, Dinda tumbuh dengan paras yang cantik membuat Saga sering menggodanya.


Dinda merasa kesal akan tingkah Saga, ia tidak suka karena Saga sering menggoda teman perempuan di kelas.


Mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Aleta menyetir mobil sendiri, Dewa duduk di kursi depan. Sedangkan Saga, Dinda, dan Mira duduk di kursi belakang.


Dewa mendengar Saga yang sedang menggoda Dinda.


"Bilang saja kalau kamu cemburu, jangan cemberut begitu," kata Saga yang terdengar oleh Dewa.


Saga memang begitu, masih kesil sudah bisa mempermainkan hati wanita. Apa lagi besar nanti, pikir Dewa. Sesekali, Dewa melirik ke belakang dari samping kursi. Sebetulnya, ia tidak suka akan sikap Saga yang terlihat seperti lelaki dewasa.


Perjalanan pun sampai di kediaman mereka, Mira dan Aleta hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Saga dengan Dinda. Saga merangkul tubuh Dinda, mereka berjalan berbarengan menuju masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Dewa, ia masih berada di dalam mobi. Aleta memanggilnya untuk segera turun dari mobil.


"Dewa, ayok turun," ajak Aleta.


Dewa pun akhirnya turun dari mobil, anak berusia 5 tahun lebih itu dituyun oleh ibunya. Aleta sendiri merasa gemas akan tumbuh kembang anaknya secara bersamaan dengan Dinda, mereka seperti anak kembar 3. Tanpa ia sadari bahwa Saga tumbuh menjadi anak yang suka menggoda wanita, termasuk menggoda Dinda.


Setibanya di dalam, Dewa melihat Saga sedang bercanda dengan Dinda. Ia melewati mereka begitu saja, sampai Dinda melihat tingkah Dewa begitu dingin padanya.


"Kenapa, Dewa?" batin Dinda.

__ADS_1


__ADS_2