
"Aleta ..." Attar menggedor pintu kamar adiknya. Tapi sayang, si pemilik kamar tak bergeming. Attar kembali memanggil adiknya itu, setelah beberapa kali menggedor pintu, baru Aleta keluar dari kamarnya.
"Ada apa, Kak? Aku sedang mandi," jelas Aleta yang masih menggunakan jubah handuk. Sepertinya Attar sudah salah paham, ia kira Aleta juga tidak sopan padanya.
"Kakak mau jemput istri Kakak. Kamu mau ikut apa tidak?"
Aleta nampak berpikir, jika tidak ikut ia akan merasa bosan di rumah sendiri. Tapi kalau ikut ... Ah membuat Aleta jadi bingung.
"Ya, Kak. Aku ikut, aku gak mau sendiri di sini." Akhirnya ia pun memutuskan untuk ikut, masalah entar, urusan nanti. Pikirnya.
"Ya udah cepat! Pakai bajumu, Kakak tunggu di mobil." Attar pun pergi meninggalkan adiknya.
***
"Ayo! Aku udah siap." Aleta nampak cantik dengan baju yang kini ia kenakan, baju dres bermotif bunga kecil-kecil menyempurnakan penampilannya. Tapi sayang kecantikannya tak memikat hati seorang pria padanya, karena Aleta sedikit jutek.
Di dalam mobil.
"Al ... Kakak minta, kamu jangan jutek-jutek ya, sama Kakak iparmu. Dia pasti sakit hati sama sikapmu." Attar terus menasehati adiknya itu, sampai telinga Aleta pengap mendengarnya.
"Iya ... Iya ... Aku gak marah lagi."
"Kamu belum kenal aja sama Syiera, Syiera baik, Al. Kakak sangat mencintainya."
Mendengar ocehan dari sang kakak, membuat Aleta sedikit membuka hati untuk kehadiran kakak iparnya. Ia juga ingat akan hal yang sama, bagaimana kalau ini ada diposisinya? Takut akan hal itu, ia mencoba lebih dekat dengan Syiera.
Akhirnya mereka pun sampai.
Attar lebih dulu turun, lalu Aleta ikut menyusul.
"Ingat pesan Kakak!"
Aleta mengangguk. Ia juga harus menjaga nama baik kakaknya di keluarga mertuanya bukan? Kalau tidak ... Itu sama saja ia menghancurkan perasaan kakaknya sendiri. Attar menghela napas sebelum memencet bel yang menempel di sebelah pintu.
Tak lama, pintu pun terbuka, ada Lila si janda genit yang membuka pintunya.
"Malam, Tuan," sapa Lila. Lila memperhatikan orang yang di sebalah Attar, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dalam hati ... Siapa gadis yang bersama Tuan mudanya? Tak ingin membiarakan tamu berdiri lebih lama di ambang pintu, Lila pun mempersilahkan mereka masuk.
Di dalam, semua sedang berkumpul. Mereka sudah siap akan malam bersama, Dania langsung tersenyum ketika siapa yang datang. Begitu pun dengan Darren, menantu kesayangannya pasti tidak akan membiarkan Syiera berada lama-lama di sini.
Tapi tidak dengan Dam, pria itu menatap tidak suka pada gadis yang ada di sebalah kakak iparnya. Alea yang melihat Dam menatap Aleta, langsung menyikutnya. Ia takut kalau Dam jatuh hati pada gadis itu. Awal benci bisa jadi cinta, pikir Alea.
__ADS_1
"Biasa aja kali liatnya," cetus Alea.
"Apa, sih ... Aku gak suka dengan wanita itu. Dia tidak sopan!"
Aleta memang jutek. Dia memang tidak mudah dekat dengan orang lain, tetapi gadis itu baik, hanya saja Dam belum mengenalnya.
Attar dan Aleta pun menghampiri, dan ikut bergabung duduk di kursi meja makan. Attar tak melihat istrinya di sana, lalu di mana Syiera?
Apa gadis itu masih murung? Atau jangan-jangan ... Attar benar-benar gelisah dengan keadaan istrinya. Lalu, ia pun memberanikan diri menanyakan keberadaan istrinya ke mertuanya.
"Mom, Syiera mana?"
"Sepertinya masih di kamar, mungkin sebentar lagi juga turun."
"Ayo, ayo ... Dimakan, nanti keburu dingin," kata Darren.
Mereka pun akhirnya makan bersama, keluarga itu menjadi keluarga besar jika sudah berkumpul seperti ini.
"Ayo makan," titah Dania pada Attar. Sepertinya pria itu masih menunggu sang istri, tapi tak kunjung datang.
