
Tatapan itu terjadi cukup lama. Aleta tak tahu harus menyikapi pria ini dengan cara apa lagi. Haruskah Aleta mengatakan bahwa ia sangat mencintai Dam. Tapi bibir Aleta tertahan karena walau bagaimana pun, itu hanya akan membuatnya terjerumus pada cinta yang salah.
"Dam, tolong lepaskan," lirih wanita itu.
Bukannya terlepas, Dam malah mempereratkan diri dengan tubuh gadis itu. Seakan tak ingin terlepas, tak ada waktu bagi pria ini untuk melepasnya. Malam ini ingin menjadi malam yang tak terlupakan bagi Dam.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Al. Apa kamu mencintaiku?" tanya Dam untuk yang kedua kalinya.
"Harus berapa kali aku bilang. Aku tak akan pernah ada di hatimu untuk selamanya. Kamu terlalu memaksa diri untuk bisa menempatkan aku di hatimu, Dam. 'Ku mohon jangan seperti ini!" Aleta terus mencoba melepaskan diri dari pelukan Dam.
"Tapi aku mencintaimu juga, Aleta! Maaf kalau aku egois. Tapi aku sudah terlanjur mencintaimu."
"Cintamu hanya sesaat, Dam. Hanya kita terus menghabiskan waku bersama, mungkin jika aku sudah kembali ke Amerika kamu pasti melupakanku. Cintamu pada Alea sangat tulus, bahkan sampai detik ini hubungan kalian baik-baik saja. Jarak tak menjadi penghalang." Aleta terus meyakinkan Dam, bahwa cinta Dam padanya hanya seringnya bersama. Dan Aleta terus mencoba menyadarkan Dam, bahwa cinta sejatinya itu Alea, bukan dirinya.
"Tapi aku yakin bahwa cintaku bukan cinta sesaat, Al. Aku mencoba menepis rasa yang ada dalam hatiku. Semakin aku mencoba melupakanmu semakin aku mencintaimu, Aleta!" Dam mengeluarkan perasaan yang ada dalam hatinya untuk wanita yang terus meyakinkan dirinya kalau cintanya hanya sementara.
Aleta tidak tahu saja apa yang akan dilakukan pria itu nanti, tapi, apa rencananya akan mulus? Karena jodoh itu rahasia Tuhan. Jika Tuhan sudah berkehendak, walau manusia tetap berusaha pun percuma. Tak ada yang bisa mendahului takdir Tuhan.
"Aku ingin, malam ini kamu menjadi miliku, Al. Hanya milikku!" Setelah mengatakan itu, Dam mencium kening Aleta.
__ADS_1
Gadis itu tak bisa menolak perlakuan Dam. Walau Aleta sudah mencoba untuk tidak tarlalu jauh dengan perasaannya, kini gadis itu hanya menerima apa yang dilakukan Dam padanya. Aleta sadar apa yang dilakukannya itu adalah salah. Tapi hati Aleta tidak bisa menyangkal, wanita itu bahagia. Ternyata cintanya tak sendirian. Dam juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Awalnya hanya kening yang dicium Dam. Lama-lama, Dam menuntut yang lain. Mata, hidung, pipi. Semua Dam kecupi, dan terakhir bibir, Dam mendarat kembali di bibir Aleta. Bibir Aleta menjadi candu baginya. Karena wanita ini yang pertama kali mendapatkan ciuman Dam. Begitu pun dengan Aleta.
Ciuman mereka akan berkesan sepanjang sejarah di hidup mereka. Dam memang memiliki kekasih, tapi Dam belum pernah menjajakan bibirnya di bibir Alea. Karena jarak yang memisahkan mereka, tapi cinta Dam juga begitu kuat pada Alea.
Mereka sejak kecil sudah bersama. Cinta Dam bukan cinta biasa pada Alea. Terlalu manis jika harus dilupakan. Kenapa hati Dam jadi bercabang seperti ini? Bolehkah ia memiliki keduanya? Dam benar-benar egois. Karena ulahnya akan ada hati yang terluka.
