
"Senyumnya manis," gumam Syiera.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Apa ada iler di wajahnya, sehingga istrinya itu terus menatapnya tak berkedip sekali pun.
Attar yang belum terbiasa dengan pandangan istrinya itu menjadi salting. Tak ada pengalaman sama sekali, pacaran pun ia tak pernah. Karena selama ini ia hanya mencintai satu wanita yang kini sudah sah menjadi miliknya.
Syiera yang sudah pengalaman tentang cinta, ia melihat suaminya dengan tatapan aneh. 'Kenapa dia jadi gerogi?' Syiera malah tambah memajukan wajahnya ke wajah suaminya. Tiba-tiba ....
Cup
Satu kecupan mendarat dengan sempurna di bibir Attar. Attar membulatkan matanya tak percaya, bahkan itu ciuman pertamanya. Ah ... Sepertinya jantungnya mau copot, dag dig dug tak karuan.
"Apa dia seperti ini jika dengan Alex?" tanya Attar pada diri sendiri dalam hati.
Sepertinya istrinya itu cukup agresip, membuat Attar menjadi tak karuan begini. Apa lagi senjatanya tiba-tiba menegang. Membuatnya jadi tambah salah tingkah.
"Rilex, dong. Kaya gak pernah pacaran saja!" cetus Syiera yang melihat suaminya hanya diam saja. Syiera kembali beraksi, ia mengusap lembut pipi suaminya. Attar langsung saja menangkap tangan itu, lalu mengecupnya.
"Aku memang tak pernah pacaran, Syiera. Karena aku hanya menyukaimu sejak kuliah dulu!"
Attar mencoba membalas ciuman yang diberikan istrinya tadi, perlahan ia memiringkan wajahnya, dekat, semakin dekat. Karena gemas, Syiera malah menyambar bibir itu duluan.
Membuat Attar terjerembab dalam penyatuan kedua bibir itu. Permainan Syiera sepertinya sudah lihai. Hingga Attar terbuai dibuatnya. Mereka melepaskan ciuman itu kala oksigen mereka mulai kehabisan.
Sedikit ngos-ngosan dan tak beraturan. Sepertinya, Attar mulai ketagihan. Disaat ia akan menyatukan kembali bibirnya, tiba-tiba ponsel miliknya bergetar dan bersuara. Membuatnya gagal merengkuh bibir istrinya.
"Ah ... Sial" Attar meraih ponselnya, dan menjawab panggilan itu.
"Iya, saya akan bersiap-siap sekarang." Panggilan itu pun berakhir.
Sepertinya, mereka salah waktu. Kenapa mulai dekat disaat mereka akan berpisah?
"Syiera, aku harus segera berangkat," kata Attar sembari menatap wajah cantik istrinya. Dalam hati, sebenarnya ia juga tak ingin berpisah.
Dengan kecewa, Syiera mengiyakan kepergian suaminya itu.
"Aku mandi dulu." Attar beranjak dari tempat tidur. Syiera mengerucutkan bibirnya. Baru saja akan memperkenalkan diri pada suaminya itu.
Tapi, apa boleh buat. Pekerjaan suaminya juga penting, sebagai pimpinan dan pemilik rumah sakit, ia harus propesional.
__ADS_1
Sedari tadi, Syiera menunggu suaminya itu keluar dari kamar mandi, namun tak kunjung datang.
"Lama sekali, mandi apa tidur?"
Sementara Attar, ia masih tak percaya dengan kejadian yang ia alami barusan. Dari pantulan kaca, ia menatap dirinya sendiri. Menyentuh bibirnya yang sempat dicium oleh istrinya tadi.
Senyum itu langsung tersimpul di bibirnya, ciuman pertamanya bersama orang yang sangat dicintainya.
"Syiera? Apa kamu benar, akan menambatkan hatimu padaku? Lalu, bagaimana dengan Alex! Tidak mungkin kamu memiliki keduanya 'kan?" Attar yang terus berdiri di depan cermin, akhirnya mengalihkan pandangannya ke pintu.
"Attar? Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Syiera dari kamar.
Sepertinya ia terlalu lama di kamar mandi, sampai istrinya menggedor pintu.
"Iya, aku baik-baik saja," jawabnya setelah membuka pintu.
