
Makan siang pun selesai. Tapi bagaimana dengan pasutri itu, masih jauh-jauhan, dan sekarang bingung mereka harus bersikap bagaimana. Syiera enggan berada di tengah-tengah adik kakak itu. Apa lagi, dengan sikap Aleta.
"Kak, sebaiknya Kakak ikut saja dengan kami. Biarkan mereka berdua saja," ajak Dam.
Tapi Syiera ke sini untuk menjemput Aleta, masa iya harus berpisah di tengah jalan. Bagaimana dengan suaminya? Pasti suaminya tidak akan mengijinkannya.
"Kakak coba ngomong dulu sama suami Kakak, ya?" Syiera pun beralih ke meja di mana ada suaminya di sana. Syiera menyentuh pundak Attar. Attar pun menoleh.
"Honey, sudan selesai makannya?" Syiera mengangguk sebagai jawaban, diliriknya ke arah Aleta, tapi Aleta begitu asyik dengan ponsel yang sedang ia mainkan. Tak sedikit pun dirinya menoleh ke arahnya.
Attar meraih tangan istrinya yang saat ini berada di pundaknya. Mereka pun saling melempar pandangan.
"Boleh aku ikut dengan Dam." Syiera begitu berharap agar suaminya mengijinkannya, semoga Attar mengerti perasaannya saat ini. Sebelum Attar menjawab, ia lebih dulu melirik adiknya. Dilihatnya ia nampak tak peduli dengan keberadaan kakak iparnya.
Attar mencoba memahami sang istri, mungkin jika ia berada diposisi Syiera, ia pun akan merasakan hal yang sama. Dengan senyum yang ia lemparkan sebagai jawaban, bahwa ia mengijinkan istrinya untuk ikut dengan adiknya, Dam.
"Makasih, ya?" Syiera langsung mencium pipi sang suami. Bahwa suaminya begitu pengertian padanya. "Kalau begitu, aku ke sana dulu," kata Syiera. "Al, Kakak gak ikut pulang bareng kalian, ya?" Syiera mencoba bertegur sqpa pada adik iparnya itu.
"Hmm," jawab Aleta tanpa melihat ke arahnya. Ia masih fokus pada benda pipih miliknya.
Attar hanya bisa menghela napas panjang. Ia benar-benar malu pada istrinya dengan sikap Aleta, yang menurutnya sudah keterlaluan.
Tak ingin sakit hati lebih dalam, Syiera langsung pergi meninggalkan sang suami. Melihat kepergian Syiera membuat hati Attar semakin tak enak. Bahkan ia tak bisa memarahi Aleta, lebih tepatnya ia menjaga perasaan Aleta. Mungkin yang ia inginkan kebersamaan dengannya.
Akhirnya mereka pun berpisah.
Di dalam mobil
Syiera sedari tadi hanya murung, Dam yang berisik karena bercanda dengan Alea, tak membuat Syiera terganggu. Ia hanyut dalam pemikirannya.
Alea menghentikan aksi Dam yang terus mengajaknya mengobrol. Alea menaikturunkan kedua alisnya pada Dam, sambil menggelengkan kepalanya, seraya menunjukkan ke arah Syiera.
Dam menarik napasnya dalam-dalam, sebelum ia berucp. "Kak ..." Tapi Syiera tak merespon, ia malah melamun dengan tatapannya menatap jalan yang ia lewati dari arah jendela.
"Kak ...!" Untuk kedua kalinya, baru Syiera menoleh.
__ADS_1
"Apa sudah sampai?" ucapnya. Hampir saja Syiera membuka pintu mobil. Saking melamunnya, ia tak mengetahui bahwa mobil yang ia tumpangi masih dalam keadaan melaju.
Untung Alea langsung berteriak ke arahnya.
"Ah ... Maaf," lirih Syiera yang hampir celaka.
"Kakak ngelamunin apa, sih! Jangan bilang ini ada hubungannya dengan cewek itu!" cetus Dam. Dam tidak suka pada gadis itu, sangat tidak sopan. Jauh sekali dengan kakaknya, Attar.
Syiera tak bisa menjawab, karena dugaan Dam memang benar begitu adanya. Tapi ia tak bisa mengatakan apa yang dirasakan olehnya kepada sang adik. Ia tak ingin, adiknya ikut membenci gadis itu. Walau bagaimana pun mereka akan menjadi saudara. karena keterikatannya dengan dirinya, pikirnya.
