
Syiera langsung masuk ke dalam. Ia melihat sang Momy masih setia menunggu suaminya di sana. Syiera bersyukur memiliki orang tua yang seperti mereka.
Dania dan Darren melihat ke arah Syiera, seulas senyum menyambut kedatangannya. Syiera memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.
"Bagaimana keadaan Attar?" tanya Syiera pada orang tuanya.
"Attar sudah melewati masa kritisnya," jawab Darren. "Tapi, dia masih belum bisa dikunjungi," sambungnya lagi.
Syiera menghela napas dengan berat. Wanita itu hanya bisa menunggu kapan waktunya ia bisa menemui suaminya.
Dania mengelus punggung Syiera. "Sabar ya? Kamu bisa! Momy yakin kamu bisa menjalani ini semua."
Syiera memeluk ibunya, menumpahkan segala rasa keluh kesahnya. Tak lama, pelukkan itu pun terlepas. Syiera tak lagi menangis, wanita itu akan selalu kuat menjalani hari-harinya tanpa suaminya.
Sekian lama mereka berada di depan ruangan suaminya. Tak lama dari situ, dokter masuk ke ruangan di mana ada Attar di sana. Syiera melihat dokter itu masuk, dengan beberapa suster.
Ketika dokter keluar, Syiera langsung menghampiri.
"Bagaimana, Dok? Apa ada perkembangan?"
Dokter itu tersenyum, tandanya ada perubahan bagi Attar, pikir Syiera.
Namun sayang, senyum itu menghilang secara perlahan. Dokter mengabarkan sesuatu pada mereka, membuat mereka terkejut.
"Maaf, tapi kami harus sampaikan berita ini. kemungkinan, pasien mengalami koma. Kami tidak bisa memastikan sampai kapan pasien seperti ini. Seharusnya, pasien sudah sadar setelah operasi. Tapi sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda pasien akan sadar." Dengan sangat menyesal dokter menyampaikannya.
Tubuh Syiera melemas seketika. Hampir saja wanita itu pingsan.
__ADS_1
"Kemungkinan sembuh itu ada," jelas dokter itu lagi. "Hanya saja, membutuhkan waktu yang tidak tahu kepastiannya." Setelah mengatakan itu, dokter pun berlalu.
Hari-hari, Syiera lalui dengan apa adanya. Wanita itu selalu tegar. Sebulan sudah berlalu, Syiera tiap hari datang untuk menjenguk dan memandikan suaminya. Ia tak mengijinkan siapa pun untuk mengurusnya, terkecuali lelaki. Itu pun jika ia ada keperluan yang tak bisa ia tinggalkan.
Attar sudah di pindahkan ke ruangan VVIP. Sehingga Syiera bisa leluasa, mengurus suaminya di sana. Fasilitas yang lengkap, terkadang Syiera menginap di sana. Wanita itu tak bisa jauh dari suaminya, kadang gantian dengan Aleta.
Disaat Syiera sedang memandikan suaminya, Syiera terus mengajak interaksi pada suaminya. Seakan sedang berbicara walau suaminya tak bisa menjawab, tapi Syiera yakin suaminya pasti bisa mendengar apa yang diucapkan olehnya.
"Sayang ... Cepatlah sadar. Kamu tahu, anak kita mulai menendang-nendang. Coba deh kamu rasakan." Syiera meletakan tangan suaminya di perut. "Kamu merasakannya 'kan?" Tak henti-hentinya ia mengenalkan anaknya pada suaminya itu.
Setetes air mata terjatuh dari pelupuk matanya Syiera. Sampai kapan ia menunggu suaminya sadar? Terkadang, wanita itu merasa lelah akan semua ini.
Tidak! Ia tidak boleh putus asa, selagi suaminya bernapas, wanita itu tetap akan menunggunya. Hingga pada akhirnya, hari ini ia putuskan untuk pulang terlebih dulu. Syiera akan menyuruh perawat untuk menunggunya dua puluh empat jam. Perawat laki-laki tentunya.
"Sayang, aku pulang dulu ya? Cepatlah sadar." Syiera mencium kening suaminya terlebih dulu sebelum ia pulang.
