
Aleta ternyata sudah menemukan Axel. Axel ternyata benar sedang tidur, akhirnya Aleta pun hanya menunggu Axel terbangun.
"Al, ayo ke bawah, Kakak kenalkan sama saudara-saudara Kakak," ajak Syiera.
"Aku di sini saja, Kak. Malu," tolak Aleta.
"Ish ... Kenapa mesti malu, ke sini sama siapa?"
Ya, ampun Aleta sampai lupa kalau ia ke sini dengan Malik. Mungkin pria itu masih diam di tempat. Dan akhirnya, Aleta pun ikut ke bawah.
"Ya sudah, kita ke bawah," ucap Aleta.
Syiera dan Aleta berjalan berbarengan. Dan kini mereka sudah berada di bawah, berkumpul dengan yang lain. Ketika Syiera memperkenalkan Aleta pada keluarga, tiba-tiba Khai datang. Pria itu menerobos menghampiri kerumunan saudara-saudaranya Dam.
"Kak, kenalkan aku padanya," bisik Khai pada Syiera.
Syiera menggelengkan kepalanya, semangat sekali si Khai ingin kenalan dengan Aleta.
"Aleta?" panggil Syiera.
Aleta pun datang menghampiri kakaknya.
"Iya, Kak. Ada apa?" tanya Aleta. Lalu Aleta pun melihat ke arah samping Syiera. "Itu 'kan pria tadi," batin Aleta.
"Kenalin, ini Khai. Kembarannya Alea," ujar Syiera memperkenalkan Khai pada adik iparnya.
Aleta pun mengulurkan tangannya, tentu dengan cepat Khai meraih tangan Aleta. Lama sekali mereka berjabat tangan, sampai-sampai ada seseorang yang mulai cemburu melihatnya.
"Sial," umpat orang yang melihat adegan itu. Ya, orang itu adalah Malik. Dalam hati, Malik tidak suka akan kedekatan Aleta dengan orang baru. Tapi, ia bisa berbuat apa? Ingat sebagai statusnya saja, Malik sudah mundur alon-alon.
Aleta menarik paksa tangannya dari Khai, Aleta tidak nyaman dengan orang itu. Apa lagi dengan tatapannya.
Selesai berkenalan, Aleta sedikit menjauh dari Khai. Lalu ia melihat sekeliling ruangan, siapa tahu ia melihat Malik. Dan benar saja, Aleta melihat Malik ada di pojokan, ia pun menghampiri Malik.
"Kak, aku ke sana dulu ya? Kasihan Malik." Setelah pamit Aleta langsung pergi, bahkan tidak mempedulikan Khai yang masih bersamanya.
"Malik," panggil Aleta.
Malik pun menoleh, "Ya, Al," jawab Malik.
Malik melihat ke arah Khai, pria itu terus melihat ke arahnya dengan tatapan beda. Seperti tidak suka kalau Aleta lebih memilih menemuinya.
"Aku tidak suka dengan lelaki itu," kata Aleta sambil melihat ke arah Khai. Tapi si Khai malah tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Aleta langsung bergidik ngeri.
"Kenapa tidak suka? Bukankah dia cukup tampan." Malik sedikit menggoda Aleta.
"Ish ..." Aleta mendesis seraya memukul lengan Malik. Mereka sedikit bercanda. Malik melihat Aleta tertawa lepas.
"Cantiknya," batin Malik. Pria itu terus memperhatikan Aleta. Sampai Aleta menghentikan tawanya karena tahu bahwa Malik terus melihat ke arahnya.
Mereka menjadi kikuk.
Di tempat lain.
Dam pun melihat Aleta begitu dekat dengan Malik. Ia senang Aleta tak terpuruk, namun tiba-tiba ada yang menyentuh punggung Dam dari arah belakang.
"Ngeliatin siapa?" tanya Alea.
Dam meraih tangan istrinya, dan menariknya ke dalan dekapannya.
"Bukan siapa-siapa," elak Dam. Tidak mungkin bukan, kalau ia bilang tengah melihat ke arah Aleta. Bisa-bisa jadi boomerang sendiri baginya.
Karena hari sudah siang, semua keluarga berkumpul di ruang makan, termasuk Malik. Malik diajak oleh Aleta.
Ketika sudah di meja makan, Khai duduk di samping Aleta. Dan itu benar-benar menyebalkan. Khai begitu agresif pada Aleta, Aleta menjadi takut.
"Duduk di sini, biar aku duduk di tempatmu," ucap Malik.
Bagai dewa penyelamat, Aleta bernapas lega. Dan kini selesai makan, Aleta buru-buru beranjak. Ia mengajak Axel bermain.
Khai pun mengikuti Aleta kemana pun Aleta pergi.
"Kenapa terus mengikutiku," cetus Aleta pada Khai.