"Bukan, Dam ... Kakak hanya sedikit pusing, Kakak ingin cepat-cepat sampai," keluhnya. Bukan ingin berbohong, ia memang sedikit pusing semenjak habis makan siang tadi, ia juga sedikit mual. Tapi masih bisa ia tahan.
Dam pun memepercepat laju mobilnya setelah kakaknya ingin segera sampai.
"Hati-hati,:" kata Alea.
"Iya, tenang saja. Kita akan selamat sampai tujuan." Dam meyakinkan Alea, bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka.
Tak lama, mereka pun sampai di mansion keluarga Narayan. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Dania dan Darren.
"Ra ...," sapa Dania. Syiera langsung memeluk tubuh yang selalu menjadi kelah kesahnya jika sedang ada masalah, apa ia akan mengatakan tentang Aleta pada momy-nya?
"Kamu kenapa, sayang? Kok, bisa bareng dengan Dam?" sambungnya lagi.
"Ceritanya panjang, Mom," sahut Dam yang ikut menjawab. Tapi dengan seketika, Dam mengunci mulutnya rapat-rapat, ketika ia mendapatkan sorotan tajam dari kakaknya.
"Kamu apa kabar, Al,?" tanya Darren. Dan itu sedikit mengalihkan perbincangan Syiera dengan sang momy. Sepertinya, Darren tahu apa yang dirasakan oleh putrinya, karena tak biasanya Syiera seperti ini. Syiera telihat murung dan tidak bersemangat hari ini.
"Lebih baik kalian istirahat dulu," ajak Dania kepada putra-putrinya.
Syiera langsung menuju kamar, Dania yang merasa curiga, kini hendak menyusulnya, tapi Darren mencegahnya.
"Biarkan dia istirahat."
"Tapi ..."
__ADS_1
"Udah ... Gak apa-apa." Darren memberikan waktu pada putrinya untuk sendiri dulu, karena Syiera pasti cerita pada Dania. Mungkin bukan sekarang.
Dania pun menuruti apa yang diperintahkan suaminya. Syiera langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia merindukan kamarnya. Ia pun memejamkan kedua matanya, tak ingin memikirkan itu terus menerus.
Di tempat lain.
Attar mencoba memberi pengertian pada adiknya itu. Sedikit menasehati Aleta, bahwa pa yang dilakukan kepada kakak iparnya itu sangat tidak sopan. Bahkan disaat Syiera mengajaknya berinteraksi, Aleta tak melihat ke arahnya sedikit pun. Dan itu membuat Attar tidak suka. Ia tak pernah mengajarkan adiknya seperti itu. Ia juga bingung, Aleta bukan tipe pendendam.
"Al ... Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Attar. Attar hanya menduga itu, takutnya Syiera menjadi pelampiasan adiknya itu.
Aleta langsung melihat ke arah kakaknya. "Tidak! Aku tidak sedang ada masalah. Semuanya baik-baik saja," jawab Aleta penuh keyakinan.
"Kakak hanya tidak ingin kamu melampiaskan kemarahanmu pada istri Kakak. Kakak yakin betul, kamu bukan orang pendendam. Syiera baik, Al. Kami hanya salah paham," jelas Attar. Dan semoga saja Aleta percaya padanya, apa yang dikatakannya memang benar.
"Apa Kakak bahagia sekarang?"
"Tentu! Kakak sangat bahagia sekali. Kakak mencintai istri Kakak sejak kuliah. Dia cinta pertama Kakak," jawab Attar penuh kejujuran, karena memang itu benar adanya.
"Jaga sikapmu pada istri Kakak," sambungnya lagi.
"Apa aku harus percaya?" batin Aleta.
"Kak, aku cape. Aku istirahat dulu, ya?" Aleta langsing saja pergi ke kamarnya.
Setelah kepergian Aleta, bi Ani langsung menyapa majikannya. " Tuam sudah pulang? Non Aletanya mana? Bibi kangen."
"Ke kamar, Bi. Baru saja," jawab Attar.
Bi Ani hanya manggut-manggut. Padahal ia sangat merindukan gadis itu.
"Mau dimasakin apa untuk nanti malam?" tanya bi Ani. Takutnya ingin menyambut kedatangan adik dari majikannya tersebut.
"Seperti biasa aja, Bi. Lagian siapa yang mau makan? Istri saya-nya juga tidak ada, Bi.?
Attar lemas setelah mengatakan itu.
__ADS_1
bersambung