
"Kenapa menangis?" tanya Dam.
"Kamu pasti kecewa padaku 'kan?"
Dam mengerutkan keningnya bingung. "Untuk apa aku kecewa? Bukankah kita hanya menunggu waktunya saja, suatu saat nanti dia pasti tumbuh di rahimmu." Dam memeluk tubuh Alea begitu erat. seolah memberikan semangat untuknya. "Tidurlah." Dam menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya. Mereka pun tertidur.
***
"Turunin gak!" Malik tengah menggendong istrinya, ia begitu gemas karena Aleta sejak tadi terus menggodanya.
"Gak!" Malik tak akan melepaskan wanitanya malam ini. Ia merebehakan tubuh istrinya dengan pelan. "Aku mau kamu memakai ini." Malik mengambil baju yang ia pilihkan tadi.
Aleta menggeleng, untuk apa ia membuka baju dan menggantinya dengan baju ini? Kalau pada akhirnya, suaminya tetap membukanya. Aleta malah memilih membulatkan sekujur tubuhnya. Aleta akan mengabulkan permintaan suaminya.
Satu persatu, ia lucuti baju suaminya. Malik semakin mendesir, kala Aleta menggigit kecil telinganya.
"Samakin hari, kamu semakin pintar, sayang," puji Malik. Tak hanya di situ, Malik semakin memekik kala Aleta sudah mendaratkan kul*mannya di kepemilikannya.
"Sayang ..." Malik begitu menikmati permainan lidah istrinya. Dari mana istrinya itu belajar seperti ini? Sayang, Malik semakin tidak bisa berpikir. Aleta benar-benar memanjakan suaminya, setelah merasa puas dengan mainannya, Aleta berdiri. Ia tautkan bibirnya di bibir suaminya. Pergelutan keduanya semakin menjadi.
Berakhir di atas ranjang. Malik yang memegang kendali, ia sudah tidak bisa lagi menahannya. Pemanasan yang dibuat Aleta cukup membangkitkan gairahnya.
Malik mengerang hebat, Aleta juga sudah dibuat terkapar olehnya. Mereka langsung terjun kedunia mimipinya.
Keesokan paginya.
"Sayang ..." Malik memanggil istrinya.
"Apa? Pagi-pagi sudah teriak-teriak."
"Tolong carikan dasiku." Malik sedang dikejar waktu, pagi ini ia akan ke kantor. Mulai hidup sebagai pimpinan, kalau pemimpinnya seperti ini bagaimana ia memberikan contoh yang baik untuk para karyawannya.
"Suruh siapa semalam begadang?" Bukannya membantu, Aleta malah mengomel.
"Ayolah ... Bantu aku." Karena ia sedang repot, belum lagi memakai sepatunya. Malik jadi semakin tidak karuan.
"Sini." Aleta langsung mengayunkan sebuah dasi di leher suaminya, memakaikan dasinya dengan rapi. "Sudah," kata Aleta, ia sedikit mundur ke belakang, tengah mengamati suaminya. Tangannya menyentuh dagu seraya memikir. Seperti ada yang kurang, tapi apa? Aleta bergelut dengan pemikirannya sendiri. Tapi, suaminya sudah terlihat tampan, ia rasa sudah cukup.
"Apa penampilanku sudah ok?"
__ADS_1
Aleta mengangguk. "Suamiku sudah tampan. Hanya satu yang kurang."
"Apa yang kurang?" Malik begitu penasaran.
Aleta mendekat.
Cup ... Sebuah kecupan mendarat dikedua pipi Malik. "Sudah tidak ada yang kurang untuk saat ini," ucap Aleta setelah memberikan pelengkap hidup suaminya. Tentu, ini menjadi penyemangat bagi Malik.
"Aku berangkat dulu ya, sayang. Hari ini aku pasti sibuk di kantor, dan pasti pulang telat. Kamu tidak usah menungguku, ya? Kalau ngantuk tidur duluan saja." Sebelum pergi Malik mencium kening istrinya. Aleta pun mengantar suaminya sampai depan rumah.
"Besok kita periksa kandunganmu ya?" kata Malik sebelum menaiki mobil miliknya. Dan Aleta mengangguk. Aleta mengayunkan tangannya ke arah mobil yang sudah mulai melaju. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam. Ia mendapati ibu mertuanya.
"Al, suamimu sudah berangkat?" tanya Frita.
"Sudah, Ma. Baru saja," jawab Aleta.
"Sudah minum susu?" Aleta menggeleng. Suaminya tadi kesiangan jadi tidak sempat membuatkan susu untuknya.
"Mama buatkan ya?"
