Suami Pilihan Daddy

Suami Pilihan Daddy
99


__ADS_3

Felisia tertawa, menertawakan kisah hidupnya. Ternyata orang yang memperkosanya adalah pria beristri. Mana mungkin ia minta tanggung jawab pada pria itu, Feli bukan pelakor. Ia memilih untuk tidak menemui ayah dari calon anaknya itu.


"Biarkan anak ini dirawat oleh ayah kandungnya. Setelah melahirkan nanti, aku akan menikahimu. Kamu maukan?" Khai berusaha membujuk Feli.


"Apa kamu benar mencintaiku? Aku sudah hina, Khai. Kamu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku tidak butuh belas kasihan darimu, apa lagi kamu melakukan itu hanya karena merasa bersalah." Feli sudah tahu siapa ayah yang sedang ia kandung. "Dia adik iparmu, jadi kamu tidak perlu mengorbankan hidupmu demi mempertanggung jawabkan kesalahan saudaramu padaku!"


"Tidak, Feli. Aku memang mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Kamu maukan menjadi istriku, dan memberikan hak asuh anak ini pada ayah kandungnya. Mereka akan menyayangi anakmu, karena mereka begitu menginginkan hadirnya sosok anak di keluarga mereka."


Feli nampak menimbang-nimbang perkataan dari Khai. "Apa kamu benar mencintaiku? Bukan karena iba?"


Khai menggeleng kepalanya dengan keras, tidak ada sedikit pun memiliki pemikiran seperti itu. Khai hanya ingin kedua wanitanya bahagia.


"Kalau kamu setuju, aku akan beritahukan ini pada Dam. Dia pasti mau menerima anak ini." Bibir Feli mulai tersenyum, sudah ada kehidupan baru menantinya. Mungkin kehadiran Khai akan mengobati luka yang selama ini Feli rasakan.


Hingga waktu terus berputar, di mana usia kandungan Feli sudah membesar. Tinggal menghitung hari menunggu kelahiran anak Feli. Dan sampai saat ini Dam tidak mengetahui bahwa ternyata ia akan segera menjadi ayah. Feli menyuruh Khai untuk tidak memberitahukan masalah ini pada Dam.


***


Di tempat lain.


Aleta dan Malik sedang menjaga kedua anaknya yang mulai tumbuh, tingkah anak kembar mereka begitu menggemaskan. Anak mereka yang diberi nama Sagara dan Sadewa itu tengah terduduk, usianya yang sudah menginjak tujuh bulan membuat mereka tak bisa diam. Merangkak kemana-mana membuat Aleta sedikit kerepotan. Aleta tak ingin memakai jasa pengasuh, ia ingin menikmati momen ini bersama kedua anaknya.


Terkadang ada Frita yang membantu Aleta mengasuh Sagara dan Sadewa.


"Duh ... Anak Daddy aktif banget, mau kemana, sayang?" Malik menggendong Saga ketika Saga merangkak lebih jauh, sedangkan Dewa. Ia sedikit pendiam tidak seperti Saga.


"Dewa anteng ya? Kenapa beda sama Saga?" Terkadang Malik merasa bingung sendiri.


"Dewa persis mirip Kakakmu, dia sedikit pendiam tidak terlalu aktif," sahut Frita yang baru saja tiba menghampiri mereka.


"Aleta, apa kamu sudah mandi?" tanya Frita. Saking sibuknya mengurus anak kembarnya, Aleta tak banyak waktu mengurus dirinya sendiri.


Aleta menggeleng.

__ADS_1


"Mandilah, ini sudah sore. Biar Mama yang menjaga Saga dan Dewa."


Mendengar itu, Aleta segera bergegas ke kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Aleta, Malik mengekornya dari belakang.


Ketika Aleta akan masuk ke kamar mandi, Malik mendahuluinya. Sontak membuat Aleta terkejut.


"Kamu ngapain ke sini?"


"Ikut mandilah. Mumpung Saga sama Dewa ada yang jagain, aku mau mandiin kamu." Tanpa mendengar jawaban Aleta, Malik langsung melucuti baju yang dikenakan istrinya.


"Modus ini," kata Aleta. Sedangkan Malik tak menggubrisnya, ia terlalu anteng dengan mainannya. Gunung kembar sudah menjadi candu bagi Malik.


Aleta menepis tangan Malik. "Ini sudah bukan punyamu!" kata Aleta.


"Hanya sedikit bermain, aku sudah kangen, sayang." Malik mecium kedua gunung kembar itu, ia sudah tidak bisa lagi menghisapnya.


