Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
72


__ADS_3

Malik buru-buru kembali ke kamar. Setibanya di kamar, ia tak melihat Aleta di sana. Lalu, melihat pintu arah keluar terbuka, ia pun memastikan bahwa Aleta sedang berada di balkon. Ingin menemui istrinya di sana, namun, ia mengurungkan niatnya.


Malik memilih untuk mengganti seprai yang masih ada bercak darahnya. Selesai mengganti seprai dengan yang baru, ia pun menghampiri Aleta. Gadis itu melihat ke arah bawah, dan di bawah tepatnya adalah taman. Aleta memperhatikan sepasang suami istri yang begitu terlihat bahagia. Ya, Aleta melihat Dam dan Alea.


Terlihat jelas bahwa pasangan itu bahagia sekali. namun dengan dirinya? Aleta malah tak menginginkan pernikahan ini. Menikah dengan orang yang tak pernah hadir dalam benaknya sama sekali.


Di taman itu sedang berkumpul, Attar pun begitu bahagia dengan Syiera. Di taman, mereka sedang menikmati acara bakar-bakaran. Seperti bakar jagung, sosis, dan yang lain-lain. Ingin bergabung, tapi ia sedang tidak mood.


Lalu, Malik pun mendekat. Sekarang ia sudah di samping istrinya, Malik sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari Aleta. Gadis itu hanya melihat ke arah taman tanpa ekspresi. Tahu ada Malik, Aleta memilih pergi dari balkon.


Melihat Aleta akan pergi, Malik langsung menahan kepergian Aleta. Pria itu menarik tangan istrinya, dan Aleta pun meghentikan langkahnya. Posisinya, Aleta membelakangi Malik. Malik masih menggenggam tangan istrinya.


Melihat Aleta tak bergerak, Malik langsung bersujud di hadapan istrinya. Ia meminta maaf dengan seribu penyesalan.


Namun sayang, Aleta tak mempedulikan Malik. Aleta memang istrinya, tak seharusnya Malik memperkosanya, bukan? Bahkan Malik tak bertanya pada Aleta, apa gadis itu sudah siap apa belum?


Dan beginilah akhirnya, Aleta malah lebih membenci Malik.


"Tak bisakah kamu memaafkan aku, Aleta," ucap Malik yang masih bersujud.


"Kamu tidak perlu merendahkan diri seperti itu, karena itu tidak akan merubahkan keadaan. Perasaanku tidak ada untukmu." Setelah mengatakan itu, Aleta pun berlalu.


Luka yang ditorehkan Aleta pada Malik, tak membuat Malik membenci istrinya. Malik malah semakin mencintai istrinya, apa lagi setelah penyatun tadi. Malik berharap, Aleta akan segera hamil dan bisa meluluhkan hati Aleta. Karena Malik berharap, adanya buah hati diantara mereka hubungannya akan membaik.


***


"Al, sini gabung," ajak Alea. Alea melihat Aleta yang sedang berjalan menuju ke arah dapur.


"Iya, sini. Pengantin baru jangan ngerem aja di kamar," timpal Syiera.


Tadinya Aleta malas untuk berkumpul di sana, tapi ia tak bisa menolak ajakan Alea. Ia harus terlihat bahagia di depan Alea, apa lagi di depan Dam. Aleta tak ingin mereka tahu isi hatinya sekarang.


Aleta pun berjalan ke arah taman, di sana ada Dam, Khai, dan kakaknya. Aleta bersikap seolah tidak terjadi apa pun dengan Malik. Aleta juga ingin menunjukkan pada Attar bahwa ia baik-baik saja. Marah juga percuma, semuanya sudah tidak bisa kembali.

__ADS_1


"Sini." Alea menarik tangan Aleta, dan Aleta duduk tepat di samping Dam. Gadis itu tak melihat ke arah Dam sama sekali, ia begitu acuh. Tak ingin menunjukkan bahwa ia masih mencintai pria itu. Tak mudah bagi Aleta melupakan Dam.


Tak lama kemudian, Malik datang. Ia melihat istrinya tengah duduk di samping Dam, Malik tahu betul dalam lubuk hati Aleta masih tersimpan nama Dam. Cintanya begitu rumit.


Dan tiba-tiba, Khai datang memberikan hasil bakarannya pada Aleta. Pria itu sok dekat dengan Aleta, tak ada yang curiga dengan sikap Khai pada Aleta. Terkecuali Malik dan Dam. Kedua pria itu tahu kenapa Khai perhatian pada Aleta.


Tak ingin istrinya didekati oleh si Khai, Malik pun beranjak menghampiri panggangan. Ia langsung membuatkan jagung bakar untuk istrinya. Sebenarnya Aleta juga merasa risih dengan sikap Khai.


