
Karena pekerjaan sudah selesai, Syiera baru ngelayanin suaminya. Dilihat, suami kini sudah tertidur dengan damai. Seharian ini mereka hanya rebahan di kamar. Attar sendiri gak bisa keluar rumah karena mual dan pusing melanda.
Syiera menghela napas dengan santai.
"Akhirnya ... Sudah tidur, aku jadi bisa santai." Syiera meregangkan otot-otot yang terasa kaku, terlalu lama menatap layar laptop membuat matanya pegal. Ia pun beranjak dari kasur, lalu turun ke bawah.
Ia melihat bi Ani sedang menyiapkan makan malam. Lalu mencari keberadaan Aleta, di mana gadis itu?
"Bi, Bibi liat Aleta, tidak?" tanya Syiera pada bi Ani.
Bi Ani terkejut mendengar suara tiba-tiba dari arah belakangnya. Hampir saja spatula yang ia pegang terjatuh. Bi Ani menyentuh dadanya yang bergemuruh saking terkejutnya, lalu menoleh ke belakang.
"Si Non, bikin Bibi jantungan saja. Dari tadi Bibi di dapur, gak lihat Non Aleta. Mungkin masih di kamar."
"Ya udah, Bibi lanjutin aja masaknya, aku ke kamar Aleta dulu." Syiera pun pergi dari dapur, menuju kamar Aleta.
Setibanya di depan kamar Aleta, ia langsung mengetuknya. Tak lama Aleta pun keluar.
"Ada apa, Kak?" tanya Aleta ketika ia sudah ada di ambang pintu.
"Sebentar lagi makan malam. Kakak hanya mengingatkan," jelas Syiera.
"Iya, Kak. Nanti aku menyusul. Aku mau mandi dulu." Aleta pun kembali menutup pintu.
Syiera kembali ke kamar suaminya, bukankah suaminya juga belum mandi. Ketika Syiera ke kamar, Attar sudah tidak ada di tempat tidur. Lalu ia mendengar gemircik suara air dari kamar mandi. Syiera tersenyum dan berpikir, suaminya sudah seperti biasa lagi, pikirnya.
Tak lama, Attar keluar dari kamar mandi. Wangi sampo menyeruak di ruangan itu. Syiera menghirupnya, segar mencium itu. Lalu, ia pun menghampiri suaminya. Attar hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang. Hampir handuk itu melorot karena Syiera memeluknya tiba-tiba.
__ADS_1
Attar membalikkan tubuhnya, kini mereka saling berhadapan.
"Aku suka baumu," kata Syiera.
Attar membelai pucuk rambut istrinya. Momen yang selalu diimpikan oleh Attar ketika ia sudah menikah dengan Syiera. Kenapa tidak dari dulu mereka seperti ini? Mungkin Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah untuk mereka.
Dan kini kehendak Tuhan sudah terjadi. Mereka hidup bahagia sekarang, apa lagi Syiera sekarang tengah mengandung anak pertamanya. Kebahgiaan akan segera tertambah ketika anaknya sudah lahir nanti.
"Cepat pakai bajumu, aku sudah laper," kata Syiera. Attar pun mengangguk, lalu menuju lemari bajunya setelah melepaskan pelukan itu.
Selesai memakai baju, kini mereka keluar kamar. Menuju ruang makan, makanan sudah tertata rapi di atas meja makan. Mereka pun duduk di kursi meja makan.
Tak lama dari situ, Aleta pun datang dan ikut bergabung di sana. Mereka bertiga makan dengan tenang.
Biasanya Aleta akan selalu bercerita pada sang kakak. Tapi sekarang, gadis itu nampak murung. Tak seperti biasanya, apa ucapan dari ibunya Dam menjadi penyebab terdiamnya Aleta? Bahwa Dam akan segera di nikahkan oleh orang tuanya setelah lulus kuliah nanti.
Sontak membuat Attar dan Syiera terkejut atas keinginan adiknya itu. Bukankah masa liburnya Aleta satu bulan? Kenapa cepat sekali ia akan kembali? Pikir Attar, apa penyebab Aleta ingin kembali? Padahal, libur sekarang sangat dinantikan oleh adiknya itu.
