
Keesokan harinya.
Aleta lebih dulu terjaga dari tidurnya, masih pagi bumil itu sudah merasa lapar. Bukannya tidak mau menyediakan makanan sendiri, ia memang tidak bisa memasak. Tinggal di Amerika sendiri membuat Aleta terbiasa tidak melakukan urusan ibu rumah tangga. Kalau ia mau makan tinggal pesan. Hidupnya dicukup oleh kakaknya, dan sekarang setelah memiliki suami, ia tak mungkin menggantungkan hidupnya pada kakaknya lagi.
Hanya pada Malik ia bermanja. Untung mendapatkan suami seperti Malik, namun walau demikian, Aleta bermanja bukan melalui materi, ia meminta kasih sayang lebih pada suaminya.
Aleta pun membangunkan suaminya, pria itu masih terlelap. Mungkin ia kelelahan akibat pertempuran semalam, karena Aleta menyadari, bahwa ia mulai menikmati alur percintaan yang selalu dimainkan suaminya. Aleta selalu dibuat puas oleh suaminya, hingga ia memintanya tak cukup sekali.
Aleta tersenyum sendiri ketika ia teringat akan masalah dengan ranjang. Malu jika ia ingat bagaimana pertama kali ia menjadi istri Malik. Tak kenal maka tak sayang, mungkin itu yang dirasakan Aleta.
Malik menggeliat ketika ada yang mencoba membangunkannya dengan seperti ini. Aleta menghadiahi beberapa kecupan di wajah suaminya. Perlahan, Malik membuka matanya, ia melihat wajah istrinya tepat berada di wajahnya.
"Istriku mulai nakal ya?" Malik langsung menggulingkan tubuh istrinya, hingga posisi Aleta sekarang berada di kungkungan suaminya.
"Bilang kalau kamu meningingkannya, jangan menggangguku seperti ini. Kamu sudah membangunkan juniorku," ucap Malik, napas yang mulai tak beraturan karena gejolak sudah membungbung tinggi. Disaat Malik akan mencium istrinya, Aleta menghentikannya dengan jari yang ia tempelkan di bibir suaminya.
"Ini sudah pagi, apa kamu yakin akan melakukannya? Nanti kesiangan loh."
Malik pun melihat jam di ponselnya karena ponsel itu tepat beradi di dekat bantal. "Sial," rutuk Malik. Kalau bukan karena takut kesiangan, Malik sudah kembali melahap istrinya sekarang.
"Kenapa masih diam, ayo bangun! Anakmu mulai meminta jatah," kata Aleta.
Malik merubahkan posisinya, wajahnya ia sejajari dengan perut istrinya.
"Anak Daddy sudah laper ya? Mau makan apa, sayang? Daddy siap menjadi chef." Malik selalu mengajak anaknya berkomunikasi.
"Makan apa saja, Daddy. Yang penting enak." Aleta menjawab dengan suara khas anak-anak. Malik semakin bersemangat.
***
"Daddy masak apa? baunya enak." Aleta melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Malik masih sibuk bergelut di dapur, sedangkan ia sudah terlihat cantik.
Malik pun membalikkan tubuhnya ia menghadap ke arah istrinya. "Tunggu di sana!" ucap Malik seraya menunjuk ke arah meja makan. "Sebentar lagi selesai kok. Aku bikin capcai, sama telor ceplok." Apa pun yang dimasak Malik, Aleta selalu suka. Karena masakannya terbuat dari cinta.
Aleta pun nurut, ia menunggu masakannya sampai selesai. Setelah selesai masak, Malik langsung mandi.
"Kamu sarapan saja duluan. Aku mau mandi dulu." Sebelum Malik pergi, ia mencium bibir istrinya sekilas. Dan setelah itu ia benar-benar pergi.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, Malik selesai mandi. Namun, ia melihat istrinya masih belum makan.
"Kok, belum makan sih?" tanya Malik, Aleta masih setia menunggu suaminya. Dan mereka pun sarapan bersama, tak ada acara suap-suapan seperti biasanya. Bisa kesiangan jika sarapannya seperti itu.
***
Mereka sudah berada di dalam mobil, kini mereka berangkat bersama. Malik yang menyetir.