Attar pun berdiri, hendak menemui istrinya. "Maaf, kalian duluan saja. Saya mau menemui Syiera." Hati Attar tidak tenang jika belum melihat istrinya. Ia pun pergi setelah mendapat anggukkan dari si pemilik rumah.
"Kakak ke atas dulu ya, Al?" pamitnya pada Aleta.
Kepergian Attar, membuat Aleta tidak nyaman. Ia berada di tengah orang asing. Apa lagi dengan pria yang selalu mencuri pandangannya, Aleta cukup merasa diperhatikan oleh pria yang ada di sebrang meja, tepat duduk berhadapan dengannya. Sementara Alea ia anteng-anteng saja karena tidak tahu apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu.
***
Perlahan, Attar membuka pintu kamar yang dulu mereka tempati selagi tinggal di sana. Dilihatnya, nampak sosok yang ia rindukan. Syiera belum tahu kalau suaminya datang untuk menemuinya. Attar mendekatkan diri pada gadis pujaannya itu, Syiera memejamkan matanya. Apa gadis itu tidur? pikir Attar.
Tapi ini masih sore, biasanya Syiera tidur suka malam. Attar menyentuh pucuk rambut istrinya, sampai Syiera terkejut saking kagetnya.
"Honey ... Kamu gak tidur?"
Syiera pun langsung beranjak merubahkan posisinya menjadi duduk, lalu menggeleng memberi jawaban atas pertanyaan suaminya.
"Kok, kamu ke sini? Aleta sendirian dong di rumah." Syiera pikir bahwa Aleta ditinggalkan oleh suaminya, lagian Aleta tidak mungkin ikut ke sini. Karena gadis itu tidak suka padanya.
"Aleta ikut, kok. Dia lagi ikut makan malam sama yang lain," jelasnya. "Kenapa gak ikut bergabung? Kamu pasti belum makan 'kan?"
"Lagi males, gak nafsu makan."
__ADS_1
"Kamu sakit?" Attar menempelkan punggung tangannya pada kening istrinya. "Gak panas, kamu kenapa? Kamu marah padaku?" duga Attar.
Syiera mendesis. "Siapa yang marah? Mana mungkin aku marah pada orang yang tidak berbuat salah padaku?"
"Lalu?"
"Hanya sedang gak berselera makan aja. Kepalaku juga sedikit pusing?"
"Sudah minum obat?" Syiera menggeleng.
"Kenapa belum minum obat? Jangan nunggu parah, aku ambilkan makan dulu ya, setelah itu baru minum obat." Tak menunggu jawaban dari istrinya, Attar langsung pergi mengambilkan makanan untuk istrinya.
Disaat sedang mengambil makan, Aleta bertanya. "Untuk siapa itu, Kak?"
"Syiera," jawabnya tanpa menoleh sedikit pun padanya.
Apa kakak iparnya itu sakit? Pikir Aleta, apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kedatangannya kemari? Tak lama Attar pun kembali dengan membawakan makanan serta obat untuk istrinya.
"Ayo makan?" ucap Attar setibanya di kamar. Pria itu nampak memeperlihatkan kekhawatirannya pada sang istri. Dan itu membuat Syiera semakin mencintainya.
"Makasih ya? Kamu selalu ada disaat aku butuh," ucap Syiera disela-sela sedang makan.
"Aku tidak ingin kamu sakit." Attar mengelus pipi istrinya penuh kasih sayang. Apa pun yang terjadi, istrinya harus bahagia jika sedang di dekatnya.
"Ini minum obatnya." Attar memberikan obat itu setelah Syiera menghabiskan makanannya.
"Kamu sudah makan belum?"
"Belum, tadinya aku mau mengajakmu turun dan ikut makan malam bersama."
"Makan dulu sana, nanti kamu yang sakit. Kalau kamu sakit siapa yang ngurusin?"
"'Kan, ada kamu."
"Gak ... Aku gak mau ngurusin suami yang gak peduli sama kesehatan sendiri! Lalu so-soan menasehatiku," cibirnya dengan candaan.
"Iya nanti aku makan, tapi setelah ini ya?" Attar merampas bibir Syiera. Jika mereka sudah begini, akan membutuhkan waktu yang lama hingga pelepasan sesuatu terjadi diantara mereka.
Entah rindu atau memang doyan, sampai Attar tak cukup sekali menyemburkan bisanya di rahim istrinya. Ia ingin cepat-cepat memiliki momongan.
Lalu bagaimana dengan Aleta yang ditinggalkan oleh kakaknya dengan waktu yang lama?
__ADS_1
bersambung