Kapan lagi mereka akan tinggal agak lama kalau bukan sekarang? Attar mencegah kepulangan Aleta. Ia harus berada di sini selama liburan. Apa karena Attar tak mengajaknya jalan-jalan? Jadi Aleta ingin kembali ke Amerika.
"Aku bosan di sini. Gak ada yang bisa aku lakuin," keluh Aleta.
"Kita liburan ke Bali, bagaimana, Al? Kamu mau 'kan?" Syiera memberi ide agar Aleta tak cepat-cepat kembali ke luar negri. Ia juga belum begitu dekat dengan adik iparnya.
Mata Aleta langsung berbinar ketika Syiera mengajaknya liburan ke Bali. Tanpa ragu Aleta langsung mengangguk, ia mau ke Bali. Pantai yang indah menjadi tujuan utama gadis itu.
"Kamu serius ingin berlibur ke Bali? Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Attar pada Syiera.
__ADS_1
"Gampang! Ada Arin juga Daddy, yang akan mengurusnya. Anggap aja kita akan bulan madu sekaligus baby moon." Syiera meyakinkan Attar akan keputusannya.
Ia juga kasihan pada Aleta, masa liburannya hanya di rumah saja. Kapan lagi bisa liburan bareng adik ipar.
"Sekalian aku akan aja, Dam. Aku sudah lama gak ke Bali sama anak itu." Syiera jadi antusias sendiri mengingat kejadian masa liburan sekolah bersama Dam.
"Biar Aleta ada temen juga kalau aku ajak si Dam. Gimana, Al? Kamu setuju 'kan kalau Kakak ajak si Dam?"
"Terserah Kakak, saja. Itu pun kalau Dam-nya mau."
"Anak itu pasti mau kalau diajak berlibur, apa lagi kalau liburannya ke pantai. Dam suka pantai," jelas Syiera. "Ya, kita ke Bali, ya?" katanya lagi pada Attar. Attar sih gimana sajalah. Dia ngikut saja, apa pun yang diinginkan sang istri, ia akan menurutinya. Yang penting istrinya bahagia.
"Makasih ya, sayang." Syiera memeluknya dari samping sambil menyenderkan kepalanya di pundak Attar.
Aleta tersenyum melihat pemandangan itu. Ternyata kakaknya benar-benar sudah bahagia. Ia pun ikut bahagia. Karena keputusan sudah jelas, mereka pun kembali melanjutkan makan malam mereka.
Makan malam pun selesai, kini mereka ada di ruang tv. Melihat acara film kesayangannya Syiera. Tapi tidak dengan Aleta, gadis itu kembali ke kamar, ia tak ingin jadi obat nyamuk di tengah kemesraan mereka. Dan itu membuat Aleta baper jika melihatnya. Gadis itu memilih membuka ponselnya, melihat kotak masuk sosial medianya. Ketika tangannya sedang berselancar di layar. Ponsel itu berdering, nama yang muncul di layar, nama Dam. Ngapain pria itu menghubunginya malam-malam?
Aleta membiarkan ponselnya yang terus berbunyi, ia mengacuhkan panggilan itu. Tak lama ponselnya kembali senyap.
Tanpa ia duga, ponsel itu kembali berdering, Aleta tetap mengacuhkannya. Bahwa ia tak boleh terlalu dekat dengan pria itu. Ia takut perasaanya akan semakin dalam. Penjelasan ibunya Dam sudah cukup jelas di telinganya. Dam sudah milik orang lain, Aleta takut dengan perasaannya sendiri. Takut cinta itu tumbuh dan tak bisa untuk melepaskannya.
Sementara Dam. Pria itu berdecak kesal, kenapa Aleta tak menjawab panggilannya? Padahal ia hanya ingin menyakan akan kepergiannya ke Bali. Ia sudah diberi kabar oleh kakaknya melalui chat. Dam senang, ia akan pergi ke Bali bersama kakaknya. Apa lagi dengan Aleta, gadis yang baru ia kenal.
Kenapa Dam jadi merasa hatinya berbunga-bunga ketika kakaknya mengajaknya pergi bersama Aleta? Apa gadis itu sudah mengusik hati Dam yang selama ini setia pada satu wanita?
bersambung
__ADS_1