Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
83


__ADS_3

Di rumah sakit. Attar yang sedang fokus menemani persalinan istrinya, persalinan kali ini ia akan sesar. Karena bayinya lahir secara prematur, Syiera kepeleset di kamar mandi, dan ia mengalami pendarahan.


Wajah Syiera begitu pucat, menahan rasa sakit yang luar biasa. Sebelum Syiera dibius, ucapannya sudah ngelantur kemana-mana. Attar semakin panik.


"Jangan bicara yang tidam-tidak. Kamu dan anak kita akan selamat! Tidak kasihankah kamu pada Axel jika kamu pergi?" Sebisa mungkin Attar memberi semangat istrinya. Beberapa kali ia membenamkan kecupan di kening istrinya.


Attar setia menemani istrinya, hingga ia menyaksikan mata Syiera mulai terpejam karena obat bius yang disuntikkan ke tubuh istrinya. Beberapa jam kemudian, dokter berhasil menyelamatkan bayi yang berumur tujuh bulan dalam kandungan. Butuh penanganan khusus untuk bayi itu, beratnya saja satu koma tujuh. Dan itu di bawah normal.


Attar bernapas lega melihat bayi mungil yang berjenis kelamin perempuan itu. Hatinya masih deg degan bila belum menyaksikan senyum istrinya, Syiera masih belum sadar akan obat bius tersebut. Butuh beberapa jam istrinya tersadar.


Karena operasi sudah selesai, Attar pun keluar. Di luar ruangan sudah ada keluarga Syiera. Dania langsung bertanya mengenai anaknya.


"Bagaimana? Operasinya lancarkan? Semuanya baik-baik sajakan? Cucu Momy juga selamatkan?" Rentetan pertanyaan Dania melebihi ibu kandung Syiera. Betapa khawatirnya Dania.


Darren mencoba menenangkan istrinya itu.


"Kita berdoa saja, semoga semuanya selamat." Darren mengusap lembut punggung istrinya.


"Jawab!" Dania masih ingin jawaban dari Attar.


"Operasinya lancar, bayinya juga selamat. Hanya Syiera belum sadar karena obat bius. Semoga saja tidak apa-apa," jelas Attar.


Penjelasan dari menantunya itu cukup puas, membuat Dania menjadi tenang.


"Dam, apa kamu sudah memberitahu Aleta akan hal ini?" tanya Attar.


"Sudah, Kak. Dia belum bisa kesini. Tapi kalau ada sesuatu dia menyuhku menghubunginya kembali. Apa perlu aku menghubunginya lagi?"


"Jangan, Aleta sedang hamil. Mungkin kandungannya masih rentan," ujar Attar.


Mendengar Aleta hamil Dam terdiam. Ia yang lebih dulu menikah saja belum diberi kepercayaan oleh sang pencipta, ia takut salah satu diantara mereka ada yang mandul. Dam melirik ke arah Alea, gadis itu menunduk. Terlihat sedih, Alea selalu kepikiran jika mendengar soal kehamilan. Karena Alea sangat menginginkan hadirnya anak di keluarga.


***


Malik sudah bersiap akan pulang, jam lemburnya sudah selesai. Ia melihat ke arah jam, pukul menunjukkan angka delapan malam. Ia buru-buru saja keluar dari kantor, Malik terkejut melihat sebuah mobil yang sudah tak asing lagi baginya. Cepat-cepat ia menghampiri mobil tersebut.

__ADS_1


Malik mengetuk jendela mobil itu, namun tak kunjung terbuka. Mungkin orangnya tertidur di dalam sana, Malik tidak bisa melihat ke dalam karena di dalam mobil itu begitu gelap. Malik terus mengetuknya hingga beberapa kali.


Ia menghentikannya disaat ada orang yang menepuk pundaknya dari belakang. malik langsung menoleh, dan orang itu tersenyum ke arahnya.


"Ngapain di sini? Ini sudah malam, kenapa gak pulang?" Malik begitu khawatir melihat istrinya masih berkeliaran di luar. "Ayo masuk! Udara di sini cukup dingin, tidak baik bagi kesehatanmu." Tinggal beberapa tahun dengan dokter, Malik sedikit tahu akan cuaca seperti apa yang tidak baik bagi ibu hamil, Malik juga selalu memberikan makan makanan bergizi untuk istrinya.


