
Aleta lebih dulu terlelap, aktivitas barusan membuat tenaganya terkuras. Malik menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya, beberapa kali ia membenamkan bibirnya di kening istrinya. Malik benar-benar bahagia.
Doanya terkabul, semoga selamanya seperti ini. Karena kantuk mulai menyerang, ia pun tidur, tidur dalam keadaan memeluk istrinya. Penantiannya tak sia-sia, perjuangan mendapatkan hati Aleta harus mengorbankan jiwa sebagai lelakinya menjadi sedikit ganas. Kalau bukan karena keberaniannya waktu itu, mana mungkin Aleta hamil secepat ini.
Tengah malam, Aleta terjaga dari tidurnya. Hawa dingin menerpa, bagaimana tidak dingin, ia tidur dalam keadaan tidak memakai baju. Niat ingin tidur kembali, tapi ia malah merasa lapar.
Mau tak mau, ia pun membangunkan suaminya. Aleta menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Dan Malik pun merasakan itu, cepat-cepat ia membuka matanya.
"Ada apa?" tanya Malik seraya menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
Aleta tak menjawab, wanita itu malah menggambar secara abstrak di dada suaminya. Dan itu membuat Malik sedikit geli.
"Jangan menggodaku! Apa kamu mau tanggung jawab!"
Aleta malah terlihat kesal, ia lapar! Bukan mengajak tempur. Hormon kehamilannya membuat amarahnya turun naik.
"Ada apa, sayang? Apa kamu menginginkan sesuatu?" Aleta mengangguk, lalu ia beranjak dan mendudukkan tubuhnya sambil meraih selimut.
Tahu istrinya bangun, ia pun ikut bangun. Malik mencari baju yang sempat ia lempar entah kemana. Karena di kamar gelap, jadi ia tak tahu keberadaan bajunya. Lampu pun dinyalakan. Aleta silau akan cahaya dari lampu, ia sempat menyipitkan matanya. Tak lama silau pun hilang.
Dan Malik langsung mengambil bajunya yang tergeletak di lantai, dengan cepat ia memakainya.
"Ambilkan bajuku," pinta Aleta.
Malik mengambil baju baru di lemari milik istrinya. Ia mengambil baju piama yang modelnya tanpa lengan, tali seutas di pundak dengan panjang di atas paha. Pintar sekali ia memilih baju untuk istrinya.
Dengan sigap, Malik langsung memakaikan bajunya. Bahkan tanpa daleman, hingga pucuk gunung kembarnya sangat menonjol dari balik baju. Ah .. Keadaan Aleta benar-benar menggoda iman. Kalau tak ingat istrinya tengah kelaparan, ia sudah pasti melahapnya sekarang juga.
"Cepat! Anaknya kelaperan," celetuk Aleta. Malik malah menatapnya dengan nafsu.
Aleta berdiri di atas kasur, sementara Malik berdiri di lantai. Malik mendekat, dan Aleta bagai anak koala yang bergelayut di tubuh sang induk. Malik memangku istrinya, dengan kaki Aleta melingkar tepat di pinggang suaminya.
Sedikit kesusahan ketika Malik akan membuka pintunya, karena ia menahan beban tubuh istrinya. Peka akan hal itu, Aleta yang membuka pintu. Malik tersenyum ke arah istrinya, begitu pun dengan Aleta.
Bibir mereka kembali bertaut, bahkan sampai di dapur pun masih tak terlepas. Setibanya di dapur, Malik mendudukkan tubuh istrinya di meja dapur.
__ADS_1
"Mau makan apa?" tanya Malik.
"Mie goreng," jawab Aleta dengan tersenyum.
Karena gemas, Malik sedikit mengacak rambut istrinya. Aleta tak suka rambutnya diacak, ia pun mengerucutkan bibirnya merajuk.
"Istriku terlihat cantik jika sedang manyun begitu."
Bukannya senang mendapat pujian, Aleta malah tak ingin dibilang cantik. Menurutnya cantik itu jika sedang tersenyum, bukan lagi manyun seperti dirinya sekarang.
"Cepat! Aku sudah tidak bisa menahan laparnya."
Malik buru-buru menyalakan kompor. Bagai cheff handal ia memainkan spatulanya. Aleta senang melihat atraksi suaminya.
"Masakanmu enak, kenapa tidak membuka usaha kuliner saja?"
Malik melirik ke arah Aleta, seperti minta penjelasan yang lebih.
"Iya jadi cheff, pasti bakal laku," kekeh Aleta.
"Aku jadi cheff cuma buat istriku, tidak untuk orang lain. Karena hanya aku yang akan memanjakan lidahmu." kata Malik seraya mencium bibir istrinya.