Syiera melihat tubuh suaminya dengan takjub, pemandangan yang tak pernah ia alami sebelumnya. Dada bidang itu terpangpang jelas di hadapannya. Ia menyentuh roti sobek itu secara perlahan.
Lihat, jemari itu dengan lihai menjamah tubuh suaminya, membuat Attar berpikir, mungkin Syiera sudah terbiasa dengan Alex, kekasihnya. Merasa tak kuat, Attar menghentikan aksi istrinya itu.
Bisa gawat jika dibiarkan! Mungkin jika tidak sedang dikejar waktu, ia pasti meladeni aksi istrinya itu.
"Maaf Syiera, sepertinya ini bukan waktu yang tepat," tolak Attar secara halus. Pikir Attar, Syiera sudah terbiasa dengan ini. Tapi sayang, Attar terlalu mempercayai pemikirannya itu. Tanpa sepengetahuannya, Syiera hanya mengagumi dada bidang itu, bahkan itu pertama kali ia menyentuhnya.
Attar melewati tubuh istrinya, ia benar-benar sedang dikejar waktu. Penerbangan akan dilakukan jam sembilan pagi. Tim dari rumah sakit, semunya sudah berada di Bandara. Hanya tinggal menunggu sang pimpinan.
Dekat dengan istrinya, ia jadi tak propesional.
"Aku berangkat dulu, ya? Aku sudah menghubungi Bi Ani. Kamu tidak sendirian di rumah," kata Attar.
Syiera hanya mengangguk, dan mengantarkan suaminya sampai depan. Setibanya di depan pintu, Attar menghentikan langkahnya. Dan Syiera pun ikut berhenti.
Attar mencium kening istrinya setelah mereka saling berhadapan, ia memeluk tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Aku akan segera kembali," bisiknya di telinga Syiera. Setelah mengatakan itu, Attar pun melepaskan pelukkannya.
"Cepat pulang, aku di sini menunggumu," kata Syiera.
Attar pun mengangguk. "Pasti! Urusan selesai, aku akan segera pulang." Dan mereka pun berpelukan kembali, seakan tak mau lepas, Syiera memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"I love you," bisik Syiera.
"I love you tu," balas Attar.
Attar mencium wajah istrinya disetiap inci, membuat Syiera kewalahan, setelah itu, Syiera geleng-geleng kepala dengan kekonyolan suaminya.
Suaminya itu seperti abg yang sedang jatuh cinta, begitu polosnya Attar karena ia memang tak pernah pacaran sama sekali.
"Aku berangkat," kata Attar dari dalam mobil.
Syiera melambaikan tangannya ke arah mobil yang sudah melaju. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah, ia pun akan berangkat ke kantor hari ini. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang memanggilnya.
"Syiera ..." panggil seseorang
Dan Syiera pun langsung menoleh ke belakang.
"Momy." Syiera langsung menghampiri ibunya, dan memeluknya begitu erat. Sudah beberapa hari ini, ia tak berjumpa dengannya. Membuat Syiera begitu merindukannya.
"Momy apa kabar? Syiera kangen," ucapnya sambil menggelayut manja di tangan ibunya, seperti anak kecil.
"Momy baik. Momy sengaja datang ke sini, suamimu sudah berangkat?" tanyanya kemudian.
"Sudah, baru saja," jawab Syiera. "Ayo, Mom. Masuk!" ajaknya kemudian.
Dania menatap sekeliling rumah yang di tempati oleh anaknya. Melihatnya dengan takjub, ia kira rumah yang dihuninya dengan sang suami sudah paling mewah. Tapi ternyata, rumah menantunya tak kalah indah dari rumahnya.
"Apa kamu betah tinggal di sini?"
"Batah, kenapa memang?"
"Momy takut kamu tidak betah, secara, Momy tahu perasaanmu pada Attar."
"Aku sudah mulai mencintainya, Mom. Attar baik dan penyabar. Tidak sulit bagiku mencintainya."
"Apa kamu sudah melupakan, Alex?"
"Belum, tapi aku akan melupakannya, demi kebahagian aku dan Attar. Aku gak mau menyia-nyiakan suami sebaik dia," jelas Syiera pada Dania.
"Momy bangga padamu, jadilah istri yang baik. Ingat, penyesalan datang belakangan. Momy tidak mau itu terjadi padamu."
__ADS_1
"Iya, Momy. Aku menyayangimu," kata Syiera sambil memeluk ibunya
Bersambung