![SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/suamiku-bos-mafia--revisi-.webp)
Stevan mengantar Adel menuju rumahnya. Namun sepanjang perjalanan, Adel hanya menatap jendela mobil dan tidak berbicara sedikitpun kepada Stevan hingga membuat suasana dalam mobil pun menjadi hening.
“Dia sebenarnya kenapa? Perempuan lain sampai mohon-mohon nebeng sama gue tapi dia justru mengabaikan gue,” batin Stevan.
Stevan merasa bingung dengan sikap Adel, tidak seperti biasanya dia diabaikan begitu. Namun, itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Stevan dan Stevan akan berusaha untuk mendapatkan perhatian Adel.
“Kamu suka lagu apa?” tanya Stevan, tetapi tidak ada jawaban. Adel tetap terdiam hingga mereka sampai di depan sebuah rumah yang terlihat sangat kumuh.
Di depan rumah tersebut banyak ayam-ayam berkeliaran dan ada kotoran-kotoran ayam hingga kucing di sekitar jalannya.
“Ini rumah kamu?” tanya Stevan.
“Iya,” jawab Adel datar.
Stevan langsung memarkirkan mobilnya dan bergegas keluar dari mobil, Stevan ingin membukakan pintu untuk Adel tetapi Adel sudah keluar lebih dulu.
Adel berjalan menuju rumahnya, sedangkan Stevan mengikuti Adel dari belakang. Adel dan Stevan melihat ada beberapa orang bertampang sangar berdiri di depan pintu dan kedatangan mereka sudah disambut oleh tatapan tajam dari orang-orang tersebut.
“Mereka siapa?” tanya Stevan.
“Penagih utang,” jawab Adel.
Adel terus melangkah tanpa rasa takut sedikitpun, ia sudah biasa adu mulut dengan debcolettor itu bahkan hingga adu fisik.
“Mana uangnya? Lu sudah telat 3 hari,” ucap debcolettor menghampiri Adel.
__ADS_1
“Saya belum ada uang. Tas saya dijambret orang,” sahut Adel.
Adel berdiri di depan pintu dan hendak membuka pintunya. Namun, tiba-tiba debcolettor itu menarik lengan Adel.
“Lu ingat kesepakatan kita, kan? Kalau lu telat bayar, rumah ini gua sita!” seru debcolettor itu dengan suara meninggi.
“Tapi gue belum ada duit dan lu juga enggak bisa sita rumah ini karena sertifikat dan kuncinya ada di tangan gue,” ucap Adel.
“Serahkan kunci rumah ini!” pinta debcolettor.
Debcolettor tersebut menarik tangan Adel dan mencari kunci rumahnya, sedangkan Adel berusaha untuk menyembunyikan kunci itu.
“Lepaskan!” teriak Adel memberontak. Adel memukul salah satu debcolettor itu tapi tiba-tiba debcolettor lain menendang Adel dan membuatnya tersungkur ke lantai.
“Adel!” Stevan langsung berlari menghampiri Adel dan menendang debcolettor tersebut.
“Aku baik-baik saja,” jawab Adel.
“Kamu mundur biar aku yang menghadapi mereka,” ucap Stevan.
Stevan berdiri berhadapan dengan ketiga debcolettor yang bersiap-siap mengambil kunci rumah Adel, sedangkan ketiga debcolettor itu menertawai Stevan.
“Lihat ada pahlawan kesiangan, sok-sokan dia mau melawan kita.” Ketiga debcolettor itu merendahkan Stevan, sementara Stevan terdiam sembari mengepalkan tangan.
“Minggir lu! Urusan kita cuman sama dia!” seru debcolettor itu seraya menunjuk Adel.
__ADS_1
“Urusan dia, urusan gue juga,” sahut Stevan.
“Halah, bocah kemarin sore!”
Ketiga debcolettor itu menyerang Stevan, kedua debcolettor itu hendak memukul Stevan tetapi Stevan menangkis pukulan mereka dan memelintir tangannya.
Satu debcolettor lagi hendak memukul kepala Stevan, tetapi Stevan menendang perutnya dan membanting kedua debcolettor yang dipelintir olehnya secara bergantian.
“Bagaimana? Sudah puas bermain dengan saya?” tanya Stevan seraya tersenyum licik.
Stevan menghampiri ketiga debcolettor itu, lalu Stevan memberikan segepok uang kertas berwarna merah ke salah satu debcolettor.
“Ini yang kalian mau, kan?” tanya Stevan.
Ketiga debcolettor itu saling bertatapan, lalu salah satu dari mereka menerima uang pemberian Stevan.
“Masalahnya sudah selesai. Cepat pergi dari sini, jangan ganggu Adel lagi!” usir Stevan.
Ketiga debcolettor itu bergegas pergi meninggalkan rumah Adel. Mereka sudah mendapatkan uangnya dan mereka juga tidak mau berhadapan dengan Stevan lagi.
Adel menghampiri Stevan dan memeriksa luka yang terdapat di tangan Stevan. “Tangan lu enggak sakit?” tanya Adel.
Stevan terdiam memandang Adel, lalu tiba-tiba Stevan menjerit. “Aduh, sakit! Kayaknya gue mau mati nih,” ucap Stevan seraya merintih kesakitan.
Adel menatap sinis Stevan, lalu Adel menoyor kepala Stevan. “Dasar sinting! Gue enggak sebodoh itu kali,” ucap Adel.
__ADS_1
Adel membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam meninggalkan Stevan sendiri di luar, sedangkan Stevan langsung menghela napas karena dia gagal mendapat perhatian Adel.