Syiera pun pulang ke rumah, Malik selalu setia menjaganya. Mereka pun akhirnya tiba di rumah. Ada Aleta di sana bersama Dam. Aleta menetap kembali di Indonesia, mungkin sampai kakaknya sadar kembali, walau entah kapan itu.
Malik hanya menjalankan tugas dari Attar. Menjaga kedua wanita itu. Walau terkadang, ia mendapat makian dari Aleta. Gadis itu tak suka padanya, karena Malik terlalu mengatur hidupnya. Malik juga pernah melarang Aleta untuk tidak terlalu dekat dengan Dam. Tapi gadis itu tetap ngeyel, tidak bisa dibilangin.
Akhirnya Malik hanya bisa pasrah, mungkin jika sudah terluka nanti, baru gadis itu akan menyadarinya.
Bulan terus berganti, hingga kandungan Syiera semakin hari semakin membesar. Wanita itu tetap setia pada suaminya. Syiera kembali menemui suaminya.
Tujuh bulan Attar terkapar di atas branker. Wajahnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Walau begitu, tak mengurangi ketampanannya. Syiera mengusap lembut wajah yang selalu membuatnya teduh.
Mendekap tubuh suaminya, hingga dekapan itu tak lagi bisa erat. Karena terhalang oleh kandungannya yang sudah membesar. Kandungan Syiera sudah memasuki delapan bulan lebih. Tinggal menghitung hari anak yang dikandungnya akan keluar. Anak itu berjenis kelamin laki-laki. Tiap hari ada di rumah sakit, membuat Syiera selalu memantau perkembangan bayinya. Bayinya sangat sehat, tak ada masalah sedikit pun dengan kandungannya.
__ADS_1
Syiera selalu dalam kondisi happy ia tak mau ambil pusing, selagi bisa melihat wujud suaminya. Kesempatan sembuh itu ada, hanya menunggu waktu.
***
Kali ini Aleta akan datang menjenguk kakaknya di rumah sakit. Wanita itu tengah menunggu Malik. Malik belum juga datang.
"Kemana sih dia!" Aleta mulai kesal, karena menunggu terlalu lama. Hingga Dam lebih dulu datang untuk menjemputnya. Aleta memang bilang pada Dam, bahwa ia akan ke rumah sakit hari ini.
Aleta tak menyangka kalau Dam akan mengantarnya, karena Malik tak kunjung datang, akhirnya wanita itu pergi bersama Dam. Selama tinggal di Indonesia, Aleta hanya dekat dengan dua laki-laki. Dam dan Malik. Bedanya, kalau dengan Dam ada rasa suka, kalau dengan Malik, Aleta begitu membencinya, entah kenapa Aleta benci pada Malik.
Padahal Malik sangat baik. Malik benar-benar menjaga amanah dari kakaknya Aleta. Mungkin itu penyebab Aleta tidak suka dengannya. Terlalu banyak aturan pada Aleta.
Ketika Aleta hendak masuk ke dalam mobil Dam, tiba-tiba Malik datang. Pria itu langsung mencegat keberangkatan Aleta.
"Maaf, Non. Ban mobilnya bocor," ucap Malik pada Aleta.
"Alasan ... Bilang saja kalau sudah bosan bekerja." Aleta selalu berpikir buruk pada Malik.
Memang kenyataannya begitu, tidak ada alasan lain bagi Malik, karena emang begitu adanya. Malik sudah hapal betul dengan sikap Aleta. Gadis itu emang sedikit keras kepala, Malik hanya bisa mengalah padanya.
Malik begitu dewasa menyikapi sikap Aleta. Malik pria yang penyabar, apa Aleta tidak sadar akan kesabaran Malik padanya. Setiap hari bertemu dengan Aleta, membuat Malik ada sedikit perasaan pada gadis itu. Hanya saja, Malik masih bersikap propesional.
Ia tak mencampuri pekerjaan dengan masalah pribadinya. Malik sebenarnya merasa cemburu, jika Aleta terlalu dekat dengan Dam. Malik tidak ingin Aleta terluka nantinya.
Terlalu lama seperti ini, Aleta putuskan berangkat dengan Dam. Tidak peduli dengan alasan Malik.
"Non, perginya sama saya saja," kata Malik.
__ADS_1
"Saya pergi sama Dam saja." Aleta pun masuk ke mobil Dam. Mobil itu langsung melaju meninggalkan Malik.
bersambung