"Lain kali jangan seperti ini, ya?" ucap Malik disaat sudah berada di dalam mobil. "Kenapa gak bilang kalau kamu nungguin aku, kalau aku tahu 'kan kamu bisa masuk ke kantor, menungguku di dalam." Malik sangat cemas. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, ia mungkin tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Iya, aku gak akan begini lagi. Janji!" Aleta mengangkat tangan seranya menyodorkan jari kelingkingnya. Mengerti akan maksud Aleta, Malik langsung menautkan jarinya di jari istrinya.


"Janji, ya?" Aleta mengangguk.


"Ya sudah, kita pulang." Malik menyalakan mesin mobilnya, dan mobil itu langsung melaju.


Sementara di sebrang sana, ada orang yang sedang beecakap dengan ponsel miliknya, entah itu siapa.


"Dia sudah pulang, Bos. Dengan seorang perempuan," ucap orang itu. Didengar dari nadanya orang itu memang sengaja memata-matai Malik.


***


"Cari apa sih?" tanya Aleta.


"Tidak, aku tidak sedang mencari apa pun." Malik bernapas lega. Ia pun masuk menyusul istrinya?


"Sudah makan belum?" tanya Malik pada Aleta.


"Sudah, tadi waktu kamu mengetuk mobil, aku baru selesai makan."


"Ya sudah, aku bikinkan susu kalau begitu." Ketika Aleta hendak ke kamar ia menghentikan langkahnya karena Malik memanggilnya.


"Sayang, kamu gak usah mandi, ini sudah malam. Ganti baju saja," ucap Malik, dan diangguki oleh istrinya.


Selesai membuat susu, Malik menyusul istrinya.


Pas di ambang pintu, Malik disuguhi pemandangan yang membuat mata terbelalak. Tubuh polos istrinya terpang-pang jelas di matanya.

__ADS_1


"Duh ... Mataku ternoda," canda Malik.


Mendengar suara tiba-tiba, Aleta terkejut. Ia langsung meraih selimut untuk menutup tubuhnya.


"Ya ... Mataku sudah tidak ternoda kalau begini caranya."


Aleta yang mendengarnya memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya suaminya itu seperti itu.


Malik meletakan susu buatannya di atas nakas. Disaat Aleta akan meminumnya ...


"Masih panas, sayang. Jangan diminum dulu. Lebih baik minum yang ini!" Malik mendekatkan wajahnya, tanpa aba-aba, ia menyesap bibi mungil istrinya. Mata Aleta terbelalak, suaminya main sosor saja seperti soang. Aleta menjahili suaminya. Ia gigit saja bibir suaminya itu, sampai Malik mengaduh.


"Sakit ini." Malik menyentuh bibirnya sendiri ketika bibir mereka sudah terlepas.


"Suruh siapa main sosor!" Aleta menertawakan suaminya. Lucu, melihat suaminya cemberut. Bukan cemberut mungkin bibirnya menjadi dower akibat gigitannya.


Merasa bibirnya sedikit aneh, Malik langsung bercermin.


"Ah ... Ini harus tanggung jawab!" Malik tidak terima dengan bibirnya yang sedikit membengkak.


"Iya aku yang jawab, kamu yang nanggu tapi ya?" Aleta meledek suaminya. Merasa gemas. Malik langsung saja melepas selimut yang menjadi penutup tubuh istrinya itu.


"Mau ngapain?" Aleta beringsut mundur.


"Kamu sudah janji loh, jangan pura-pura lupa!" Malik menagih janji istrinya pagi tadi.


"Aku bau, aku gak mandi!"


"Jangan alasan!" Malik tak menggubrisnya. Ia melancarkan aksinya, hingga Aleta tak lagi bisa berkutik. Karena Malik menyerang di bagian yang mana membuat Aleta mend*sah, dan tak bisa menolak.


"Punyamu basah." Sudah tau begitu, Malik langsung saja membawanya ke kasur. Ia melanjutkan aksi yang lebih spektakuler di sana.


Aleta sudah dibuat mengerang. Kini tinggal ia yang memulai aksi pelepasan kecebongnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2