Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
61


__ADS_3

Hari ini, Dam dan Alea akan menyelenggarakan acara pernikahanya. Gadis itu, kini sudah berdampingan dengan Dam. Pria yang akan menjadi suaminya.


Leo, yang kini menggunakan kursi roda menyaksikan hari kebahagiaan putrinya. Serta keluarga yang lain pun ikut hadir. Mungkin hanya Syiera dan Attar yang tidak ikut, akan tetapi, mereka tahu kalau adiknya akan menikah. Lewat VC dari Khai Syiera bisa menyaksikan itu.


Selesai pengucapan janji suci. Dam, kini mereka sah menjadi suami istri. Alea nampak bahagia sekali, ketika Dam menyematkan cincin di jari Alea. Dam mencium kening Alea setelah memakaikan cincin itu, lalu mengecup bibir ranum Alea. Ini pertama kali, Dam mencium gadis itu. Ada rasa keteringatan Dam pada Aleta. Namun, Dam langsung menggelengkan kepalanya. Alea yang kini berhak atas dirinya, tak sepantasnya ada wanita lain di hatinya Dam.


Selesai sudah acara itu. Mereka kembali ke rumah, Leo dan istrinya sangat bahagia. Begitu pun Darren dan Dania, akhirnya anaknya menikah. Rasa lega di diri Dania sangat terasa, dulu ia sempat berpikir akan hati anaknya, takut kalau Dam menghianati Alea.


Mungkin mereka tidak tahu kalau ternyata, diam-diam, Dam berhubungan dengan Aleta. Walau hanya lewat ponsel, tapi keduanya bahagia. Lalu bagaimana? Sekarang Dam sudah menikah. Akankah Aleta mengikhlaskan Dam. Ini yang di takutkan Aleta, Aleta sudah tahu kalau ini pasti terjadi. Mungkin Aleta hanya akan mengenang, Dam.


***


"Istirahatlah," kata Dania pada pasutri baru itu.


Dam dan Aleta mengangguk, lalu pergi ke kamar. Untuk keluarga yang lain, mereka sedang membicarakan acara resepsi pernikahan.


"Bagaimana kalau resepsinya di adakan di Indonesia saja," usul Darren. Karena ia tak bisa lama-lama meninggalkan kantornya. Karena Syiera pun sedang sibuk mengurus keluarganya.


"Aku ikut saja, terserah kalian. Mungkin kalau resepsi di sana, aku dan Leo tidak bisa hadir," sahut Lisa. "Mungkin Khai yang akan pergi ke sana," sambungnya lagi.


"Iya, Mamy dan Pappy tidak perlu khawatir. Aku akan mendampingi Alea," timpal Khai.


Karena semua sudah setuju, kini mereka pun istirahat. Karena hari sudah mulai sore, Dania dan Lisa tak ikut istirahat. Mereka akan menyiapkan makan malam. Hari ini hari terakhir Darren dan keluarganya di sini. Mereka akan memboyong Alea serta Khai ke Indonesia.


Untuk Leo, ia diantar oleh Darren ke kamar, dan untuk Khai. Pria itu langsung mengemas baju-baju yang akan dibawa ke Indonesia.


***


"Al, mandilah," suruh Dam.


Namun Alea hanya diam sejak tadi, ia gugup berdua'an di kamar. Gadis itu menjadi salah tingkah ketika Dam menyuruhnya mandi.


"Apa dia menyuruhku mandi untuk itu?" Pikir Alea. "Gimana ini?" Alea semakin salah tingkah ketika Dam mendekatinya.

__ADS_1


"Apa kamu mau mandi bareng denganku?" Dam sedikit membuka res seleting baju Alea yang terdapat di belakang punggungnya.


Namun Alea langsung berdiri dari duduknya, ia tengah terduduk di kursi meja rias.


"Aku mandi sekarang," kata Alea. Gadis itu benar-benar dibuat jantungan oleh Dam. Terlalu lama berpisah, membuat Alea menjadi canggung. Namun tidak dengan Dam, karena ia pernah hampir melakukannya dengan Aleta waktu dulu.


Dam hanya menggelengkan kepalanya melihat Alea beringsut seperti ketakutan. Tak lama, Alea pun keluar dari kamar mandi. Wanita itu sudah memakai baju lengkap. Dam mengerutkan kedua alisnya hampir menyatu, melihat istrinya yang sudah memakai baju lengkap. Bahkan bajunya sampai menutupi lekuk tubuhnya.


