Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
52


__ADS_3

Di rumah sakit.


Pasien yang bernama Attar masih terbaring di atas branker. Pria itu, entah sampai kapan akan di sini. Tak lama dari situ.


Sang adik tengah berkunjung menjenguknya. Aleta menatap wajah kakaknya dengan sendu.


"Kak, sampai kapan Kakak di sini? Sebentar lagi ka Syiera melahirkan, apa Kakak tega membiarkan istri Kakak berjuang sendiri." Aleta selalu mengajak kakaknya bicara.


Setiap kali ada yang menjenguknya, pasti mengajak pria itu berinteraksi. Dokter menyarankan memang seperti itu. Merangsang otaknya agar merespon.


Tanpa sepengetahuan Aleta, Attar menggerakkan jarinya. Apa itu tanda-tandanya bahwa ia akan sadar? Hanya sekali pria itu menggerakkan jari telunjuknya.


Sementara di rumah.


Syiera yang kini baru selesai mandi, wanita itu tersadar ada cairan dari pangkal pahanya. Ia terkejut.


"Cairan apa ini?" ucapnya sambil mengusap lembut pahanya. Dilihatnya cairan bening. Karena memang belum berpengalaman, gadis itu merasa biasa saja. Ditambah lagi tidak ada keluhan apa pun.


Dengan santai, ia memakai bajunya. Selesai memakai baju, ia berjalan dari kamar ke arah dapur.


"Bi, sedang apa?" tanya Syiera setibanya di dapur.


Bi Ani pun menoleh. "Lagi bikin kue, Non. Apa Non mau?" tawar bi Ani. "Ini, Non Aleta minta dibikinin kue," ucapnya lagi.


Syiera mendudukkan diri di kursi meja makan.


"Coba, Bi. Bawa sini, dari baunya enak."


Bi Ani menyodorkan kue hasil buatannya. Syiera pun memakan kue itu, sambil merem melek merasakan rasanya.


"Enak, Bi," pujinya.


"Syukur kalau, Non suka."


Tiba-tiba ... Syiera mengaduh, rasa sakit dibagian lerut mulai terasa. Bi Ani pun langsung menghampiri Syiera ketika ia mendengar bumil itu mengaduh.


"Kenapa?" tanya bi Ani sedikit panik.


"Perutku sakit, Bi. Kayaknya kontraksi palsu lagi deh, Bi." Syiera pun menyikapinya dengan santai, tapi lama-lama rasa sakitnya semakin menjadi.


Syiera manarik napas lalu membuangnya. Melakukannya berulang-ulang. Hingga keringat mulai bermunculan di area kening. Bi Ani pun menjadi panik, ia kira ini bukan kontraksi palsu.

__ADS_1


"Non, kita ke Dokter ya?" Syiera tak menjawab, wanita itu semakin meringis. Bi Ani membantunya untuk berdiri. Bi Ani juga melihat ke arah belakang, nampak sudah basah.


"Non, mau melahirkan ini. Ini bukan kontraksi palsu," jelas bi Ani.


Syiera menjadi panik, ia tak mau melahirkan di sini. Bi Ani terus memanggil Malik dengan sekencan-kencangnya. Malik yang mendengar langsung menghampiri.


"Ada apa, Bi?" Malik melihat majikannya tengah meringis. Lalu pria itu membantu untuk memapahnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang," kata bi Ani pada Malik. Malik pun mengangguk. Pria itu tak membiarkan Syiera berjalan sendiri, ia langsung membopongnya. Bi Ani terus mengekor, setibanya di dekat mobil, bi Ani membukakan pintu belakang.


Setelah mendudukkan sang majikan, Malik pun bergegas duduk di kursi kemudi. Sementara bi Ani, wanita itu duduk di belakang bersama Syiera. Malik langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang.


"Tarik napas, lalu buang." Bi Ani terus menuntun ibu hamil itu. Malik pun menjadi panik ketika mendengar Syiera mengaduh sakit.


"Bi ... Sakit!"


"Malik, cepat sedikit!" seru bi Ani.


Malik pun menambah kecepatannya, tak lama mereka pun sampai di rumah sakit. Malik membawa ke rumah sakit di mana Attar dirawat.


Setibanya di sana, suster langsung datang sambil mendorong branker ke arah pasien. "Tolong, Sus." Malik membaringkan Syiera di atas branker. Suster langsung membawa pasien ke ruangan bersalin.


