
Ketika Attar membuka pintu,, ia sedikit terkejut akan kedatangan tamunya. Bisa jadi bahan ledekan kalau mereka tahu tentang keadaan istrinya.
"Hay Kak ...," sapa Dam adik ipar.
Attar membalas dengan senyum khasnya. "Momy mana?" tanya Attar kemudian.
"Tuh ..." Tunjuk Dam ketika sang ibu baru turun dari mobil.
"Siapa yang datang?" tanya Syiera di ambang pintu. Syiera langsung tersenyum ketika tahu siapa yang datang.
"Momy ..."
Dania datang menghampiri anak perempuannya.
"Kenapa tidak bilang akan ke sini?" Untung masalah dengan suaminya sudah kelar, dan itu membuat Syiera lega, kalau mereka tahu 'kan bisa berabe. Bisa panjang ceritanya.
"Kak, kamu sakit?" tanya Dam.
Syiera mengamati dirinya sendiri. Kenapa adiknya bertanya kalau ia sakit.
"Apa aku terlihat pucat?" bisiknya pada Attar. Syiera hanya heran saja, tadi juga ia melihat bi Ani tak mengedipkan matanya ketika melihat dirinya.
"Ti-tidak ... Kamu terlihat bugar, kok." Padahal, ia juga merasa kalau istrinya sedikit pucat, akan tetapi karena itu bukan sakit. Melainkan kehilangan kesuciannya, jadi dikantung matanya terlihat sedikit gelap. Ditambah lagi dengan baju yang ia kenakan sedikit menutup leher.
"Tamu ya disuruh masuk 'lah, Kak. Pegel ini berdiri terus!" celetuk Dam. Ia merasa dua insan itu asyik sendiri, sampai lupa akan keberadaan orang lain di sekitarnya.
Mereka berdua terkesiap, lalu mempersilahkan tamunya masuk. Dam melihat sekeliling rumah kakak iparnya.
"Waahh ... Rumah Kakak besar juga, ya? Tidak heran kalau Kak Syiera betah di sini." Dam berkata seperti itu karena kakaknya sudah jarang menemuinya, pikirnya kalau kakaknya itu nyaman tinggal di sini.
"Kebetulan sekali kita berkempul." Attar langsung saja mengajak mereka makan bersama. Setibanya di sana, Attar langsung memanggil bi Ani. Menyuruhnya untuk menyiapkan piring untuk ibu mertua dan adik iparnya.
"Oh ya, Mom. Apa Daddy masih di kantor?" tanya Syiera.
"Iya, bahkan Daddy yang menyuruh Momy datang, dia mengkhawatirkanmu. Takut kamu sakit karena tak masuk kantor."
__ADS_1
"Iya maaf ...," lirih Syiera.
"Tanya Mbak Arin juga katanya tidak tahu," timpal Dam.
"Itu mungkin karena saya baru pulang, jadi Syiera tidak saya ijinkan ke kantor," jelas Attar. Ia tak ingin masalahnya diketahui oleh mertuanya. " Ayo dimakan." Attar mempersilahkan mereka untuk menyantap makanannya.
Mereka berempat pun makan dengan khidmat. Tak ada suara selain dentuman sendok dan garpu. Setelah selesai makan, mereka berbincang-bincang santai di ruang tamu. Sementara Dam, ia begitu asyik dengan benda pipihnya. Sesekali ia tersenyum dengan benda tersebut. Padahal ada yang memperhatikan dirinya.
Syiera melempar bantal kursi ke arah adiknya itu, sontak membuat Dam terkejut.
"Ah, Kakak ... Ganggu saja!"
"Pacaranmu tuh, jadul!" Syiera langsung terkekeh. "Sampai kapan LDR? Gak kangen apa sama pacar?" Syiera terus mengompori adiknya itu. Dam ingin sekali pergi menemui sang kekasih, tapi tak diijinkan oleh Darren, ayahnya.
"Nanti juga ketemu, Kak. Sekalinya ketemu, aku pasti melepas rinduku padanya." kekeh Dam yang tak mau kalah.
Attar yang melihat kedekatan mereka, ia jadi teringat pada Aleta. Pasti gadis kecilnya itu kesepian di sana.
"Kamu kenapa?" Tanya Syiera.
Wajah Syiera seketika merah, entah siapa yang kini dirindukan suaminya. "Apa dia merindukan gadis itu?" Syiera jadi kesal sendiri.
