Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
84


__ADS_3

Pasutri itu tengah terkapar di atas kasur. Mereka menikmati di setiap malam tanpa cinta. Cinta keduanya tengah mekar seperti bunga mawar, hati-hati dengan bunga mawar. Walau rupanya cantik tapi durinya bisa menyakiti. Begitu pun dengan pasangan yang baru bahagia itu. Mereka tak akan tinggal diam jika ada yang mengusik kebahagiaannya.


Kring kring


Ponsel berbunyi begitu nyaring. Aleta yang terlelap langsung terbangun dengan bunyi yang cukup keras dari ponsel miliknya. Aleta lebih dulu mendudukkan tubuhnya sebelum mengangkat sambungan itu. Setelah merasa nyaman dengan posisinya ia pun meraih benda pipih tersebut.


"Iya, Kak. Ada apa?" Aleta sembari mengucek matanya.


Sedang Malik, ia langsung mendaratkan kepalanya di paha istrinya, sambil mendengarkan percakapan mereka.


"Syiera sudah melahirkan, apa kalian bisa kesini? Istri Kakak belum sadar, Al," kata Attar.


Aleta terdiam sejenak, ia menyentuh perutnya yang mulai membuncit. Ia jadi takut dengan persalinan yang akan dijalaninya kelak.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Malik sambil memainkan rambut istrinya yang sedikit bergelombang.


"Al, kamu masih di situ 'kan?"


"Iya, Kak. Besok aku kesana, nanti aku sama suamiku." Setelah mengatakan itu sambungan pun berakhir. Aleta langsung menjawab pertanyaan yang sudah dilayangkan suaminya tadi.


"Kak Syiera sudah melahirkan dalam keadaan prematur. Aku jadi takut," lirih wanita itu.


"Jangan berpikir macam-macam, ya? Selama ada aku, kalian akan baik-baik saja." ujar Malik seraya mengusap lembut perut istrinya. "Tidurlah, bukankah besok kita akan ke Indonesia."


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Tidak usah dipikirkan, keluarga nomor satu." Tentu Malik begitu santai akan masalah pekerjaannya. Karena besok akan terbang ke Indonesia, sekalian ia akan memperkenalkan istrinya kepada keluarganya.


Aleta pun kembali tertidur. Namun tidak dengan Malik, pria itu turun dari kasur dan langsung menuju balkon sambil membawa ponselnya di tangan.


"Hallo, Uncle? Sepertinya besok saya gak bisa ke kantor," kata Malik pada Jonas. Mungkin lebih tepatnya ia akan berhenti dari kantor Jonas.


"Kenapa? Jangan bilang kamu akan berhenti. Uncle sudah mempercayakan perusahaan Uncle padamu, Malik." Jonas tidak akan melepaskan Malik begitu saja, bila perlu ia akan menikahkan anaknya dengan Malik. Agar Jonas bisa tenang jika perusahaanya ditangani oleh orang yang tepat, dan Jonas yakin Malik bisa.


"Besok aku akan ke Indonesia, saya akan pulang ke rumah orang tua saya. Saya harap, Uncle mengerti." Terdengar napas Jonas yang begitu terasa berat di pendengar Malik.


"Maaf ya, Uncle!"


"Ya sudah tidak apa-apa." Sambungan pun terputus.


Disaat Malik akan masuk kembali ke dalam, ia melihat istrinya yang sedang berdiri, menatap ke arahnya. Seolah meminta penjelasan akan percakapannya barusan.


"Sayang ... Ngapain di situ?" Malik pun mendekati istrinya.


"Kamu bicara dengan siapa? Aku juga dengar, kalau kamu mau pulang ke rumah orang tuamu. Apa kamu masih memiliki keluarga? Kenapa tidak bilang padaku?" Aleta sedikit kecewa pada suaminya, Malik belum terbuka padanya.

__ADS_1


"Sayang ... Dengarkan aku. Aku pernah bilang 'kan, apa pun yang terjadi kamu tetap istriku. Jika nanti kamu tahu siapa aku yang sebenarnya, aku harap kamu gak akan marah."


"Kenapa harus marah? Kecuali kamu mengecewakanku. Jangan bilang kalau kamu itu sebenarnya punya istri!"


"Ish ... Pikiranmu itu terlalu jauh, istriku cuma satu. Yaitu kamu." Malik menempelkan hidungnya dengan hidung istrinya dengan gemas.


"Masalah orang tuamu?"


"Nanti aku jelaskan sambil mengenalkanmu dengan mereka."


"Kenapa tidak jujur pada Kak Attar kalau kamu masih memiliki keluarga?"


"Kapan aku bohong? Aku hanya tak cerita saja mengenai mereka, Kakakmu tidak pernah menanyakan hal itu padaku," jelas Malik.