Sementara di ruangan lain, Aleta dan Dam sedari tadi tak meninggalkan Attar, pria itu ternyata sadar dari komanya. Walau belum sepenuhnya, tapi pria itu sudah merespon. Bahkan sudah mengeluarkan suaranya.


mengabari kakak iparnya itu. Aleta pun keluar lebih dulu, ia akan memberitahukan masalah ini pada Syiera.


Di luar ruangan, Aleta merogok benda pipih miliknya dari dalam tasnya. Belum sempat ia menekan tombol dari ponselnya. Aleta melihat Malik dan bi Ani.


"Ngapain mereka di sini?" batin Aleta.


Karena penasaran, Aleta pun menghampiri mereka.


"Bi?" panggilnya kemudian.


Bi Ani langsung menoleh ketika mendengar suara yang sudah tak asing lagi di pendengarannya.


"Non." Bi Ani mendekat. "Non Syiera," kata bi Ani sedikit gelagapan.


"Kenapa, Kakak?" Aleta pun menjadi panik. Bi Ani kurang jelas, hingga ia menanyakan kembali pada Malik.


"Ada apa, Malik? Cepat jelaskan! Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Nyonya mau melahirkan," jawab Malik cepat.


"Apa? Melahirkan?" Setelah tahu kebenarannya, Aleta kembali ke ruangan kakaknya. Karena Attar sudah siuman, ia akan memberikan kabar ini padanya. Semoga dengan adanya kabar Attar lebih semangat.


"Bagaimana? Apa kamu sudah menghubungi Kak Syiera?" tanya Dam. Pria itu tidak ikut keluar sehingga ia tidak tahu apa yang terjadi. Aleta tak menjawab, wanita itu lebih mendekatkan diri dengan Attar.


"Tolong, Nona. Sedikit menjauh, Dokter sedang memeriksa pasien," kata suster pada Aleta, biar Aleta sedikit menjauh agar tak mengganggu dokter.


Aleta tetap ngeyel, ia malah marapatkan tubuhnya dengan dokter, sehingga dokter menghentikan pemeriksaannya karena Aleta mengganggunya.


"Nona!" Suster mencoba menarik tubuh Aleta. Namun Aleta tak menggubrisnya.


"Kak, cepatlah pulih. Kak Syiera mau melahirkan!" Aleta berharap kakaknya itu membuka matanya lebar-lebar. Tak diduga, Attar langsung membuka matanya. Pria itu mendengar apa yang dikatakan Aleta.


Attar langsung menoleh ke arah Aleta.


"Al ...," panggil Attar dengan suara bergetar.


"Iya, Kak. Aku di sini." Aleta tersenyum lebar mendengar kakaknya bersuara lagi.


"Syi--era," ucapnya terbata.


"Iya, Kak. Kak Syiera mau melahirkan."


Attar tersenyum mendengar itu. Apa ia begitu lama dari koma? Sampai Syiera sudah mau melahirkan. Seingatnya, istrinya itu perutnya masih rata. Attar tak percaya dengan semua ini. Sampai ia meminta untuk bertemu dengan istrinya .


"Al, Kakak mau bertemu dengan istri Kakak." Suaranya begitu pelan sekali, tenaganya masih lemah.


"Tentu, Kak. Aku akan mengajak Kakak untuk bertemu dengan Kak Syiera."


Tapi sayang, dokter tidak mengijinkan. Pasalnya, Attar baru saja siuman. Dokter tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Tapi Attar memaksa, kalau tidak ia akan memecat dokter itu hari ini juga. Akhirnya dokter pun mengalah, saking takutnya di pecat.


Suster membantu mendorong branker yang digunakan Attar, dan membawanya ke ruangan bersalin. Disaat melintas di depan Malik da bi Ani. Mereka berdua nampak tak percaya apa yang dilihatnya sekarang.


"Tuan ... Ini benar, Tuan?" tanya bi Ani tak percaya. Attar pun tersenyum ke arahnya, setelah itu, Attar langsung masuk ke ruangan bersalin. Menemui istrinya di sana.


Attar tak akan membiarkan istrinya berjuang sendirian. Itu hasil buah cintanya bersama sang istri. Attar melihat Syiera yang sedang meringis. Syiera belum mengetahui bahwa suaminya sudah sadar dan sekarang tengah melihat ke arahnya.


"Honey?" panggil Attar.


Syiera mengenali suara itu. Ia pun menoleh ke sumber suara, dan ....

__ADS_1


bersambung


__ADS_2