
Attar, Syiera, Aleta, dan juga Dam, semua sudah kumpul di ruang makan. Mereka sarapan bersama pagi ini.
Aleta sesekali melirik ke arah Dam. Pasutri itu nampak anteng, mereka tidak tahu apa yang terjadi pada insan yang lain di sana. Sepertinya, Aleta terciduk oleh si Dam. Dan itu membuat Aleta benar-benar merasa wajahnya terasa panas. Malu menjalar keseluruh tubuh.
"Honey ... Mereka kenapa?" tanya Attar ketika melihat Aleta dan Dam saling menatap tanpa berkedip satu sama lain.
Syiera mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Mana dia tahu apa yang terjadi diantara mereka.
"Ehem ..." Deheman Attar membuyarkan keduanya. Aleta dan Dam langsung melanjutkan sarapannya.
"Nasi gorengnya enak, Kak," kata Dam menghilangkan kecanggungan yang ada.
Sementara Aleta, gadis itu tersenyum tipis.
"Al, apa kamu benar-benar sudah baikan?" tanya Attar
Aleta menatap ke arah kakaknya, lalu mengangguk.
"Aku baik-baik saja, Kak. Kakak tidak perlu khawatir," terangnya tentang kondisinya.
"Syukurlah kalau begitu. Lain kali, jika memang tidak tahu jangan memaksakan pergi sendiri. Kakak tidak mau ini terulang."
Perkataan itu, tentu membuat Dam merasa bersalah. Mereka pun kembali terdiam, sarapan kali ini benar-benar membuat Syiera bahagia, ia membayangkan kalau dua orang di hadapannya adalah anak mereka. Mungkin begini rasanya jika mereka memiliki anak yang sudah beranjak dewasa.
Heningnya di ruangan itu, tiba-tiba ... Terdengar seseorang memanggil nama Syiera. Dan itu membuat Syiera dan yang menoleh secara bersamaan. Suara itu sudah tidak asing baginya.
Syiera langsung beranjak dari tempatnya, dan menghampiri sumber suara. Syiera menyambut kedatangan sang momy. Tumben sekali ibu paruh baya itu datang ke sini pagi-pagi.
"Momy, Syiera rindu," kata Syiera ketika ia memeluk tubuh ibunya. "Alea ... Kamu ikut juga?" tanyanya kemudian. Lalu Syiera melepaskan pelukannya, dan bergantian memeluk Alea.
"Apa Dam ada di sini?" tanya Dania
"Iya, ada. Dia sedang sarapan," jawab Syiera. "Apa kalian sudah sarapan?" tanya Syiera kepada mereka bedua.
"Aku sudah, Kak," jawab Alea.
"Momy juga sudah."
"Ayo," ajak Syiera menuju ruang tamu. Dan mereka bertiga duduk di sana, tak lama Dam dan Aleta muncul. Dam terkejut mendapati Alea ada di sini.
__ADS_1
"Alea, kamu di sini? Kok, kalian gak bilang mau ke sini?" tanya Dam, ia tak enak pada Alea. Karena barusan ia sambil bercanda dengan Aleta. Ia takut terjadi salah paham. Apa lagi, ia tidak bilang akan menemui Aleta malam tadi pada kekasihnya.
Alea sedikit tersenyum kepada Dam, disaat Dam dan Alea bersi tegang dengan perasaannya masing-masing. Tiba-tiba ... Terdengar dari arah dapur. Syiera langsung bangkit dari duduknya, karena ia tahu suara siapa itu.
"Kamu kenapa?" tanya Syiera ketika mendapati suaminya sedang muntah-muntah di wastapel.
"Perutku mual, sepertinya aku masuk angin."
Syiera baru ingat, sejak semalam ia tak merasa mual atau pusing. Melihat suaminya seperti ini ia jadi merasa kasian.
"Aku yang hamil, kenapa kamu yang muntah-muntah, aneh," kata Syiera bingung.
Attar mencerna kata-kata Syiera, memang ada sebagian orang. Jika istri hamil suami yang menderita akibat itu. Sepertinya ia mengalami akan hal itu sekarang.
"Ra, suamimu kenapa?" tanya Dania, ia menyusul anaknya. Karena penasaran apa yang sudah terjadi pada menantunya itu.
"Attar muntah-muntah, Mom. Kaya aku kemarin," jawab Syiera.
"Apa kamu hamil?" duga Dania.
"Iya, Mom. Maaf Syiera tidak mengabari Momy, rencananya siang ini Syiera memang akan ke rumah Momy. Tapi Momy keburu datang."