Ada orang lain yang mencintai Aleta, kenapa Dam tidak melepaskan Aleta? Biarkan orang itu yang membahagian Aleta. Malik, Malik mencintai gadis itu. Apa yang akan dilakukan Malik jika ia tahu ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan? Apa Malik akan diam saja ketika Aleta masuk ke dalam hidup Dam?
Sementara Malik, malam ini ia tak bisa memejamkan matanya. Pria itu terus teringat dengan kejadian tadi, di mana ia melihat gadis yang dicintainya di cumbu oleh si Dam. Hati Malik mulai terkoyak. Pria itu ingin memiliki Aleta, tapi Malik tidak bisa menggapai itu.
Karena tak bisa tertidur, akhirnya Malik kembali ke ruangan lain. Mungkin ia akan membuat minuman, untuk menemaninya begadang malam ini. Apa lagi ia tahu masih ada Dam di sini. Apa yang akan dilakukan pria itu di sini? Pikir Malik.
Malik sudah ada di dapur, pria itu membuat teh panas. Setelah membuat minuman, ia pergi ke depan teras. Menikmati minumannya di sana. Tepat di bawah kamar Aleta. Malik melihat ke arah kamar gadis itu, apa Aleta belum tidur? Pikir Malik.
Karena kamar gadis itu lampunya masih menyala. Malik tidak tahu kalau ada seorang pria di dalam sana. Bagaimana dengan Malik kalau ia tahu ada Dam di sana? Apa Malik akan berpikir jika ada sesuatu yang terjadi di dalam sana? Mungkin pria itu akan kembali terluka.
Melihat mereka ciuman saja sudah membuatnya sesak, apa lagi jika ia tahu ada yang lebih dari itu? Apa Malik akan mengubur perasaannya, karena tak mendapat lampu hijau dari Aleta? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
__ADS_1
Tak lama, Malik melihat lampu itu mati. Mungkin si pemilik kamar akan mulai tidur, pikirnya. Malik menyalakan sebatang rokok, menyesapnya sampai pria itu bisa merasakan hidupnya apa lagi dengan kisah cintanya. Pria itu terlalu lama menjomblo. Sekalinya cinta, cintanya malah bertepuk sebelah tangan.
Di kamar Aleta.
Dam terus mencumbu Aleta, hingga Dam mengajak Aleta sampai di dekat saklar lampu, tanpa melepaskan ciumannya. Dam mematkikan lampu itu.
Dam terus mencium bibir Aleta, sampai bibir Aleta terasa kebas. Malam ini, Aleta harus menjadi Miliknya! Hanya itu yang ada dalam pikiran Dam. Dam terlalu napsu dengan cintanya pada Aleta, tanpa tersadar jika ia melakukannya bukan cinta itu namanya. Itu hanya napsu sesaat.
Dam terlalu takut kehilangan Aleta. Tapi ia juga takut kehilangan Alea. Dam sudah salah langkah. Apa Aleta akan memasrahkan hidupnya pada Dam? Apa ia juga akan memberikan kesuciannya pada pria itu?
Dam mencubu Aleta dengan hasrat yang bergejolak. Ciuman itu menjadi panas, sampai Dam hilang kendali. Pria itu benar menjelajah tubuh Aleta. Aleta semakin terbuai. Apa ia akan menyerahkan kesuciannya sekarang?
Dam mulai membuka kancing baju Aleta, satu persatu. Walau keadaan begitu gelap, tapi Dam bisa tahu akan keindahan tubuh Aleta. Dam meraba punggung gadis itu. Sangat halus di telapak tangannya.
Baju yang sudah terlepas, hingga menyisakan bra di sana. Dam memindahkan bibirnya ke arah leher jenjang Aleta. Menghisap, mengendusnya. Ada rasa sensasi yang berbeda di dalam sana. Ruangan itu mendadak terasa panas.
Hingga Dam menggulingkan tubuhnya bersama Aleta di kasur. Kasur yang sudah terlihat sangat acak-acakan.
Akal sehat Aleta kembali. Wanita itu tersadar, bahwa ini sudah terlalu jauh.
__ADS_1
bersambung.