Aleta pun beranjak, menghampiri panggangan. Setibanya di sana, Aleta berucap.


"Aku ke sini bukan untuk menemanimu, aku hanya menghidari Khai," ucap Aleta.


Walau pun begitu, tapi itu cukup baik bagi Malik. Setidaknya Aleta bersikap manis di hadapan keluarganya. Mungkin Aleta tidak ingin mengecewakan sang kakak.


Attar ikut senang dengan perubahan Aleta. Adiknya itu mulai menerima Malik sebagai suaminya, pikir Attar.


"Lihat, semuanya baik-baik saja 'kan?" ucap Attar pada Syiera.


"Semoga saja itu bukan rekayasa," jawab Syiera. Karena Syiera bisa merasakan apa yang dirasakan Aleta. Pernikahan Aleta sama persis dengan pernikahannya dengan Attar waktu dulu. Tapi semoga saja pernikahan Aleta seperti pernikahannya, menemukan kebahagiaan setelah menikah.


Syiera pun tersenyum, wanita hamil itu bergelayut manja di tangan suaminya.


"Semoga saja pernikahan Aleta dengan Malik seperti pernikahan kita sekarang," ucap Attar kembali. Rumah tangga mereka begitu harmonis, tidak ada yang menyangka jika pernikahnya dulu banyak lika likunya.


Sementara Khai, pria itu merasa terasingkan. Hanya ia yang tak memiliki pasangan, tatapannya masih memperhatikan Aleta, apa gadis itu menerima perjodohan kakaknya? Pikir Khai. Dilihat, Aleta nampak baik-baik saja dengan suaminya. Semua orang yang ada di sana sudah dikibuli oleh Aleta. Gadis itu pintar menyembunyikan perasaannya, termasuk perasaanya pada Dam.


Aleta juga akan mengubur perasaannya pada Dam, dan itu butuh waktu. Luka yang terjadi pada Aleta karena Dam belum sembuh, dan sekarang, ia kembali terluka dengan pernikahannya dengan Malik.


Aleta ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya, agar masalah yang terpikul tidak terasa dihidupnya.


Semua menikmati acara tersebut. Aleta pun sedikit terhibur melihat keharmonisan kakaknya. Dalam benaknya, apa ia juga akan seperti itu nanti dengan suaminya? Tapi yang ia rasa, ia begitu membenci suaminya. Sangat mustahil bagi Aleta, kalau pernikahannya akan bahagia.


Malam semakin larut, mereka menyudahi acara tersebut. Dam, Alea, juga dengan Khai. Mereka pulang dari rumah Attar.

__ADS_1


Setelah mereka pulang, Aleta dan Malik pun masuk ke dalam.


Disaat akan masuk ke dalam, ia melihat Axel terbangun. Anak kecil itu tengah menangis mencari orang tuanya. Aleta pun dengan cepat menghampiri Axel.


"Keponakan Aunty mau kemana, sayang?" Aleta menggendong Axel. Namun, Axel tak kunjung berhenti dari tangisannya. Melihat Axel masih menangis, Malik pun mengambil alih Axel dari Aleta. Memang Malik yang lebih dekat dengan Axel ketibang Aleta. Axel pun langsung terdiam. Ketika Malik akan mengambil Axel dari pangkuan Aleta, pandangan Aleta dengan Malik bertemu.


Dan Aleta langsung memalingkan wajahnya, ia tak ingin melihat wajah Malik. Tahu akan ekspresi Aleta, Malik pun sadar diri. Bahwa Aleta benar-benar tak menerima kehadirannya.


Axel kembali tertidur di pangkuan Malik.


"Tidurlah, ini sudah malam. Axel juga sudah tidur," ucapnya pada Aleta. Dan Aleta pun langsung pergi dari hadapan Malik.


"Axel terbangun?" tanya Attar ketika ia melihat Axel ada di gendongan Malik.


"Iya, tadi sempat nangis, tapi sudah tidur lagi," jawab Malik.


Attar pun mengambil Axel dan membawanya kembali ke kamar. Sepeninggalnya Attar, Syiera pun datang.


"Kamu belum tidur, Malik?" tanya Syiera.


"Ini juga mau ke kamar, barusan Axel terbangun. Tapi sekarang sudah dibawa ke kamar lagi."


"Terima kasih ya, maaf jadi merepotkan?"


"Gak apa-apa, bukankah kita keluarga?"


Syiera tersenyum mendengar jawaban Malik. Malik pria baik, semoga Aleta bahagia bersanding dengannya, pikir Syiera.


"Ya sudah, istirahatlah," ujar Syiera.


Malik pun mengangguk, lalu menuju kamar istrinya.


Malik memutar hndle pintu, namun ...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2