Aleta menikamati sentuhan dari suaminya, ia juga sebenarnya sudah rindu dengan momen kebersamaanya suaminya. Mereka sudah jarang seperti ini setelah Saga dan Dewa lahir.


"Cepat sedikit," pinta Aleta, mungkin ia sudah di ujung puncaknya. Tak lama kemudian, Aleta mencengkram bahu suaminya. Sudah dipastikan Aleta lebih dulu keluar. Tak puas dengan gaya itu Malik merubahkan posisi istrinya jadi membelakangi dirinya. Aletae menungging, Malik langsung saja menerjangnya. Hingga tak membutuhkan waktu lama ia mengerang hebat.


Selesai dengan olah raganya, mereka mandi bersama.


***


"Feli, apa kamu sudah merencanakan masa depanmu?" tanya Khai. Khai masih menunggu jawaban dari Feli, jawaban di mana ia akan menerima Khai menjadi suaminya. "Aku mencintai, Feli. Aku menerimamu apa adanya." Hampir setiap hari Khai mengutarakan cintanya pada Feli.


Namun Feli tak kunjung memberi jawaban, gadis it masih menimbang-nimbang. Bukan tak cinta, Feli hanya takut suatu saat nanti Khai menyesel telah menikahinya, karena Khai bukan orang pertama yang menyentuhnya jika nanti menjadi suaminya.


"Aku tak peduli dengan statusmu yang sudah memiliki anak, aku mau kamu menjadi istriku. Setelah menikah nanti kita pergi dari sini, kita tinggal di LN."


Feli nampak berkaca-kaca, ternyata Khai benar-benar ingin mempersuntingnya.


"Aku serius, Feli. Kamu jangan anggap ini lelucon. Aku ingin membahagiakanmu! Apa kamu tidak mencintaiku?"

__ADS_1


Feli terdiam, ia memang belum sempat menjawab pengakuan cinta dari Khai. Hatinya selalu menghangat ketika bersama Khai, pria itu selalu menghiburnya. Sampai saat ini Khai yang selalu menemani Feli bahkan ketika Feli memeriksa kandunganannya.


Kandungannya bertahan karena Khai, mungkin jika Khai tidak pernah ada dalam hidupnya, kandungan Feli sudah tiada.


Tidak mendapat jawaban dari Feli, Khai pun pamit. Tapi sebelum pamit, Khai mengatakan sesuatu pada Feli.


"Maafkan aku, Feli. Kalau selama ini aku mengganggu hidupmu, aku tidak akan memaksamu lagi jika kamu tidak menerimaku." Setelah mengatakan itu, Khai pergi. Ketika Khai sudah ada di ambang pintu, Feli mengaduh.


Khai membalikkan tubuhnya, ia melihat Feli meringis. Dengan cepat Khai menghampirinya kembali.


"Kamu kenapa?" Khai melihat buliran keringat yang mulai muncul di permukaan wajah Feli


"Perutku sakit, Khai."


Khai langsung membawa Feli ke rumah sakit. Di perjalanan, Khai selalu melirik ke arah Feli.


"Tahan ya?" Khai menambah kecepatannya, hingga pada akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Pas di rumah sakit, kebetulan ada Dam di sana. Dam melihat kedatangan Khai, karena Khai berteriak meminta bantuan. Otomatis Dam menghampirinya.


Dam melihat ke arah wanita yang sedang di bopong oleh Khai. Dam ingat betul wajah itu.


"Dia 'kan ..."


"Dam, bantu aku. Cepat!" Dam bergegas mengambil branker, karena kebetulan tak ada suster atau perawat laki-laki di sana.


Dam datang sambil mendorong branker, tubuh Feli langsung di letakkan oleh Khai. Tak lama kemudian, suster datang langsung saja mendorong branker tersebut ke ruangan bersalin. Dam dan Khai akhirnya menyusul.


Dam ingin sekali bertanya mengenai wanita yang akan melahirkan itu, tapi ia tak berani. Khai yang terus mondar mandir, membuat Dam berkesimpulan bahwa Khai memiliki rasa pada wanita itu.


Hingga pada akhirnya, perjuangan Feli membuahkan hasil. Suara tangisan bayi terdengar sampai keluar ruangan. Khai menghentikan langkahnya yang masih mondar mandir. Lalu tatapannya menuju pintu, senyum langsung mengembang di bibir Khai. Semoga setelah melahirkan, Feli mau diajak menikah dengannya.


Dam pun menghangat kala mendengar suara tangisan bayi itu. Ia berpikir, apa itu anaknya?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2