"Sayang, hari ini aku pasti pulang telat." Mendengar itu, Aleta langsung melihat kearahnya. "Iya, seharusnya kemarin aku lembur. Tapi aku menolak, karena harus menjemputmu. Dan aku janji hari ini," ujar Malik.
"Terus?"
"Mobil kamu yang bawa, sekarang ke tempatku bekerja. Biar kamu tahu aku bekerja di mana."
"Hmm, baiklah," sahut Aleta.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat di mana Malik bekerja.
"Nanti pulang duluan saja, tidak usah menjemputku, ok?" Sebelum turun dari mobil, Malik memeluk istrinya, bahkan ciuman sebagai tanda perpisahan mereka.
Ciuman itu sedikit lama, karena jendela mobil yang terbuka, sehingga ada seseorang yang melihat aksi mereka. Pagi-pagi sudah membuat jiwa orang itu terbakar.
"Sudah ..." Aleta mendorong tubuh suaminya. "Nanti kamu telat lagi," ucap Aleta.
Malik terkekeh. "Berdua denganmu selalu tidak ingat waktu."
Bugh
Lagi-lagi Aleta memukul suaminya.
"Kamunya aja yang mesum," celetuk Aleta.
"Abisnya kamu sudah jadi canduku." Dah kaya novel yang berjudul istriku canduku, Malik selalu ketagihan akan bibir ranum istrinya.
"Jaga hati, jaga mata! Awas kalau macam-macam! Jatahmu hilang malam ini kalau kamu membuatku kecewa!" ancam Aleta.
"Asyiiik ... Berarti nanti malam punya jatah dong." Tentu, Malik tidak akan mengecewakan istrinya. Mau nyari model kek gimana lagi? Istri sudah cantik begini. Hanya pria bodoh yang mengkhianati istri secantik Aleta.
__ADS_1
"Sudah sana turun!" seru Aleta.
"Iya aku turun, jangan galak-galak. Kamu tambah menggemaskan jika seperti ini."
"Sudah sana ..." Aleta sampai geleng-geleng kepala.
Setelah Malik turun, Aleta pun turun, ia pindah ke kursi kemudi.
Malik pergi setelah Aleta benar-benar pergi dari sana. Ia pun menuju ke kantor Jonas. Ketika sedang berjalan, ada yang memanggil dirinya, dan Malik pun menoleh.
"Uncle," ucap Malik.
"Gitu dong, ini baru karyawan teladan. Jangan seperti kemarin," sindir Jonas.
Malik tertawa mendengar sindiran itu. "Lain ceritanya dengan kemarin, Uncle," sahut Malik.
"Apa bedanya hari ini dengan kemarin?" tanya Jonas yang tak mengerti.
"Ah ... Uncle pasti tahu jawabannya apa saja yang dilakukan pengantin baru," celetuk Malik.
Jonas menghentikan langkahnya, mencerna omongan dari Malik. "Pengantin baru." Jonas mengulangi ucapan Malik.
"Abis itu loh, Uncle," kekeh Malik. Pria itu mengungkapkan sesuatu hingga akhirnya Jonas mengerti. Ia berpikir kalau Malik sudah mulai menjejakkan tubuh dengan gadis-gadis.
Mana mungkin pria baruh baya itu berpikir kalau Malik sudah menikah. Gak mungkin Malik menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Tanpa menanyakan secara detail Jonas sudah berkesimpulan sendiri. Anak jaman muda sekarang sudah kenal dunia sexs bebas. Apa lagi mereka menyadari di mana mereka tinggal sekarang.
Karena mereka beda ruangan, Jonas dan Malik terpisah di lif. Karena lif yang mereka gunakan beda jalur, Malik hanya karyawan biasa. Sedangkan Jonas, ia pemilik perusahaan.
Malik tiba di ruangannya, ia langsung bergelut dengan pekerjaan yang mulai menumpuk.
Sedangkan di ruangan lain, Jonas sedang berbincang disambungan telepon.
"Iya, dia ada di sini. Dia bekerja denganku sekarang," kata Jonas pada sambungan itu.
"Kalau bisa, kamu jangan sampai kehilangan jejaknya. Tahan dia jika dia niat berhenti." jawab si penerima telepon itu. Karena Jonas yang mulai mengbunginya. Tak lama sambungan telepon itu pun berakhir.
__ADS_1
bersambung.