"Aku hanya ingin kenal denganmu," jawab Khai.
"Iya, kita sudah kenalan tadi. Apa itu tidak cukup bagimu?" Aleta sudah jengkel, tidak tahu harus bagaimana dengan Khai.
Dan dari situ, Aleta kembali menghindar. Ketika Khai kembali mengikuti Aleta, Malik datang menghadang.
"Jangan ganggu dia! Dia tidak suka diikuti olehmu!" kata Malik penuh penekanan.
"Siapa kamu? Kamu bukan pacarnya 'kan?" Khai tidak terima dengan ucapan Malik.
Tidak ingin membuat kericuhan di sini. Malik tidak meladeni sikap Khai. Sepertinya Khai tidak waras, pikir Malik.
__ADS_1
Malik pun meninggalkan Khai begitu saja, ia menghampiri Aleta yang sedang bersama Axel. Axel cukup dekat dengan Malik, karena Malik sering mengajak Axel bermain ketika Syiera sedang sibuk di rumah.
"Acel, Acel ...," celoteh Axel yang memanggil-manggil Malik dengan menyebut uncle. Malik gemas akan Axel, lalu ia mengambil Axel dari gendongan Aleta.
Sehingga Aleta dan Malik lebih dekat.
Tak lama dari situ, Attar menemui Aleta dan Malik, ia baru saja tiba di rumah mertuanya. Attar melihat ada cinta di Malik pada Aleta. Attar berpikir akan menjodohkan Malik dengan adik iparnya, tapi dengan cara apa? Attar bingung, karena sejujurnya Attar mengetahui akan hubungan Aleta dengan Dam.
Hanya saja, Attar diam. Pria itu takut kalau suatu saat nanti Aleta akan menjadi perusak rumah tangga orang seperti di film-film. Attar pun menggelengkan kepalanya, menepis hal buruk terhadap adiknya.
"Axel?" panggil Attar.
Attar mendekat ke arah Malik dan Aleta. Attar menciumi pipi gembul anaknya. Terus Attar menggendong Axel dan membawanya pergi.
"Kak, mau dibawa kemana, Axel?" protes Aleta.
Namun Attar tak menggubrisnya, pria itu sengaja membawa Axel. Agar mereka menjadi lebih dekat dan berbincang dan Axel tidak menjadi alasan untuk Malik. Biar Malik berusaha mendekatkan diri pada Aleta, itu pikir Attar.
Pada akhirnya, Aleta juga malah pergi. Attar sudah salah menilai Aleta, ia kira Aleta juga ada rasa pada Malik. Jadi rencana mendekatkan Malik dengan Aleta malah gagal, karena tidak adanya rasa pada Malik, Aleta tak menghiraukan Malik yang sedang bersamanya.
Ketika Aleta pergi, gadis itu di cegat oleh Khai, Aleta beringsut mundur. Karena tatapan Khai sangatlah menakutkan bagi Aleta. Aleta mencoba menghindar dari Khai, namun Khai tetap menghalangi jalan Aleta.
Tidak disangka aksi Khai diketahui oleh Dam. Dam rasa Khai mengganggu Aleta, bisa dilihat dari ekspresi Aleta, bahwa Aleta sangat terganggu. Dam pun mencoba menghentikan perbuatan Khai.
"Kenapa menghalangi jalan Aleta?" tanya Dam pada Khai.
Aleta terdiam ketika Dam datang, apa maksud pria itu? Apa Dam mencoba menolongnya? Pikir Aleta. Malah Aleta lebih takut akan Dam, Aleta takut ada yang curiga akan hubungannya dengan Dam. Jujur Dam tidak suka jika Aleta diganggu seperti itu. Tapi dengan seperti itu malah menimbulkan kecurigaan bagi Khai.
"Kenapa, Dam? Kamu jangan ikut campur!" kata Khai. "Aku jadi curiga, apa kalian ada hubungan? Apa lagi waktu aku tahu, wanita itu keluar dari ruang kerjamu." Khai mengatakan akan kecurigaannya, dan itu membuat Dam tak berkutik. Dam membisu tak bisa menjawab.
Dari kejauhan, Attar melihat Aleta yang sedang direbutin oleh dua pria, dan piks. Attar akan melanjutkan idenya untuk mencari jodoh untuk Aleta.
"Aleta?" panggil Attar.
Karena Aleta dipanggil kakaknya, akhirnya Aleta bisa terlepas dari pria-pria itu. Akan lebih baik jika Aleta pergi, Attar tidak ingin Alea tahu dengan sikap suaminya yang sok menjadi pahlawan bagi Aleta.
***
Hingga waktu begitu cepat berlalu.
Kini tiba saatnya acara resepsi pernikahan Dam dan Alea yang digelar di hotel berbintang.
bersambung.
__ADS_1