"Momy ikut seneng dengan kabar ini. Daddy-mu pasti senang jika dia tahu," terangnya kemudian.
"Sebaiknya kamu istirahat ya? Muntah-muntah seperti itu 'kan cape. Aku ngersainnya kemarin."
Attar pun nurut pada istrinya.
"Mom, aku antar suamiku ke kamar," pamit Syiera pada ibunya. Dania pun mengangguk, memang seharusnya menantunya itu istirahat.
Syiera dan Attar pun tiba di kamar.
"Ambilkan obat yang ada di laci," suruh Attar. Syiera pun mengambilnya. Attar langsung meminum obat itu setelah ada di genggamannya.
"Obat apa itu?"
"Pereda mual, mungkin ini bisa membantu." Setelah itu, Attar pun merebahkan tubuhnya di kasur, ia benar-benar lemas. Seperti orang sakit saja.
Syiera menemani suaminya di kamar. Sementara di ruangan lain.
__ADS_1
Alea masih diam, ia tak ingin menunjukan rasa cemburunya pada Dam. Yang ada nanti malah membuatnya terluka sendiri, belum tentu juga apa yang dirasakannya itu benar. Siapa tahu kedatangan Dam ke sini hanya memang merasa bersalah pada gadis yang bernama Aleta. Alea mencoba percaya pada Dam.
Ketika kecanggungan melanda mereka bertiga, Dania kembali menghampiri mereka. Ikut duduk di ruang tamu.
Kedatangannya ke sini memang ingin bertemu Dam. Pria itu membuatnya cemas, anak laki-lakinya baru pertama kali tidak di rumah. Ia hanya memastikan bahwa dugaannya benar, jika Dam pasti ada di sini.
"Dam ... Kenapa tidak bilang mau tidur di sini?" tanya Dania, ibu itu merasa heran. Apa sejak ada Aleta ia jadi ingin menginap? Dania tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Aleta kemarin.
"Maaf, Mom. Semalam ka Attar menyuruhku nginap di sini," terang Dam.
Alea manatap wajah Dam dengan intens, apa benar dengan ucapannya? Alea merasa ragu akan hal itu. Melihat kedekatan Dam dan Aleta membuatnya semakin curiga.
"Momy ke sini mengantar Alea, dia ingin bertemu dengan mu, Dam." Dania menjelaskan kedatangannya kemari.
"Ada apa, Al? Kenapa ingin bertemu denganku? 'kan bisa menungguku pulang." tanya Dam pada Alea.
"Aku kembali ke London hari ini. Mamy tadi malam menghubungiku, menyuruhku segera kembali pulang. Papy sakit." Tapi hatinya ragu untuk pergi meninggalkan Dam, apa lagi ada gadis cantik di sini. Pasti Dam menemani gadis itu pergi mengajaknya jalan-jalan, pikirnya.
"Kapan kamu berangkat? Aku akan mengantarmu ke Bandara," kata Dam.
"Sebentar lagi, Dam," jawab Alea.
"Iya memang seharusnya kamu yang mengantar, Dam. Dia 'kan kekasihmu!" Dania sengaja dengan ucapannya. Sepertinya ia merasa ada cinta lain di sini, melihat Aleta. Gadis itu seperti ada rasa pada anaknya. Dania Tidak ingin ada orang ketiga dalam hubungan Alea dan Dam.
Jika itu terjadi, maka persahabatannya dengan Lisa menjadi taruhannya. Lisa ibu dari Alea, mereka bersahabat sejak dulu. Dania ingin persahabatan itu menjadi sebuah keluarga.
Dan kini tiba saatnya, Alea pergi ke Bandara bersama Dam. Sedangkan Aleta, gadis itu hanya melihat kepergian Dam bersama kekasihnya.
Dania melihat ke arah Aleta, dugaannya sepertinya benar. Tak bisa dibiarkan jika seperti ini.
Dania pun mulai bercakap pada Aleta.
"Aleta, apa kamu sudah memiliki kekasih?"
Aleta menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu harus jawab apa, ia memang tak memiliki kekasih. Tapi ada rasa yang tumbuh dalam hatinya.
"Aku mau fokus pada kuliah dulu, aku ingin Kak Attar bangga padaku!" jelas Aleta. Ia tidak mungkin mengatakan perasaannya pada Dam, apa lagi yang sedang bicara dengannya adalah orang tuanya Dam.
"Hmm, bagus kalau punya pemikiran seperti itu. Kalau Momy, setelah Dam lulus kuliah, Momy akan menikahkan Dam dengan Alea," terang Dania.
__ADS_1
Deg ...
bersambung