"Tidak usah, Ma. Mama istirahat saja, Mama 'kan kemarin baru pulang dari rumah sakit. Aku bisa membuatnya sendiri." Setelah itu, Aleta pun pergi ke dapur. Membuat susu untuknya, ia juga ingat kalau suaminya belum sarapan.
"Aku buatkan makan siang aja deh," ucap Aleta sendiri. Padahal, ia tak bisa memasak. Namun ia akan mencobanya.
"Kamu sedang apa, sayang?" Pertanyaan Frita membuat Aleta terkejut, sampai tangannya ikut teriris. Aleta mengaduh, sontak membuat Frita menjadi panik. "Kamu kenapa? Itu pasti sakit." Aleta pun sedikit meringis. Ini kali pertama ia bergelut di dapur.
Frita memanggil asistennya. "Mira, Mira ..."
Tak lama, Mira pun datang. "Iya, Nyonya."
"Ambil P3K, cepat!" Frita melihat darah segar mengalir dari tangan menantunya. ia jadi merasa bersalah karena ini gara-garanya Aleta jadi terluka.
***
"Maafkan Mama, ya? Mama gak nyangka kalau pertanyaan Mama membuatmu terkejut." ucap Frita seraya membersihkan luka di tangan Aleta.
"Ini bukan salah Mama, akunya saja yang kurang hati-hati." Aleta merasa hatinya menghangat kala didekat ibu mertuanya. Ia rindu sosok ibu, da Aleta malah menangis.
"Apa ini sakit?" Frita melihat menantunya menangis, ia kira karena luka di tangannya. Namun nyatanya bukan, setelah mendengar penjelasan Aleta ia menjadi kasian. Frita memeluk tubuh menantunya seraya mengusap lembut punggungnya.
__ADS_1
"Tadi di dapur mau buat apa? Bilang pada Mama atau Mira jika kamu menginginkan sesuatu. Tentu kami akan mengabulkannya."
"Beruntung sekali aku manikah dengan Malik. Mamanya sangat baik padaku." Aleta sangat bahagia berada di tengah-tengah keluarga suaminya.
"Kenapa bengung?" Frita takut kalau menantunya itu tengah ngidam dan Aleta tak berani mengungkapkan keinginannya.
"Aku tidak menginginkan sesuatu, Ma. Tadinya aku mau membuatkan makan siang untuk Malik, tadi dia belum sempat sarapan," jelas Aleta.
"Menantu Mama perhatian sekali. Gak usah repot-repot, di kantor sudah menyediakan makan siang untuknya. Tidak perlu khawatir ya? Ngomong-ngomong berapa usia kandunganmu?"
"Mau tiga bulan, Ma."
"Tapi udah kelihatan besar ya. Apa sudah periksa? Siapa tahu itu kembar. Malik 'kan ada gen kembar."
"Kembar?" Aleta mengulangi ucapan Frita.
"Iya kembar, semoga saja kembar. Biar rumah ini semakin ramai."
"Dulu pernah USG, tapi Dokter tidak bilang kalau aku hamil anak kembar," jelas Aleta.
"Dokternya pasti keliru, atau memang belum ketahuan hasilnya. Apa kamu mau periksa sekarang? Mama temenin."
"Aku dan Malik sudah merencanakannya, niatnya besok aku periksanya."
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Jangan mengerjakan pekerjaan pembantu."
Setelah itu, Aleta pun pergi ke kamar. Ia rebahan di atas kasur sambil memainkan benda pipih miliknya. Banyak sekali pesan yang masuk, banyak orang yang membutuhkan jasanya. Karena Aleta pengacara handal di Amerika, tapi sayang, Aleta sudah tidak mungkin lagi terjun ke dunia itu. Malik melarang keras dirinya untuk bekerja, asik dengan ponselnya, tak terasa Aleta malah tertidur.
Di kantor.
Moreno sudah mengenalkan anaknya sebagai pemimpin yang baru pada seluruh karyawan di sana. Dan sekarang mereka sedang menunggu kedatangan tamu dari perusahaan yang berniat kerja sama dengannya.
Ketika Malik dan Moreno sedang berbincang mengenai perusahaannya, tiba-tiba sekretaris Moreno datang menghampiri mereka.
"Tuan, tamunya sudah datang. Mereka ada di ruang meeting," jelas sekretaris yang bernama Jay.
"Bilang pada mereka, tunggu sebentar," sahut Moreno. Jay pun undur diri dari ruangan itu. wJay kembali ke ruang meeting.
"Tunggu sebentar ya, Tuan. Tuan Moreno dan Tuan Malik segera kesini," jelas Jay pada tamu itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian Moreno dan Malik tiba di ruang *m*eeting. Setibanya di sana, Malik sangat terkejut mendapati sosok yang sudah tak asing baginya.
Bersambung.