Tidak ada kata malas, Malik selalu on ketika Aleta meminta sesuatu. Padahal, ini sudah jam dua dini hari. Tak terasa, mie goreng pun jadi.
"Apa sudah tidak mual?" tanya Malik, soalnya kemarin, Aleta sempat mual mencium aroma goreng-gorengan.
"Sudah ke Dokter kemarin, jadi sudah tidak terlalu mual," jawab Aleta.
Malik meletekan hasil masakannya di atas meja makan, setelah itu, ia kembali memangku istrinya. Masih dengan gaya tadi. Setelah mendudukkan Aleta, Malik menyuapi istrinya makan. Aleta mengambil alih garpu yang ada di tangan Malik, ia pun menyuapi suaminya.
Sesekali mereka bercanda. Di dapur itu terdengar berisik, sudah seperti orang yang sedang sahur saja. Selesai makan, Malik memberinya minum. Pokoknya, Malik benar-benar menjadikan Aleta Ratu.
"Tidur sekarang?" Aleta menggeleng.
"Tidak ngantuk! Nonton tv yuk?"
__ADS_1
Malik pun menurutinya, padahal ia sudah ngantuk berat. Apa lagi, ia harus bangun pagi-pagi. Karena uncle Jonas menyuruhnya datang besok.
Sekarang mereka sudah ada di ruang tv. Tak ada acara yang menghibur Aleta. Gadis itu terus mencari chanel yang tayangannya menarik. Setelah beberapa kali memencet tombol remote, akhirnya ia mendapatkan chanel yang tayangannya cuku bagus.
"Lihat! Acaranya seru," kata Aleta.
Tapi tak ada jawaban dari suaminya, Aleta pun melihat ke arah Malik. Suaminya malah sudan tidur, bahkan sudah terdengar dengkuran halus dari Malik. Aleta mengusap pipi Malik yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Merasa ada yang menyentuhnya, Malik langsung saja menangkap tangan itu. Menciumnya secara bertubi-tubi. Malik tidur dalam posisi duduk. Karena tangan Aleta masih ia pegang, Malik pun menariknya.
Menuntun Aleta duduk di pangkuanya. Malik membuka matanya, ia melihat rona merah di wajah istrinya. Aleta malu-malu tapi mau, membuat Malik semakin terkekeh.
Malik langsung menyambar bibir istrinya. Ah ... Sepertinya, Malik akan kembali menyelam. Menyebrangi laut dan bahkan sampai mendaki gunung.
Keduanya sama-sama sudah diburu dengan hasrat yang bergejolak. Mereka melakukannya di sofa, tempat tak jadi masalah bagi mereka. Yang penting nyaman dan enak, itu sudah cukup bagi Malik.
Pria itu kembali mengerang, bahkan yang sekarang mereka mencapai puncaknya bersamaan. Aleta sudah menjadi candu bagi Malik. Setelah itu, Malik langsung membopong istrinya membawanya ke tempat yang lebih nyaman.
"Tidur, ya? Ini sudah melebihi batas tidur, aku tak ingin kamu sakit." Malik menarik selimut, menyelimuti tubuh istrinya yang sudah terasa dingin. Satu jam mereka bertempur di sofa.
Dan sekarang, mereka benar-benar tidur.
Hari pun berubah menjadi pagi. Matahari mulai menerangi bumi, cahayanya sudah mulai menerobos ke dalam kamar. Sinarnya begitu menyilaukan mata.
Malik yang merasa kena sinar matahari pun langsung mengerejap-ngerjapkan matanya.
"Jam berapa ini?" Malik melihat ke arah jam dinding yang terpasang di kamarnya. "Sial, aku kesiangan." Malik tak menghiraukan istrinya, ia langsung beranjak dan bergegas ke kamar mandi. Ingat bahwa ia sudah punya janji dengan uncle Jonas. Tapi, ia sudah terlambat. Belum apa-apa sudah mengcewakan.
Malik merutuk pada dirinya sendiri. Gara-gara semalam tak bisa mengontrol diri, akhirnya jadi begini. Ketika Malik sudah mandi dan memakai baju, Aleta terbangun. Ia sudah melihat suaminya sudah rapi.
"Mau kemana dia?" Aleta melihat penampilan suaminya tak biasa dari biasanya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, Malik terlihat sangat wow.
Aleta pun mendudukkan tubuhnya bersandar di sandaran ranjang. Dan Malik pun menyadari bahwa istrinya sudah bangun.
"Aku pergi dulu, ada urusan," ucap Malik sambil merapihkan dasinya. "Hari ini aku mulai kerja, kamu ingatkan apa yang aku katakan kemarin?"
__ADS_1
"Katanya serabutan. Kerja serabutan seperti apa dengan pakaian rapih seperti itu?" Aleta malah sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Bersambung.