SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Prolog [Selesai Revisi]


__ADS_3

Pada malam hari.


Stevan sedang makan malam bersama Ayah dan Bundanya. Namun, tidak ada satupun obrolan yang mereka bicarakan dan ketiganya hanya diam sembari menyantap hidangan.


“Van, kapan kamu mau menikah?” tanya Bunda mencoba memecahkan keheningan.


“Belum tahu, Bun. Stevan masih mau sendiri sampai waktu yang tepat,” jawab Stevan seraya menyantap makanan.


“Waktu yang tepatnya kapan? Usia kamu sudah matang untuk menikah. Lagi pula, kamu saja tidak punya pacar. Bagaimana mau menikah?” tanya Ayah menyahuti Stevan.


“Bisa enggak sih? Enggak usah bahas tentang pernikahan, gue tuh capek ditanya kapan menikah terus!” jawab Stevan dengan suara membentak.


“Teman-teman Ayah sudah memiliki cucu. Ayah dan Bunda juga ingin merasakan menggendong cucu,” ucap Ayah tidak gentar dengan bentakan Stevan.


“Lu asuh saja anak panti asuhan. Ngapain maksa gue buat nikah? Gue bukan boneka yang bisa lu suruh!” seru Stevan.


Stevan melontarkan tatapan tajam kepada Ayahnya, kemudian Stevan berdiri dan berjalan meninggalkan orangtuanya. Stevan malas berada di dekat orangtuanya karena mereka selalu menanyakan pertanyaan yang sama, Stevan tahu usianya sudah matang untuk menikah tetapi dia belum menemukan wanita yang tepat untuk dijadikan istrinya.


Stevan berlari menaiki anak tangga, lalu Stevan masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua. Stevan menutup rapat pintunya dan bersiap-siap untuk pergi ke club malam bersama teman-temannya.


Stevan memakai jaketnya, lalu Stevan membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju keluar kamar. Stevan hendak menuruni anak tangga tapi tiba-tiba Ayahnya datang dan menghalangi jalan Stevan.

__ADS_1


“Mau ke mana kamu?” tanya Ayah seraya melontarkan ekspresi datar.


“Bukan urusan lu,” ketus Stevan.


Stevan hendak melewati Ayahnya, tetapi Ayahnya mencengkeram kuat tangan Stevan.


“Kamu tidak boleh pergi ke club malam!” tegas Ayahnya.


“Kenapa? Gue sudah dewasa dan bebas melakukan apapun yang gue mau. Lagian lu enggak berhak untuk melarang gue,” sahut Stevan tidak terima dengan larangan Ayah.


“Tapi gara-gara itu kepribadian kamu semakin buruk. Kamu selalu pulang dalam kondisi mabuk, bahkan tidur dengan wanita yang berstatus bukan mahram kamu.”


“Kembali ke kamar,” titah Ayahnya.


“Tidak mau!” tegas Stevan.


Stevan menarik paksa tangannya dan hendak menuruni anak tangga. Namun, tiba-tiba Ayahnya menarik baju dan melemparnya hingga tersungkur ke lantainya.


“Jadi lu mau main kasar sama gue?” Stevan bertanya dengan ekspresi menantang. “Baiklah, akan gue kabulkan.”


Stevan kembali berdiri tegak, lalu Stevan memukul Ayahnya tapi Ayahnya mampu menangkis pukulan Stevan dan Ayahnya menendang wajah Stevan.

__ADS_1


“Anak kurang ajar! Kamu tidak pantas menjadi anakku. Selama ini kamu selalu membuat saya malu,” ucap Ayahnya.


“Siapa juga yang mau jadi anak lu? Kalau boleh pilih, lebih baik gue enggak lahir daripada jadi anak lu!” seru Stevan.


Tanpa aba-aba Stevan langsung menendang perut Ayahnya, lalu Stevan memukul Ayahnya secara membabi buta.


Stevan tidak merasa gentar. Stevan semakin tertarik melawan laki-laki tua yang selama ini dia panggil Ayah. Ya Ayahnya yang sangat menyebalkan dan sok bijak membuat Stevan malas berinteraksi dengannya.


“Selama ini gue sudah sabar sama lu tapi sekarang tidak lagi!” tegas Stevan.


Stevan mencekik Ayahnya, lalu Stevan mengangkat tubuh Ayahnya dan membantingnya hingga membentur lantai.


Seketika Ayahnya terkapar tidak berdaya di lantai dalam kondisi terluka parah tapi tatapannya masih tertuju pada Stevan yang tega membantingnya hingga terluka.


“Kamu tega seperti ini dengan Ayahmu sendiri?” tanya Ayahnya dengan suara menahan sakit bercampur kecewa.


“Siapa suruh menantang gue? Lagi pula kalau lu mati berarti gue dapat warisan jadi lu mati saja karena kehadiran lu enggak dibutuhkan di sini,” jawab Stevan seraya tersenyum licik.


Stevan kembali melangkah dan menuruni anak tangga. Stevan meninggalkan Ayahnya dalam kondisi terluka parah, selama ini Stevan menghormati Ayahnya atas perintah sang Bunda. Namun, Ayahnya justru tidak tahu dan mencari masalah dengannya.


Sejak kecil, Stevan memang tidak dekat dengan Ayahnya. Apalagi semenjak Ayahnya menikah lagi dengan sekretaris di kantornya, Stevan semakin membenci Ayahnya dan berharap Ayahnya cepat mati supaya tidak mengganggu dia dengan Bundanya.

__ADS_1


__ADS_2