"Kapan dia membawa baju ke kamar mandi?" Setelah bergelut dengan pemikirannya sendiri, Dam pun akan ke kamar mandi. Pria itu akan membersihkan diri.


"Jangan kemana-mana, tunggu aku sampai selesai mandi," pinta Dam pada Alea.


"I-iya, aku tidak akan ke mana-mana," jawab Alea sedikit terbata.


Sebelum Dam pergi ke kamar mandi, ia mengendus tubuh Alea melalui lehernya. Wanginya membuat sesuatu bangkit dari dirinya. Sementara Alea, gadis itu hanya memejamkan kedua matanya.


"Cepat mandilah," ucap Alea.


"Cepat sekali mandinya?" gumam Alea


Alea pertama kali melihat roti sobek kepemilikan sang suami. Ia benar-benar malu, sampai ia langsung membelaki Dam. Tahu istrinya begitu, Dam langsung menghampiri Alea, memeluknya dari belakang.


"Jangan malu-malu, bukankah kita sudah resmi menjadi suami istri?"


Dam membalikkan tubuh Alea, ia menatapnya. Sekilas kalau di lihat dari dekat, mata Alea mirip dengan matanya Aleta. Dam teringat lagi akan Aleta. Dam selalu berusaha menyingkirkan gadis itu dalam pikirannya.


Mungkin jika ia menyatukan tubuhnya dengan Alea, Aleta akan segera sirna dari hidupnya. Semoga saja begitu, pikir Dam.


Dam menyelipkan rambut Alea ke belakang telinganya. Pria itu memiringkan wajahnya ke wajah Alea. Belum bibirnya menempel di bibir Alea, sudah terdengar ketukan pintu dari arah luar. Alhasil membuat Dam gagal dengan aksinya.


Dam mendengus kesal, baru aja mau mulai sudah ada yang mengganggu.


"Dam, buka pintunya. Ini Momy," teriak Dania dari arah luar.

__ADS_1


Alea langsung tersenyum melihat ekspresi Dam.


"Momy manggil, aku buka dulu ya pintunya?" Alea pun mulai melepaskan diri dari pelukkannya Dam. "Pakai bajumu," kata Alea lagi. Lalu Alea bergegas membuka pintu.


"Makan malam sudah siap," kata Dania setelah Alea membuka pintu. Gadis itu pun mengangguk, ada rona merah di pipinya. Membuat Dania berpikir, apa ia sudah mengganggu mereka.


Dania pun sedikit menolehkan wajahnya melihat ke dalam kamar, dan benar saja, ia melihat Dam tengah bertelanjang dada.


"Nanti lanjutkan, sekarang makan malam dulu. Biar ada tenaga." Dania sedikit meledek menantunya itu.


Sontak, Alea membelalakkan kedua matanya. Kenapa mertuanya berkata seperti itu? Apa dia tahu apa yang dilakukannya dengan Dam barusan? Pikir Alea.


"Cepatlah turun, semua sudah menunggu." Setelah mengatakan itu, baru Dania benar-benar pergi.


Dan Alea pun kembali ke kamar, ia masih melihat Dam belum memakai baju, pantas saja ibu mertuanya tahu. Alea menghela napas panjang.


"Kamu kenapa, Al?" tanya Dam ketika melihat Alea menghela napasnya.


"Momy meledekku, dia melihatmu gak pakai baju," cetus Alea.


"Memangnya kenapa kalau Momy tahu? Malah Momy sudah minta cucu dariku." Dam melepaskan handuk yang ia kenakan. Alea menjerit sambil menutup matanya.


"Hey ... Aku pake celana kok," kata Dam. "Lucu sekali kamu, Al. Polos banget. Aku beruntung memilikimu."


Alea pun membuka matanya, sambil nyengir. "Aku kira_."


"Kira apa?"


"Sudahlah, cepat pakai bajumua. Mereka sudah menunggu kita," kata Alea


Akhirnya, Dam pun memakai bajunya. Ia juga sudah sedikit lapar. Dan kini mereka berjalan berbarengan. Dam menyatukan jemarinya dengan jari Alea, Alea pun tersenyum.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2