"Sayang ... Kamu kenapa?" tanya Dania, Dania menyadari akan jawaban suaminya barusan. "Mungkin dia merindukan saudara atau orang tuanya, jangan berpikir yang tidak-tidak," bisiknya di telinga Syiera, takut kalau menantunya itu mendengarnya.
Ah sepertinya memang harus begitu. Syiera belum tahu semua tentang suaminya, bahkan keluarganya pun ia tak tahu. Yang ia tahu hanya bi Ani yang ada di sini, itu pun asisten. Bukan keluarga. Sepertinya ia harus mengulik lebih dalam lagi tentang suaminya.
"Sudah malam, sebaiknya Momy pulang. Takut Daddy sudah pulang, kasian dia sendirian di rumah." Dania dan Dam pun pamit.
"Lain kali aku nginap ya, Kak. Bolehkan?" pinta Dam. Diangguki oleh Attar.
"Ya sudah, Momy pulang." Sebelum pulang, Dania dan Syiera berpelukan. Baru juga sebentar melepas rindu, kini ia harus ditinggal lagi.
"Lain kali, kalian yang main ke rumah," kata Dania sebelum masuk mobil.
"Iya, Mom."
__ADS_1
Syiera benar-benar mengantarkan ibunya dan adiknya sampai mobilnya tak terlihat.
Setelah mereka pergi, Syiera meminta kembali ingin ganti baju.
Ia pun langsung saja masuk ke dalam lebih dulu, tanpa menunggu suaminya yang sedang menutup pintu dan menguncinya. Attar sedikit berlari mengimbangi langkah istrinya.
"Kenapa buru-buru?" Seperti ingin nagih hutang yang tak kunjung dibayar, sudah tak sabar rasanya ingin segera membuka baju dan menggantinya.
"Gerah sekali baju ini. Kamu sepertinya belum tahu baju seperti apa yang membuatku nyaman," oceh Syiera.
"Satu, dua, tiga." Benar saja setelah menghitung, Syiera langsung murka padanya.
"Apa yang kamu lakukan dengan leherku! Pantas saja menyuruhku memakai baju seperti ini. Jadi ini tujuannya, hah!"
"Kalau gak pakai baju itu, mungkin kamu sudah habis diledek adikmu, seharusnya kamu berterima kasih padaku," ucapnya dengan bangga, tak sia-sia bukan ia memilihkan baju itu untuknya.
"Besok hilang gak, ini? Kalau gak hilang bagaimana? Besok 'kan aku ngantor. Jadwal meeting pula." Syiera nampak kesal sekali, kenapa ia bisa kecolongan seperti ini.
Kenapa sampai tak menyadarinya. "Sejak kapan kamu jadi pampir?" Syiera tak percaya kalau suaminya seganas ini.
Attar hanya mesem-mesem menyaksikan kemarahan istrinya, perlahan ia menghampiri istrinya yang sedang mengambil baju di almari, sedangkan tadi, ia mengoceh di depen cermin sampai ia melihat beberapa jejak yang ia tinggalkan.
"Maaf, ya?" bisiknya lembut di telinga istrinya.
Syiera merasakan hembusan napas yang beraroma mint itu. Membuatnya segar, sedikit rilex. Attar memutarkan tubuh istrinya untuk menghadapnya. Lalu menangkup kedua pipinya dengan tangannya.
Sedangkan Syiera, sampai saat ini belum memakai baju, hanya bra berwarna maroon yang menetupi sebagian tubuhnya.
Sepertinya malam ini akan terjadi badai besar diantara mereka. Kembali mendaki dan menyelami lautan madu yang kini telah menjadi miliknya.
Dibalik selimut tebal kedua insan itu memadu kasih. AC sudah dinyalakan. Ditambah, di luar hujan begitu lebat. Tapi kenapa mereka berdua masih merasakan hawa panas. Panas yang menjalar di seluruh tubuhnya. Entah kenikmatan itu akan berakhir sampai kapan, sepertinya mereka akan begadang semalaman. Yang awalnya benci, kini Syiera menyatukan perasaannya menjadi cinta, cinta yang tak ternilai harganya.
Dalam ... Begitu dalam cinta dikeduanya, mungkinkah mereka akan selamanya dalam kehangatan yang tiada henti? Malam semakin larut, namun tak membuat mereka merasakan kantuk, yang ada mereka malah bersemangat ketika puncak pertama telah dicapai. Dan kembali merengkuh surga dunia.
bersambung
__ADS_1