
Setibanya di apartemen Malik langsung masuk dan membersihkan diri. Selesai itu, ia menyiapkan makan malam. Bingung mau masak apa? Karena tadi saja, Aleta tidak suka dengan masakannya. Ia pun berinisiatif membuat membuat sandwich.
Tidak apalah makanan ini, yang penting tidam digoreng. Itu pikirnya.
Malik masuk ke kamar istrinya, ia melihat posisi Aleta masih seperti tadi. Hanya rebahan saja di kasur.
"Kamu benar tidak apa-apa?" tanya Malik.
Mendengar suara Malik, Aleta langsung bangun.
"Aku laper, apa kamu beli sesuatu yang bisa di makan?"
Hari ini, sikap Aleta tidak bisa dari biasanya. Biasanya ia cuek pada suaminya, bahkan sering tidak menjawab jika Malik bertanya. Namun kali ini, dengan sikap Aleta seperti ini membuat Malik sumringah.
"Aku buat sandwich, apa kamu mau?" tawar Malik.
"Sandwich?" Biasanya sandwich untuk sarapan. Ini ia jadikan makan malam.
"Aku bingung mau masak apa. Takut kamu mual seperti tadi," jelas Malik. "Sebentar, aku ambilkan." Malik kembali ke dapur, dan mengambil sandwich nya.
"Makanlah." ucap Malik seraya memberikan makanan itu.
Aleta nampak terdiam. "Aku pengenya disuapin." Entah kenapa Aleta juga bingung, ia mendadak ingin perhatian dari Malik. Dan tanpa diminta pun Malik menyuapinya.
Aleta menikmati makanan itu.
"Mau nambah?" Malik melihat istrinya begitu lahap, dua sandwich langsung ludes dalam sekejap. Aleta menggeleng, namun ia meminta yang lain.
"Aku mau susu."
Malik semangat, baru kali ini Aleta meminta suaminya melayaninya.
"Tunggu sebentar."
Malik jadi bolak balik ke dapur. Sedikit bingung memang dengan sikap Aleta hari ini. Tapi apa penyebabnya? Apa istrinya sudah mulai menerima Malik?
Malik memberikan susu hasil buatannya. Dan Aleta langsung meneguknya hingga tandas, dirasa sudah kenyang, Aleta kembali rebahan. Malik tambah bingung, ada apa dengan istrinya? Ini bukan Aleta! Wanita itu biasanya di jam segini sibuk dengan laptopnya. Hidup Aleta seperti Attar, waktu adalah uang.
Malik duduk di samping Aleta, ia mencoba mengetesnya kembali. Biasanya juga Aleta marah jika Malik duduk di sampingnya. Ini benar-benar mustahil bagi Malik.
"Kenapa aku tidak bisa marah padanya. Apa yang terjadi padaku? Aku malah senang dia ada di sini." Aleta pun bingung sendiri.
Tak lama kemudian, Aleta kembali mual. Ia buru-buru memuntahkan semua isi dalam perutnya. Malik selalu setia mendampingi Aleta. Tidak ada rasa jijik sama sekali, padahal muntahan itu cukup bau. Malik malah memijat kembali tengkuk Aleta.
"Sepertinya kita harus ke Dokter, Al. Aku tidak mau kamu sakit, sudah dua kali loh kamu begini."
__ADS_1
"Aku gak mau ke Dokter!" ucap Aleta sambil membersihkan mulutnya. Dan setelah itu ia kembali lagi dan duduk di sofa. "Aku kenapa ya? Apa jangan-jangan ..." Aleta mengambil ponselnya, ia melihat kalender. "Harusnya aku sudah dapet bulan ini. Kenapa ini belum." Aleta panik, ia tidak mau hamil. Aleta menggelengkan kepalanya. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi."
"Kamu kenapa? Kita ke Dokter sekarang! Lihat, wajahmu pucat sekali."
Tetap, Aleta tidak mau dibawa ke dokter. Apa lagi ia mulai curiga akan kondisinya sekarang. "Malik tidak boleh tahu aku hamil."
"Aku mau tidur saja." Tapi dalam hati, ia tidak ingin jauh dari suaminya.
"Ya sudah, aku keluar." Karena mereka memang tidur terpisah. Malik tidak pernah menyentuh Aleta pasca kejadian dulu, di mana ia memperkosa istrinya sendiri.
Ingin menahan Malik keluar dari kamar, tapi Aleta gengsi. Namun tiba-tiba ... Ia malah menangis.
"Hey, kamu kenapa?" Malik menangkup kedua pipi Aleta. Dan Aleta memalingkan wajahnya.
"Tidurlah, aku akan menemanimu di sini."