Apa benar begitu? Ia pun tak pernah bertanya mengenai hal itu pada suaminya. Dan kini, Aleta pun tak memepermasalahkan hal itu lagi.


"Bener ya, kamu akan mengajakku bertemu dengan orang tuamu!" Malik mengangguk.


"Ayo tidur," ajak Malik.


"Terus, tadi kamu menghubungi siapa?"


"Bos di kantor, aku bilang kalau aku akan berhenti."


"Kenapa berhenti?" Aleta takut suaminya jadi pengangguran. Aleta tidak tahu saja suaminya itu tajir melintir, sampai tujuh turunan pun duitnya tidak akan habis.


"Kalau tinggal di Jakarta, itu tandanya ..."


"Kamu juga berhenti kerja," punkas Malik.


"Setelah di Indonesia nanti, kamu tidak boleh lagi bekerja. Cukup aku yang bekerja, kamu urus saja anak kita."


"Ya sudah, aku ikut saja apa katamu."


"Itu baru namanya istri, ayo kita tidur." Malik merangkul istrinya itu. Dan sekarang mereka benar-benar tidur.


Keesokan harinya.


Di kediaman Jonas.


"Feli, apa kamu sudah mengemas barang-barangmu?" tanya Jonas pada putrinya. Feli tak menjawab, ia tak ingin pergi ke Indonesia.


"Ayolah Feli ... Daddy tahu kamu mencintai Malik, iyakan?"


Feli langsung menatap ke arah ayahnya, dari mana ayahnya tahu akan perasaanya pada Malik.

__ADS_1


"Matamu tidak bisa membohongi Daddy, Feli!"


Tapi Feli sudah kecewa, ia tahu kalau Malik sudah memiliki pasangan. Karena ia sudah melihat dengan kepala matanya sendiri. malik mencumbu wanita itu di dalam mobil.


"Tidak, Daddy. Aku tidak mencintai Malik!"


"Benar? Tadinya Daddy akan menjodohkanmu dengan Malik, bahkan Daddy sudah bicara dengan Pappy-nya Malik." Jonas bohong, kapan ia membahas perjodohan dengan keluarga Malik. Setiap menghubunginya, yang dibicarakan mereka hanya bisnis. Lalu, apa maksud Jonas membohongi anaknya? Hanya Jonas yang tahu rencana itu.


"Iya aku ikut ke Indonesia," kata Feli. Setelah itu Feli langsung membereskan baju-bajunya ke dalam koper.


***


"Selesai," kata Malik. Ia baru selesai mengemas bajunya dengan baju istrinya ke dalam koper. "Kamu sudah siap?" Aleta pun mengangguk.


Malik terus memperhatikan istrinya, seperti ada yang beda. Tapi apa? Malik nampak berpikir sambil mengamati tibuh istrinya, dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Kenapa? Apa aku terlihat aneh?" Aleta jadi tidak PD akan penampilannya, perutnya sudah mulai terlihat membuncit. "Aku jelek ya?" duga Aleta.


"No ... Istriku cantik! Apa lagi dengan baju ini." Malik menyentuh baju yang dikenakan istrinya. Bajunya sangat cocok dipakai wanita hamil sepertinya.


"Iya bajunya yang cantik!" cetus Aleta. Dan Malik terkekeh.


"Udah ah, nanti kita terlambat lagi. Ayo berangkat sekarang." Malik menggandeng tangan istrinya.


***


Mereka sudah berada di Bandara Internasional Jakarta. Malik dan Aleta tak melepaskan genggamannya. Kini mereka sedang mencari seseorang yang akan menjeputnya di sana.


"Kalian apa kabar?" tanya seseorang yang tepat berada di belakang Malik dan istrinya. Sontak, membuat mereka langsung menoleh secara bersamaan.


"Dam ...," kata Aleta. Wanita itu tersenyum ke arah Dam


Malik yang melihatnya, ia tak rela dengan senyum yang diberikan istrinya pada Dam.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Malik pada pria yang pernah dicintai istrinya itu. Malik cemburu, iya dia cemburu!


"Ya menjemput kalian?"


Aleta langsung melongo, tak percaya pria itu menjemputnya dengan suaminya.


"Aku disuruh! Kalau tanpa disuruh, mana mungkin aku mau! Kaya gak ada kerjaan aja." Dam seperti iti karena cemburu akan kehamilan Aleta. Ia ingin Alea juga seperti Aleta.


Akhirnya. Dam, Malik, dan Aleta berjalan bersama. Aleta berjalan lebih dulu di depan. Sementara Malik dan Dam berjalan secara bersamaan.


"Gercep banget. Gimana caranya?" bisik Dam di telinga Malik

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2