Aleta pun beralih ke kasur, ia merebahkan tubuhnya di sana. Sesekali, Aleta melirik ke arah Malik takut Malik pergi. Beberapa menit kemudian, Aleta pun tertidur.
Sedangkan Malik, pria itu tidur di sofa.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi Aleta sudah bangun, ia pergi tanpa sepengetahuan Malik.
Tak lama kemudian, Malik pun terbangun. Yang pertama Malik lihat ke arah di mana istrinya tertidur. Namun, ia tak melihat Aleta di sana.
Ingat akan aktivitasnya sekarang, Malik pun langsung beranjak. Ia akan mencari pekerjaan. Semoga, hari ini hari keberuntungannya.
***
"Selamat, Nyonya. Anda hamil, usia kandungannya Anda baru menginjak dua minggu," kata Dokter.
Ya, Aleta pergi ke Dokter, ia begitu penasaran. Dan hasilnya sangat mengejutkan bagi Aleta.
"Coba di cek lagi, Dok. Siapa tahu Dokter salah."
Dan dokter pun menggeleng. Mana mungkin hasil USG bisa salah. "Apa Anda belum menikah?" duga Dokter, melihat mimik Aleta dokter menyimpulkan bahwa ibu hamil itu tidak siap akan kandungannya.
"Sudah, Dok. Hanya saja saya tidak percaya, soalnya pernikahan kami baru beberapa minggu," jelas Aleta.
"Itu hal yang wajar, mungkin Anda sedang masa subur," kata dokter.
Sudah tahu akan kondisinya yang tengah hamil, Aleta pun pamit. Aleta terus berpikir, Aleta tidak akan memberitahukan dulu pada Malik. Bisa-bisa, Malik akan membatasi kesehariannya.
Namun sayang, Malik lebih dulu melihat Aleta. Gadis itu baru keluar dari klinik spesialis kandungan, dan Malik tak percaya. Apa yang sedang dilakukan wanita itu? Pikir Malik.
__ADS_1
Disaat Malik akan menemuinya, Aleta langsung masuk ke dalam mobilnya. Dan Malik tidak bisa mengejar, karena ia berada di sebrang jalan. Masalah Aleta, bisa ia tanyakan nanti di rumah. Sekarang ia aka fokus mencari pekerjaan.
Malik terus menelusuri jalan, tiba-tiba saja, ada mobil yang berhenti tepat di arahnya. Malik pun melihat ke arah mobil tersebut.
"Malik?" panggil seorang perempuan.
"Feli."
Felisia pun turun dari mobilnya.
"Bukankah, katamu kemarin hari terakhirmu di sini?"
"Aku gak jadi pergi. Orang tuaku masih ada urusan di sini, Kamu sedang apa di sini?"
"Aku sedang mencari pekerjaan. Cari kerjaan di sini susah. Aku berasal dari Indonesia dan aku bingung harus nyari kerja kemana."
Tentu mereka berbicang dengan bahasa Inggris.
"Aku kira kamu asli orang sini, soalnya wajahmu ke bule-bulean," Felisia terkekeh.
Dibilang mirip orang bule, Malik hanya cengengesan.
"Aku bisa membantumu kalau kamu mau."
"Apa itu tidak merepotkanmu?" Malik sangat senang ketika Feli mau membantunya.
"Tidak! Malah aku senang bisa membantumu. Aku juga bosan di sini, gak punya temen."
"Masa, wanita secantikmu tidak memiliki teman. Kalau kekasih mungkin punya 'kan?" Malik memang mudah bergaul. Melihat Malik sudah bisa diajak bercanda, Felisia serasa sudah kenal lama dengan Malik.
Feli menggelengkan kepalanya, pacar dari mana? Orang tua Feli sangat pemilih. Ada pria yang dekat dengannya langsung diintrogasi, dan itu membuat Feli jomblo sampai sekarang.
"Kamu ikut denganku, aku kenalkan dengan Daddy, siapa tahu dia bisa membantumu."
Belum Malik menjawab, Feli langsung menarik tangan Malik dan menyeretnya masuk ke dalam mobil. Karena ini menyangkut pekerjaan, Malik ikut saja. Mungkin ini hari keberuntungan Malik.
Jiuuusss
Mobil keluaran terbaru itu langsung melaju dengan kencang. Feli mengajak Malik ke rumahnya. Rumah Feli cukup besar. Ketika mereka sudah tiba, Feli langsung turun dari mobilnya, dan mengajak Malik masuk ke dalam.
Malik melihat rumah besar itu. Malik biasa saja, karena dulu rumah seperti ini sudah biasa baginya. Disaat sudah masuk, sesorang datang menghampiri mereka.
"Daddy ..." Feli bergelayut manja di tangan sang ayah.
Dan Malik terdiam ketika orang itu sudah menatap ke arahnya.
__ADS_1
Bersambung.